JAKARTA, SENIN - Serangan brutal di pagi buta yang menyebabkan Presiden Timor Leste Ramos Horta tertembus dua peluru dari pemberontak, mendapat perhatian khusus pemerintah Indonesia. Melalui Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Indonesia pun melayangkan keprihatinan atas penembakan tersebut.
"Pemerintah Indonesia prihatin atas kejadian yang baru saja kita dengar. Pada pukul 4 pagi waktu Dili telah terjadi serangan di kediaman Presiden Ramos Horta. Dan, dalam serangan tersebut dapat dilaporkan Ramos Horta menderita luka-luka," kata Menlu Hassan Wirajuda sebelum mendampingi Presiden Yudhoyono menerima kunjungan Dubes RRC di kantor Presiden, Jakarta, Senin (11/2).
Menurut Menlu, dengan dua peluru yang mengenai tubuh Ramos Horta, pemerintah Indonesia berharap Ramos Horta memperoleh akses perawatan yang kemungkinan akan dievakuasi ke Darwin, Australia.
"Sehingga dengan begitu kita berharap yang bersangkutan dapat segera pulih," ungkapnya.
Lebih lanjut Menlu mengemukakan, serangan yang digalang Alfredo Renado menunjukkan bahwa situasi keamanan di Timor Leste mengalami gangguan. Bahkan gangguan ini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu.
"Dengan terjadinya peristiwa pembelotan oleh Alfredo Renado. Kita sebagai tetangga berharap situasi keamanan dapat dipulihkan," tuturnya.
Menlu mengemukakan, kendati telah dijaga pasukan keamanan PBB asal Australia dan New Zealand, serangan yang lansung ditujukan dan terjadi di kediaman Ramos Horta dan juga kediaman Xanana Gusmao, menunjukkan kerawanan bgitu besar dan terbuka terhadap keamanan kedua kepala negara dan pemerintahan.
Disinggung mengenai keamanan di pintu perbatasan, Menlu menyebut Indonesia akan turut memberikan suasana yang kondusif bagi pemulihan keamanan.
"Pengamanan itu termasuk pengamanan perbatasan kita yang sesungguhnya selama ini memang sangat tergantung pada kita karena dengan kelumpuhan tentara dan polisi Timor Leste dua tahun terakhir praktis memang yang menjaga keamanan perbatasan," jelasnya.
Pemerintah Indonesia, lanjut Menlu, tidak merasa khawatir dengan ketegangan yang berujung pada penembakan dua Kepala Pemerintahan di Timor Leste tersebut.
"Kita tidak khawatir dengan peristiwa seperti sekrang di Timor Leste bahwa keamanan perbatasan akan terganggu," ujarnya.
"Kita tidak khawatir dengan peristiwa seperti sekrang di Timor Leste bahwa keamanan perbatasan akan terganggu," ujarnya.
Menyangkut perlindungan terhadap WNI yang berada di Timor Leste, Menlu menegaskan, pemerintah Indonesia belum memberikan payung perlindungan kepada WNI.
becky_surya: "Tidak ada yang meminta perlindungan karena memang situasinya juga sudah dapat dikendalikan oleh pihak pasukan keamananAustralia dan New Zealand," katanya.
Menlu menyatakan, dari 3.000 WNI di Timor Leste, mereka ini sama sekali tidak terkena dampak negatif dari peristiwa itu. Tidak hanya itu, pemerintah menilai tidak akan eksodus besar-besaran dari penembakan Ramos Horta ini.
"Tidak ada rencana evakuasi karena lingkungannya sudah terkendali. Dengan kata lain tidak ada tanda-tanda menjurus ke situasi yang lebih buruk," tandasnya.(Persda Network/ade)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang