Setuju! Sekolah Lebih Pagi

Kompas.com - 24/01/2008, 00:00 WIB

JAKARTA, RABU - Sejumlah guru dan siswa sekolah menyambut baik rencana pemerintah DKI yang akan memajukan jam belajar siswa di sekolah. Dengan jam belajar yang lebih pagi, mereka terhindar dari kemacetan, siswa dapat menerima pelajaran dengan pikiran segar. Sedangkan sekolah bisa memberi pelajaran dengan maksimal ke peserta didiknya.

"Setuju banget jam belajar lebih pagi," ucap guru SMAN 6, Bulungan, Suhendi, Rabu (23/1).

Gubernur Fauzi Bowo, Selasa, menyatakan, pemda sedang mengkaji rencana untuk mengubah waktu kegiatan masyarakat untuk mengurangi kemacetan. Perubahan itu mungkin akan dilakukan terhadap jam sekolah, dan jam kerja Pemda DKI. 

Menurut  Suhendi, bila siswa atau guru berangkat ke sekolah lebih pagi, perjalanan lebih lancar. "Pagi-pagi belum banyak kemacetan, fisik segar, pikiran juga segar," ucapnya.

Di SMAN 6, kata Suhendi, pelajaran sekolah dimulai pukul 06.55. Tapi, sekolah masih memberi toleransi bagi siswa yang telat hingga pukul 07.10. Bila, datang di atas jam 07.10, siswa tidak diperbolehkan masuk sekolah dan orangtuanya akan mendapat surat pemberitahuan dari sekolah.

"Setiap hari masih ada saja yang terlambat, bahkan rata-rata 10 orang yang tidak diperbolehkan masuk ke sekolah karena melewati batas toleransi," katanya.

Keterlambatan siswa itu umumnya disebabkan kemacetan atau bangun kesiangan. Keterlambatan bukan hanya terjadi pada siswa yang rumahnya jauh dari sekolah, seperti Bintaro, Depok, Bekasi, siswa yang tinggal di Jakarta juga banyak yang telat.

Bila pemerintah memberlakukan jam belajar lebih pagi, pukul 06.30 atau 06.45, Suhendi berharap siswanya tidak ada lagi yang mengalami kemacetan di jalan dan telat datang ke sekolah. "Kalau jam sekolah lebih pagi, pasti mereka berangkat dari rumah lebih pagi lagi dan tidak ada alasan macet di jalan," ucapnya.

Sudah lama

Di SMAN 28, Pasarminggu, jam belajar pukul 06.45 sudah diberlakukan sejak lama. Sehingga, jika pemerintah memajukan jam mulai belajar, bagi siswa sekolah ini tidak menjadi masalah.

Guru SMAN 26, Haderani Thalib mengaku lebih suka berangkat lebih pagi, karena perjalanan lebih lancar dan cepat. Seperti bila melewati jalan di Mampangprapatan, Pancoran, dan sekitar Pasarminggu, pada pagi hari tidak ada kemacetan.

"Kalau berangkat dari rumah jam setengah enam atau enam empat lima, pasti tidak kena macet. Tapi, kalau berangkat jam enam lima belas sudah macet di mana-mana, terutama di perempatan Ragunan," tuturnya.

Begitu juga di SMKN 30, Kebayoran Baru, jam belajar mulai pukul 06.30 sudah diterapkan sejak beberapa tahun lalu. "Kalau pemerintah ingin memberlakukan jam belajar lebih pagi, bagus juga. Pagi-pagi udara masih bersih, badan masih fresh, bisa belajar lebih tenang, belum bising mesin kendaraan," kata seorang murid SMKN 30, Surya.

Siswa kelas 3 jurusan restoran itu mengatakan, ia sudah terbiasa berangkat dari rumahnya di Bintaro pukul 05.00 dan sampai di sekolah pukul 06.15. "Kalau saya berangkat dari rumah jam setengah enam pagi, itu sudah pasti telat ke sekolah, sudah macet di mana-mana," ucapnya. (Warta Kota/tan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau