Indonesia Prihatinkan Tertembaknya Horta

Kompas.com - 11/02/2008, 11:39 WIB

JAKARTA, SENIN - Serangan brutal di pagi buta yang menyebabkan Presiden Timor Leste Ramos Horta tertembus dua peluru dari pemberontak, mendapat perhatian khusus pemerintah Indonesia. Melalui Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Indonesia pun melayangkan keprihatinan atas penembakan tersebut.

"Pemerintah Indonesia prihatin atas kejadian yang baru saja kita dengar. Pada pukul 4 pagi waktu Dili telah terjadi serangan di kediaman Presiden Ramos Horta. Dan, dalam serangan tersebut dapat dilaporkan Ramos Horta menderita luka-luka," kata Menlu Hassan Wirajuda sebelum mendampingi Presiden Yudhoyono menerima kunjungan Dubes RRC di kantor Presiden, Jakarta, Senin (11/2).


Menurut Menlu, dengan dua peluru yang mengenai tubuh Ramos Horta, pemerintah Indonesia berharap Ramos Horta memperoleh akses perawatan yang kemungkinan akan dievakuasi ke Darwin, Australia.

"Sehingga dengan begitu kita berharap yang bersangkutan dapat segera pulih," ungkapnya.

Lebih lanjut Menlu mengemukakan, serangan yang digalang Alfredo Renado menunjukkan bahwa situasi keamanan di Timor Leste mengalami gangguan. Bahkan gangguan ini sudah berlangsung sejak dua tahun lalu.

"Dengan terjadinya peristiwa pembelotan oleh Alfredo Renado. Kita sebagai tetangga berharap situasi keamanan dapat dipulihkan," tuturnya.

Menlu mengemukakan, kendati telah dijaga pasukan keamanan PBB asal Australia dan New Zealand, serangan yang lansung ditujukan dan terjadi di kediaman Ramos Horta dan juga kediaman Xanana Gusmao, menunjukkan kerawanan bgitu besar dan terbuka terhadap keamanan kedua kepala negara dan pemerintahan.

Disinggung mengenai keamanan di pintu perbatasan, Menlu menyebut Indonesia akan turut memberikan suasana yang kondusif bagi pemulihan keamanan.

"Pengamanan itu termasuk pengamanan perbatasan kita yang sesungguhnya selama ini memang sangat tergantung pada kita karena dengan kelumpuhan tentara dan polisi Timor Leste dua tahun terakhir praktis memang yang menjaga keamanan perbatasan," jelasnya.

Pemerintah Indonesia, lanjut Menlu, tidak merasa khawatir dengan ketegangan yang berujung pada penembakan dua Kepala Pemerintahan di Timor Leste tersebut.

"Kita tidak khawatir dengan peristiwa seperti sekrang di Timor Leste bahwa keamanan perbatasan akan terganggu," ujarnya.

"Kita tidak khawatir dengan peristiwa seperti sekrang di Timor Leste bahwa keamanan perbatasan akan terganggu," ujarnya.

Menyangkut perlindungan terhadap WNI yang berada di Timor Leste, Menlu menegaskan, pemerintah Indonesia belum memberikan payung perlindungan kepada WNI.
becky_surya: "Tidak ada yang meminta perlindungan karena memang situasinya juga sudah dapat dikendalikan oleh pihak pasukan keamananAustralia dan New Zealand," katanya.

Menlu menyatakan, dari 3.000 WNI di Timor Leste, mereka ini sama sekali tidak terkena dampak negatif dari peristiwa itu. Tidak hanya itu, pemerintah menilai tidak akan eksodus besar-besaran dari penembakan Ramos Horta ini.

"Tidak ada rencana evakuasi karena lingkungannya sudah terkendali. Dengan kata lain tidak ada tanda-tanda menjurus ke situasi yang lebih buruk," tandasnya.(Persda Network/ade)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau