Kubu Pro-Musharraf Kalah

Kompas.com - 19/02/2008, 12:30 WIB

ISLAMABAD, SELASA - Penghitungan suara sementara pemilu parlemen Pakistan, Selasa (19/2), menunjukkan, partai pro-Presiden Pervez Musharraf mengalami kekalahan. Sejumlah petinggi partai Liga Muslim Pakistan atau PML-Q yang mendukung Musharraf kehilangan kursi di parlemen.

Juru bicara PML-Q, Tariq Azeem, mengakui, oposisi Liga Muslim Pakistan (PML)-N pimpinan mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif meraih kemenangan besar. ”Hasil awal menunjukkan kemenangan besar bagi PML Nawaz Sharif,” katanya.

”Jika hasilnya sudah resmi, kami akan berperan sebagai oposisi seefektif mungkin,” ujar Azeem. Dia memberi selamat kepada kubu Sharif dan juga kepada Asif Ali Zardari yang kini memimpin Partai Rakyat Pakistan (PPP), partai yang pernah dipimpin mendiang Benazir Bhutto.

Surat kabar Dawn News dan Aaj TV, Selasa, melaporkan, pemimpin PML-Q Chaudhry Shujaat Hussain dan mantan Menteri Perkeretaapian Sheikh Rashid Ahmed, sekutu dekat Musharraf, kehilangan kursi mereka di Provinsi Punjab. Pejabat PML-Q juga telah mengonfirmasi kekalahan Hussain di kampung halamannya di Gujrat. Hussain kalah dari kandidat PPP.

”Hasilnya memang mengejutkan, sayangnya kami kalah dan faktor Nawaz Sharif memainkan peran penting dalam kekalahan kami,” kata pejabat senior PML-Q yang tidak disebutkan namanya. PML-N tampaknya meraih kemenangan besar di Punjab.

Level dukungan terhadap Sharif memang mengejutkan. Sharif hidup di pengasingan sejak tahun 2000 setelah digulingkan Musharraf dan baru kembali ke Pakistan tahun lalu. ”Kami menang di Punjab dan North West Frontiers. Ini adalah batu penjuru kampanye kami, yaitu untuk tidak bersepakat dengan diktator,” kata Siddiqul Farooq, juru bicara PML-N.

Komisi Pemilu mengumumkan hasil penghitungan untuk dua kursi di wilayah suku Bajaur dekat perbatasan Afganistan dengan kemenangan kandidat yang didukung PPP. Aaj TV juga melaporkan kekalahan Ahmed oleh kandidat yang didukung PML-N di kota Rawalpindi. PPP diperkirakan menang di Provinsi Sindh, basis tradisional Bhutto.

”Jika mereka (kubu Musharraf) kalah, saya merasa menang. Saya sangat optimistis karena cara rakyat memilih memperlihatkan mereka ingin demokrasi, bukan kediktatoran,” kata Imtiaz Ali, seorang pengacara di Peshawar.

Partisipasi rendah

Partisipasi pemilu parlemen kali ini diperkirakan hampir mencapai 42 persen. Sebanyak 81 juta pemilih berhak memberikan suara. Jumlah partisipasi pemilih tahun ini sama dengan pemilu tahun 2002. Pada pemilu tahun 1997, partisipasi pemilih hanya 37 persen.

Ayaz Baig, Ketua Komisi Pemilu di Punjab, provinsi terpadat di Pakistan, memperkirakan, partisipasi pemilih di wilayah ini hanya 30-40 persen, lebih rendah dibandingkan pemilu tahun 2002. Di Provinsi Baluchistan dan Sindh, partisipasi pemilih diperkirakan hanya sekitar 35 persen.

Di Lahore, dari 2.740 pemilih yang terdaftar di dua tempat pemungutan suara, hanya 760 orang atau 28 persen yang memberikan suara hingga pemungutan suara ditutup.

Rendahnya partisipasi pemilih dalam pemilu disebabkan ketakutan mereka menyusul serangkaian kekerasan yang mendera Pakistan sejak Benazir Bhutto terbunuh, 27 Desember 2007. Pemerintah Pakistan mengerahkan hingga 80.000 tentara dan polisi untuk mengamankan pemilu.

Tidak seperti yang ditakutkan, pemungutan suara berjalan lancar tanpa diwarnai kekerasan. Sehari sebelumnya, sebanyak 20 orang tewas, termasuk 15 aktivis PPP, dalam kekerasan terkait pemilu. Sedikitnya delapan bom meledak di wilayah barat laut dan barat daya Pakistan, tetapi tidak dilaporkan jatuhnya korban.

Suara dari rakyat yang simpati terhadap meninggalnya Benazir Bhutto diperkirakan bisa membantu PPP menguasai kursi terbanyak dari 324 kursi di Majelis Nasional. ”Suara saya adalah untuk PPP. Jika ada kecurangan kali ini, akan muncul reaksi yang mengerikan. Inilah sentimen bangsa ini,” kata Munir Ahmed Tariq, seorang pensiunan polisi di Nawab Shah.

PPP sendiri yakin bisa meraih suara mayoritas di parlemen. ”PPP akan memenangi mayoritas. Kami akan merangkul semua partai untuk membawa negara ini keluar dari krisis. Kami menyapu bersih Sindh,” kata Farzana Raja, juru bicara PPP, kepada AFP.

Banyak pengamat meragukan PPP bisa memenangi mayoritas suara. Mitra koalisi yang dibentuk PPP sangat penting bagi kelanjutan nasib Musharraf.

Analis mengatakan, Musharraf menginginkan koalisi antara PPP dan PML-Q yang bisa memperkuat posisi Musharraf. Benazir dan Musharraf dilaporkan pernah membicarakan kesepakatan pembagian kekuasaan menjelang pemilu.

Mimpi buruk

Koalisi antara PPP dan Sharif, yang digulingkan Musharraf dalam kudeta militer tahun 1999, adalah mimpi buruk Musharraf. Koalisi tersebut bisa mendepak Musharraf dari kursi presiden melalui pemakzulan atau cara-cara lain. Dukungan terhadap Musharraf merosot tajam menyusul pemberlakuan keadaan darurat, pemecatan hakim agung, dan pengekangan media.

Musharraf, melalui siaran di stasiun televisi milik pemerintah, Pakistan Television, berjanji akan bekerja dengan pemenang pemilu untuk membangun demokrasi di negara tersebut. ”Ini adalah suara rakyat. Semua pihak harus menerima hasilnya, termasuk saya sendiri,” katanya.

”Saya akan bekerja sama penuh sebagai presiden. Kebijakan konfrontatif harus diakhiri dan kita semua harus menuju kebijakan rekonsiliasi demi kepentingan Pakistan. Situasi menuntut demikian,” ujar Musharraf.

Kelompok oposisi menyatakan gembira dengan hasil awal pemilu, tetapi mereka masih antipati dengan janji Musharraf. ”Saya sangat senang, tetapi kami harus terus berjuang. Kita semua menghadapi persoalan serius: ekonomi, tatanan hukum, terorisme, yang 70 persen disebabkan oleh Presiden Musharraf. Dia harus menyingkir,” kata Farooq.

Oposisi telah memperingatkan bahwa pemerintah mencoba memanipulasi hasil pemungutan suara saat penghitungan. Mereka memperingatkan akan menggelar protes di jalan-jalan jika terjadi kecurangan dalam penghitungan suara.

Kelompok oposisi dan para pengamat mengklaim bahwa otoritas lokal telah menggunakan sumber-sumber negara untuk mendukung kandidat partai berkuasa. Klaim itu dibantah pemerintah yang menjanjikan pemilu berjalan bebas dan adil.

Senator AS Joe Bidden yang turut memantau jalannya pemilu di Pakistan mengatakan, jika terjadi kecurangan, pemilu Pakistan akan dinilai tidak kredibel dan berpotensi memicu kekerasan.

Hasil penghitungan suara final baru bisa diketahui hari Rabu (20/2) besok.

(ap/afp/reuters/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau