Misteri Pengacara di Rumah Syamsul Nursalim

Kompas.com - 08/03/2008, 18:33 WIB


Laporan Wartawan Persda Network, Yuli Sulistyawan
PENANGKAPAN
jaksa Urip Tri Gunawan dan Arthalita Suryani di rumah Sjamsul Nursalim menyisakan misteri. Pengacara pada kantor pengacara Adnan Buyung Nasution and Partners yang dikabarkan berada di rumah Sjamsul Nursalim ketika terjadi penangkapan oleh KPK pada Minggu sore (2/3), sudah membuat bantahan.

Adalah anggota Komisi III DPR RI Gayus Lumbuun yang membuka informasi perihal adanya pengacara saat penangkapan Urip dan Arthalita dalam rapat kerja (Raker) antara Kejagung dengan Komisi III DPR RI hari Rabu lalu (5/3).

Kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji, Gayus meminta agar Kejagung turut membongkar siapa pengacara tersebut. Alasannya, KPK tidak terbuka atas keberadaan pengacara itu.

Sehari setelah Gayus berkoar-koar di DPR, nama pengacara yang tergabung dalam Adnan Buyung and Partners yakin Panji Prasetyo muncul. Pengacara muda yang pernah mendampingi mantan Dirut PT Jamsostek Ahmad Djunaidi dalam membongkar pemerasan Djunaidi oleh dua jaksa yakni Cecep Sunarto dan Burdju Ronni, menjadi kalang kabut.

"1000 persen informasi itu tidak benar," tegas Panji ketika itu.

Panji mengatakan, kalau pada Minggu sore itu, ia dan kawan-kawannya sedang bermain basket di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan dari pukul 17.00-19.00 WIB. Yang dilanjutkan dengan makan di restoran yang dekat dengan lapangan basket hingga pukul 20.00 WIB. Setelah itu, Panji pulang ke rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

Sumber Persda Network juga membenarkan bahwa Panji memang tidak berada di rumah Sjamsul Nursalim yang terletak di Jalan terusan Hang Lekir Kavling WG 9, Kebayoran, Jakarta Selatan.

"Kalau Panji, di sumpah pocong pun dia tak bakal mengaku ada di sana. Ia memang tidak berada saat Urip dan Arthalita ditangkap," jelas sumber yang tak mau disebut namanya tersebut.

Ia justru menyebut nama Ery Hertiawan. Ery juga pengacara di Adnan Buyung Nasution and Partners. Saat dikonfirmasi Persda Network pada Sabtu (8/3), Ery juga menyangkal.

"Ngak benar itu. Itu fitnah. Ngak benar lah. Saya ngak ada di sana. Hari Minggu sore itu, saya sedang main sedang anak-anak saya di rumah. Ngak benar. Saya punya bukti, saya punya saksi, pokoknya itu fitnah. nggak sesuai," tegas Ery.

Diakui Ery, hari Minggu itu istrinya memang sedang berada di Bali. Sehingga, dia lah yang bertugas menjaga anak-anak. "Saksinya, ada bapak-bapak tetangga saya," lanjut Ery yang juga tinggal di kawasan Bintaro.

Sehari Pasca penangkapan, keluarga Sjamsul Nursalim meminta kantornya untuk mencari informasi kejadian tersebut. Ery-lah yang ditunjuk. Hari Selasa, ia melakukan pertemuan dengan keluarga Sjamsul yang didampingi pengacara Maqdir Ismail. "Jadi saya ke sana itu setelah kejadian. Tanyakan saja ke pak Maqdir Ismail," tegasnya.

Kantor Adnan Buyung and Partners pun turut kelabakan. Rilis seputar bantahan keterlibatan pengacaranya dalam peristiwa itu pun disebarkan. "Kami dan seluruh advokad dari kantor kami sama sekali tidak terlibat atau diberitahu atau dimintakan pendapat mengenai pertemuan atau latar belakang pertemuan antara Jaksa Urip dan Artalyta," tulis Managing Partners Adnan Buyung & Partners, Nugrahaningrum dalam rilisnya.

Ketua KPK Antasari Azhar pun akhirnya buka suara setelah kabar tentang pengacara merebak. "Tim (penyidik) tidak melihat itu (pengacara saat pengkapan Urip dan Arhtalita). Tidak tahu apa sebelumnya ada. Maka, itu (pengacara) termasuk yang didalami," lanjut Antasari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau