KARIMUN, KAMIS - Perayaan Tahun Baru Imlek bagi warga masyarakat Tionghoa merupakan momen untuk memohon pada Tuhan agar memperoleh kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
"Semua yang jelek-jelek harus ditinggalkan, termasuk emosi harus ditahan dulu hingga perayaan berlalu," ucap Dwi Untung, ketua Apindo Cabang Kabupaten Karimun, di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri, Kamis (7/2).
Dia menjelaskan, tujuannya agar wujud syukur dan harapan tahun ke depan bisa tercapai seperti mendapat rezeki lebih banyak, makmur, panjang umur dan kebahagiaan.
Tahun Baru Imlek juga sarana untuk silaturahmi dengan kerabat, tetangga dan kenalan.
Bagi dirinya, sudah menjadi tradisi, pada setiap perayaan berlangsung, pintu rumahnya terbuka lebar untuk menerima siapa saja untuk bertamu.
"Karena saat Imlek inilah kami beserta kerabat lainnya bisa berkumpul," ujarnya. Selain membuka rumah untuk tamu di malam perayaan, ia biasa bersantap di rumah Setelah selesai makan malam mereka begadang dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar."Tujuannya agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa," ucapnya.
Tujuh hari sesudah Imlek, dilakukan persembahyangan kepada Tuhan untuk memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki.
Hal yang sama juga dilakukan Law Bun Hian, tokoh masyarakat Meral. Ia juga membuka rumah bagi semua kenalannya yang lintasagama.
Ia mengawali hari pertama tahun baru dengan menerima penghormatan dari anak-anaknya, kemudian kerabat yang lebih muda memberikan penghormatan pada yang lebih tua.
Acara "soja" itu disertai ucapan selamat tahun baru dan dilanjutkan dengan makan bersama, kemudian membagi-bagi angpao untuk anak-anak, kerabat dan kenalannya.
Pemberian angpao dilakukan oleh orang yang sudah berkeluarga pada orang yang belum berkeluarga.
"Maksudnya agar ke depan mereka bisa hidup makmur, cepat dapat jodoh dan bahagia," jelasnya.
Dia mengatakan perayaan Tahun Baru Imlek memiliki makna untuk memanjatkan permohonan agar tahun berikutnya bisa memperoleh kesejahteraan, rezeki dan keberuntungan yang lebih baik lagi.
Agar permohonan terkabul mereka harus meminta restu dari orangtua atau orang yang dianggap lebih tua dengan meminta maaf atas kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya
Sedikitnya seribu lampion merah digantung di sepanjang jalan A Yani, Kecamatan Meral, Kabupaten Karimun. Lampion tersebut sengaja dipasang dua hari menjelang perayaan Imlek berlangsung.
Menurut Roslan, tokoh masyarakat Tionghoa, lampion itu digantung selama perayaan Imlek berlangsung dan bermakna harapan agar didatangi keberuntungan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang