Tren Indonesia untuk dijadikan sebagai basis produksi otomotif Jepang kian kuat. Satu per satu kepemilikan saham pemain lokal sebagai agen tunggal pemegang merek terus menciut, berpindah ke tangan prinsipal.
Pemain Jepang, dalam hal ini produsen pemilik merek, langsung memperbesar porsi sahamnya di agen tunggal pemegang merek (ATPM). Bersamaan dengan itu pula, mereka langsung mengendalikan produksinya di Indonesia. Sebut saja Suzuki, Mitsubishi, Nissan, Toyota, dan Daihatsu.
Campur tangan yang dilakukan para prinsipal ini tak hanya sebatas pada sisi produksi, tetapi juga penetrasi pasar. Dengan demikian, pasar lokal tetap dikuasai dan peluang masuk ke pasar global tetap besar.
Tren aliansi strategi ini membuktikan industri otomotif nasional tumbuh positif. Investasi para ATPM meningkat, volume pasar naik, jenis produk menjadi beragam dalam waktu yang cepat, dan kemampuan untuk masuk ke pasar lokal ataupun global menjadi semakin kuat.
Terbukti Suzuki tumbuh dan berkembang dengan jenis kendaraan minibus APV dan SUV Escudo, Nissan punya produk unggulan MPV Nissan Livina. Daihatsu juga membesar dengan produk kendaraan kecil Daihatsu Xenia ataupun Toyota Avanza, serta SUV Toyota Rush dan Daihatsu Terios.
Bahkan, melalui jejaring Toyota, Gran Max yang merupakan jenis kendaraan niaga mampu menembus pasar Jepang. Mereka dimasukkan ke dalam jejaring pasar Toyota Motor Company.
Kini giliran ATPM Isuzu yang melakukan aliansi strategis. ATPM ini dalam lima tahun terakhir seperti ”tidur panjang” dengan produk yang tidak banyak. Meskipun demikian, mereka berusaha bertahan secara alami dengan citra merek dan kekuatan pasar diesel yang selama ini masih ada. Terbukti, selama dua tahun terakhir itu mereka berhasil bertahan meskipun berbagai merek dan produk baru masuk ke pasar secara bertubi-tubi.
Kini peluang untuk tumbuh menjadi lebih besar lagi sangat mungkin, begitu PT Isuzu Motor Limited Jepang bersepakat menaikkan kepemilikannya di PT Pantja Motor, yang merupakan ATPM Isuzu di Indonesia.
Keterangan pers yang dirilis oleh Isuzu Jepang mengklarifikasi rencana aliansi strategi tersebut. President and Representative Director Isuzu Motor Limited Susumu Hosoi, President PT Arya Kharisma (AK)— 100 persen sahamnya dikuasai PT Astra International Tbk—Regina Octhory Sucianto, dan Itochu Coproration Eizo Kobayashi bersepakat melepaskan saham.
Dengan kesepakatan itu, saham Isuzu Jepang di PT Pantja Motor meningkat dari 12,5 persen menjadi 40 persen. Sebaliknya saham PT AK di Pantja Motor dari 65 persen dilepas 10 persen menjadi 50 persen. Itochu Corp dari 12,5 persen menjadi 0 persen dan sisanya 10 persen dikuasai pemerintah.
Komposisi ini akan mendorong prinsipal melakukan konsolidasi di industri manufakturnya sehingga memungkinkan PT Pantja Motor berkembang dengan baik. Kepemilikan saham yang hampir seimbang itu praktis akan membuat prinsipal campur tangan, baik dalam urusan pasar, jenis produk, ke mana investasi dikembangkan, termasuk layanan purnajualnya.
Saat dikonfirmasi kepada Presiden Direktur PT Pantja Motor Yohannes Nangoi, ia menjawab diplomatis. Saat ini memang ada pembicaraan ke arah yang lebih positif dengan pihak prinsipal. Pembicaraan itu menyangkut keinginan prinsipal terlibat lebih besar lagi dari sebelumnya. Keterlibatan tak hanya sebatas pada investasi dan pengembangan produk, tetapi juga strategi penguasaan pasar.
”Kami masih terus melakukan pembicaraan intensif, tetapi arahnya sudah positif. Hal ini merupakan kesempatan baik bagi ATPM untuk meningkatkan peluang penguasaan pasar dan teknologi. Apalagi kita melihat tren yang terus membaik di pasar kendaraan diesel. Hal itu dampak dari kondisi mikro ataupun makro-ekonomi,” kata Yohannes.
Bahkan, Yohannes yakin, jika terealisasi, industrinya akan berkembang kuat dan tidak mustahil menjadi basis produksi untuk kendaraan kategori II, seperti Isuzu Elf di pasar lokal ataupun ekspor melalui jejaring mereka.
Hal itu sangat mungkin, tambah CEO PT Astra International Tbk-Isuzu Sales Operation Djoni Bunarto. Pertama, pasar kendaraan Isuzu meningkat dari 16.605 unit pada tahun 2006 menjadi 18.270 unit pada tahun 2007.
Data pasar itu menjadi bukti bahwa Isuzu Diesel masih memiliki konsumen loyal yang besar. Keyakinan itu makin kuat karena data penjualan pada Januari 2008 mencapai 2.007 unit. Angka itu meningkat 752 unit dibandingkan dengan periode Januari 2007 yang mencapai 1.255 unit.
”Saya yakin, kami bisa lebih kuat lagi. Paling tidak tren harga minyak yang terus naik membuat pemerintah berwacana untuk menekan beban dengan melakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi. Ini peluang emas bagi kita,” kata Djoni.
Pada kondisi yang seperti itu masyarakat akan mencari produk yang paling ekonomis. Dalam arti, ekonomis dalam penggunaan bahan bakar, biaya perawatan, mesinnya andal, dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Optimisme bukan hal berlebihan. Paling tidak kepemilikan saham prinsipal yang lebih besar di ATPM dan berbagai faktor pendukung lain memungkinkan Isuzu diserap pasar lebih kuat lagi.
Fakta memperlihatkan, aliansi strategi di industri otomotif selalu memberikan efek positif. Tidak mustahil PT Pantja Motor makin berkembang setelah sekian tahun hanya bisa bertahan dengan produk yang apa adanya.
Mesin Diesel Isuzu bakal semakin panas dan siap menjadi musuh bagi pesaing di kendaraan niaga kategori II dan MPV. Efek positif ”memanasnya” mesin Isuzu adalah laju kinerja PT Astra International makin cepat. (ast)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang