PHH Kota Bogor Tetap Potong Sapi, Cibinong dan Jonggol Tidak

Kompas.com - 20/02/2008, 21:05 WIB

BOGOR, RABU - Para pedagang daging di tiga pasar Kota Bogor tetap menjual komoditas daging sapi, Rabu. Sedangkan para pedagang daging di dua pasar besar di Kabupaten Bogor menutup kios dagingnya serta menempelkan selebaran berkop Asosiasi Pedagang Daging se-Jabodetabek, yang memohon pedagang daging untuk tidak berdagang selama tiga hari kedepan.

Sementara itu Kepala UPTD Rumah Potong Hewan Kota Bogor Sarif Hidayat mengatakan Selasa malam RPH-nya masih memotong sekitar 30 ekor sapi. Adapun Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Ikan, Dinas Perternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor, Soetrisno, men gungkapkan, RPH Cibinong Selasa malam tidak melakukan pemotongan hewan sedangkan RPH Galuga hanya memotong satu ekor kerbau.

Sepanjang siang tadi kami ke pasar-pasar, daging tetap mereka jual. Dari pembicaraan dengan para pedagang ternak dan daging, tidak ada rencana mereka untuk tidak memotong (sapi) Rabu malam ini, kata Sarif, kemarin sore.

Menurut Sarif, RPH-nya memotong 30 sampai 40 ekor sapi per hari. Sebanyak 70 persennya adalah untuk memenuhi kebutuhan pedagang bakso. Saya juga tidak menerima surat atau apapun dari APD se-Jabodetabek itu. Begitu juga para pedagang daging di Kota Bagor, tidak ada yang terima surat imbauan untuk tidak berdagang dari APD. "Memang tadi pagi ada anggota APD dari Bandung yang datang ke Pasar Anyar dan Bogor membagi-bagikan kaus dan mengajak demo ke Jakarta," katanya.

Edi (43), pedagang daging di Pasar Jambu Dua Kota Bogor, menuturkan, ia dan rekannya sesama pedagang daging di pasar tersebut tetap berjualan. Bos saya masih mengirim stok daging. Sehari saya bisa menjual 30 kilogram daging. Memang sekarang keuntungan sangat tipis. Tiap hari harga beli naik terus karena harga sapinya naik. Sedangkan harga jual ke kosumen tidak bisa dinaikan. Harga daging sebetulnya harus Rp 52 ribu per kg . Sekarang mau jual Rp 48.000 per kg saja susah, kata warga Ciomas itu.

Di Kota Bogor, harga daging sapi hidup pada awal Februari masih Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per kilogram. Sekarang mencapai Rp 18.500 sampai Rp 20.000 per kilogram. Sedangkan harga karkas (daging berikut tulang sapi hasil potong) pada awal Februari berkisar Rp 40.000 sampai Rp 42.000 per kilogram. Saat ini harga daging karkas mencapai Rp 45.000 sampai Rp 48 ribu per kilogram.  

Kepala Dinas Peridagangan, Perindustrian, dan Koperasi Kota Bogor, Rafinus Sukri, juga memastikan komoditas daging di pasar-pasar di Kota Bogor akan tetap tersedia. Tidak ada larangan orang untuk berdagang daging. Kalau ada orang-orang tertentu yang melarang apalagi sampai menyita daging para pedagang di pasar, justru orang itu telah melangar hukum." RPK kami setiap harinya memotong sapi 30 sampai 40 ekor, " katanya.

Adapun komoditas dagings api di Kabupaten Bogor, Rabu kemarin memang langka. Sekitar tiga puluh kios daging di Pasar Cibinong menutup gerainya da n pada setiap tiang kios, tertempel selebaran berkop APD se-Jabodetabek, imbauan untuk tidak berdagang daging selama tiga hari mulai kemarin. Hal yang sama juga terjadi pada pedagang daging di Pasar Citereup.

Halim (53), salah seorang pedagang daging di Pasar Cibinong, menuturkan, harga beli daging sapi saat ini sudah benar-benar tinggi. Saya dagang gading sudah delapan tahun lebih, baru kali ini harga daging menyusahkan pedagangnya, kata dia.

Awal Februari, kata Halim, harga daging karkas masih dibawah Rp 40.000 per kilogram, sekarang enggak kurang dari Rp 50.000 per kilogram. Begitu juga harga daging sapi hidup, sekarang sudah Rp 23.000 per kilogram, padahal dulunya masih bisa Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per kilogram, katanya bersungut-sungut.

Halim menyatakan ingin tahu benar mengapa hal tersebut bisa terjadi. Apa benar ada monopoli impor sapi dari Australia? Pemerintah harus melarang. Yang beli daging itu, bukan orang kaya semua. Tetapi juga para pedang kecil, sepe rti pedagang bakso, tukang soto. Kalau dagingnya mahal, bagaimana nasib usaha kecil mereka. Memang pemerintah mau kasih kerjaan, katanya.

Usep (52), pedagang toge di pasar itu juga uring-uringan kemarin. "Ini gara-gara tukang bakso enggak beli daging, toge saya belum laku, " katanya meratapi enam keranjang toge dagangannya.

Soetrisno, dari Dinas Perternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor mengatakan, dua RPH yanga da di kabupatennya memang pada Selasa malam tidak melakukan pemotongan sapi, sehingga sepanjang Rabu kemarin tidak ada daging di Pasaran Cibinong dan Pasar Citereup.

Namun demikian, di Pasar Ciawi masih banyak pedagang daging yang berjualan komoditas tersebut. Bahkan, dilaporkan pada UPTD pasar, seluruh pedagang daging di Pasar Cigombong, Caringin, Lewiliang, Jonggol, Cisarua, dan Parung tetap berdagang seperti hari biasa. Daging yang dijual mereka, didatankan dari RPH Cianjur atau daging boks eks impor.

Yang mogok dagang memang di Pasar Cibinong dan Citereup. Yang lainnya tidak. Namun kami mendapat informasi bahwa Kamis besok, mereka akan berdagang seperti biasanya dengan harapan harga daging yang mereka jual bisa Rp 52.000 per kilogram. Saat ini harga daging Rp 48.000 per kilogram, kata Soetrisno, Rabu siang.

Ia menambahkan, RPH Cibinong dan Galuga memang tidak melakukan pemotongan karena tidak ada pedagang yang memberi order memotong. Padahal setiap harinya RPG Cibinong memotong 25 sampai 30 ekor sapid an Galuga 2 smapai 5 ekor sapi.   

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau