Pedagang Kecil Menjadi Korban Fluktuasi Harga

Kompas.com - 10/03/2008, 19:53 WIB

BANDUNG, SENIN-Fluktuasi harga sejumlah bahan pokok yang tidak normal berimbas pada para pedagang kecil di pasar tradisional. Di saat harga melambung tinggi, mereka harus menambah modal dan d i saat harga turun mereka harus merugi karena harus mengikuti patokan harga baru yang harganya lebih rendah.

Saat harga minyak goreng melambung hingga Rp 13.500 per kilogram, Suhedi, seorang pedagang bahan pokok di Pasar Kosambi harus menambah modal sekitar Rp 1.000 per kilogram atau Rp 350.000 untuk total stok 3,5 kuintal selama seminggu.

Sedangkan, ketika harga minyak goreng turun, Suhedi kembali merugi sekitar Rp 385.000. Pasalnya, harga beli dari agen yang awalnya Rp 12.600 per kilogram, kini telah turun menjadi Rp 11.500 per kilogram. Penurunan harga Rp 1.100 per kilogram sangat terasa. Karena semua pedagang menurunkan harga, saya terpaksa mengikuti juga, tuturnya, Senin (10/3) di Bandung.

Untuk menghindari kerugian yang semakin banyak, Suhedi terpaksa menunda penurunan harga sekitar tiga hingga empat hari setelah agen mengumumkan penurunan harga. "Dengan menunda penurunan harga, setidaknya kerugian bisa ditekan hingga set engahnya. Tapi, bila semua penjual sudah mematok harga baru, kita tetap harus mengikuti juga," tambahnya.

Menurut Suhedi, kenaikan harga bahan pokok berlangsung silih berganti. Sesudah harga minyak goreng melambung, sejak dua hari lalu, harga telur pun naik dari Rp 10.500-Rp 11.500 tiap kilogram. Selain telur, harga mi instant juga naik Rp 4.000 per kotak isi 40 buah.

Andi, pedagang grosir bahan makanan di Pasar Cihapit mengaku bingung mematok harga baru karena kebanyakan pembeli di tempatnya adalah pedagang eceran yang menjual kembali dagangannya."Jika seharusnya harga naik Rp100 per buah, saya hanya menaikkan Rp 50 per buah agar mereka tetap mendapatkan untung. Resikonya, keuntungan saya minim dan bahkan kadang modal gak tertutup," ujarnya.

Harga beberapa bahan pokok di beberapa pasar tradisional Kota Bandung, seperti Pasar Ujung Berung, Pasar Kosambi, dan Pasar Cihapit masih tinggi . Di beberapa pasar itu, harga minyak goreng kualitas satu dan dua berkisar antara Rp 12.000- Rp 14.000 per kilogram, harga telur 11.500 per kilogram, terigu Rp 7.000-Rp 7.500 per kilogram, dan Mi instant Rp 40.250-Rp 42.000 tiap kotak.

Dari beberapa bahan itu, kenaikan harga dalam dua hari terakhir terjadi pada telur dari Rp 10.500 hingga Rp 11.500 per kilogram. Sedangkan, mulai satu hari lalu, harga Mi instant naik dari Rp 36.900 hingga Rp 42.000 per kotak.

Terjangkau dan kontinyu

Dalam rangka mengendalikan harga minyak goreng, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyediakan sekitar 30 juta liter minyak goreng untuk 26 kabupaten dan kota di seluruh Jabar. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Agus Gustiar menjanjikan operasi pasar minyak goreng dan pemberian subsidi minyak goreng Rp 2.500 tiap liter terlaksana pekan ini.

Menyikapi rencana ini, Suhedi mengungkapkan, harga minyak goreng akan stabil bila operasi pasar dilakukan secara kontinyu dan dalam kapasitas yang terjangkau oleh masyarakat kecil. "Jika tak ada pengaturan,maka yang menikmati justru mereka yang memiliki modal besar saja," tuturnya

Ketua Pusat Koperasi Pedagang Pasar (Puskoppas) Jawa Barat Usep Sumarno mengatakan, pemerintah memang harus turun tangan melakukan operasi pasar. Empat tahun lalu, pemerintah ikut berperan dalam menstabilkan harga bahan pokok, seperti minyak goreng, terigu, dan gula. "Sekarang, belum ada tindakan langsung ke pasar selain operasi beras," kata Usep.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta menambahkan, karena ketahanan pangan Indonesia lemah, pasar Indonesia masih sangat terpengaruh oleh fluktuasi harga luar negeri. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah khususnya Provinsi Jabar perlu membentuk rencana pengembangan sektor pertanian yang jelas.

Selain itu, pemerintah Jabar juga harus menindak tegas berbagai macam penyelundupan dan penimbunan bahan kebutuhan pokok oleh para pengepul. Sehingga, permainan harga tidak lagi terjadi.(A01)   

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau