BANYUASIN, RABU- Mengusir, apalagi membasmi buaya yang bermukim di kawasan sungai Batanghari Mukut, Desa Mukut (Pulaurimau), kecil kemungkinan berhasil. Warga desa diminta beradaptasi karena populasi mencapai puluhan atau bahkan ratusan, dan waspada agar tidak dimangsa. Keberadaan buaya bisa diketahui dengan menyaksikan gelembung air yang muncul di permukaan sungai dan bergerak.
Gelembung ini kecil-kecil membentuk garis, terutama pada aliran air yang lebih tenang. Tanda-tanda lain, pada malam hari keberadaan diketahui apabila muncul di permukaan. Matanya memancarkan warna merah apabila terkena sinar, dan ini bisa dilihat dari kejauhan. Buaya hanya muncul apabila lingkungannya tenang, dan akan menghilang ke bawah air apabila suara gaduh.
Perbincangan informal tim Sriwijaya Post dengan petugas BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel yang tergabung Tim Kabupaten Banyuasin, menyimpulkan warga harus bertindak rasional dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
"Warga hendaknya bertindak rasional, selebihnya bagaimana membangkitkan warga kembali hidup seperti biasa," ujar Berlianto SH, Kader Konservasi Alam Nasional tingkat madya. Berlianto tergabung dalam kelompok aktivis pencinta alam dan lingkungan hidup Gemapala Wigwam FH Unsri, selama tiga hari melakukan pemantauan di sepanjang DAS Batanghari Mukut bersama Sriwijaya Post, sejak hari Sabtu lalu.
Pemantauan dilakukan terutama di sepanjang sekitar 10 kilometer wilayah Desa Mukut. Sampai sejauh ini, warga hampir setiap hari menyaksikan buaya berukuran besar berkeliaran di sepanjang sungai.Terutama warga yang hilir-mudik menggunakan sampan.
Dipastikan, buaya yang menyerang empat warga Desa Mukut dan korban terakhir adalah Trisnawati (25) yang nyaris ditelan Rabu (5/3) pekan lalu. Korban selamat setelah terlepas dari mulut buaya yang diperkirakan mencapai 7 meter itu sempat memuntahkannya dan langsung diselamatkan Rohimah (50) ibu korban.
Selama tiga hari, pemantauan dilakukan sepanjang hari. Terutama pengamatan waktu sore hingga malam di sepanjang malam, saat peralihan waktu air pasang-surut. Hampir jarang buaya berkeliaran menjelang pagi sampai tengah hari. Belum ditemukan tempat-tempat buaya berjemur, walaupun masih terlihat jejak-jejak bekas buaya di pinggiran sungai yang berlumpur dan terbuka di sela-sela pohon nipah (Nypa fruticans Wurmb).
Tempat lain yang digemari buaya untuk beristirahat dan mencari makanan adalah di bawah pohon pidada (Sonneratia caseolaris). Pohon ini buahnya asam dan berbentuk bintang pada kelopak buahnya, dan menjadi tempat koloni monyet di DAS Mukut.
Menurut warga, buaya mencari mangsa sampai ke perkampungan penduduk dan menelan korban manusia, baru terjadi dua tahun terakhir. "Baru dua tahun terakhir ini buaya seperti bermusuhan.Setelah, ada buaya besar mati dan sisa-sisa bangkainya di buang begitu saja ke sungai," kata Suwanda (60), Ketua RT-05 yang dikenal sebagai "orang pintar".
Laki-laki ini berasal dari Banten (Jawa Barat), dan bermukim di Mukut sejak 1995 dan belum seramai seperti sekarang. Hal senada diungkapkan Latif (70), orangtua Trisnawati, sudah 35 tahun lebih di Mukut. Latif berasa dari Bone (Sulsel), termasuk generasi awal di perkampungan pinggir sungai itu.
"Mungking banyak masalah di sini, dulu tidak. Penduduk makin banyak, mereka buka sawa (bersawah). Ada perkampungan transmigrasi, itu ada kebung sawit katanya sepuluh ribu hektar lebih sedang dibangun. Termasuk hulu Sungai Mukut Lama, sungai itu kecil tapi dalam. Di situ dulu banyak buaya," kata Latif dengan aksen khas Sulawesi Selatan.
Di sepanjang DAS Mukut, akhir-akhir sudah jarang terlihat warga mencari ikan. Empang sungai dan tuguk jaring yang ditebar sering dipanen dan dijebol buaya. Menurut sejumlah warga, ikan sudah jarang apalagi banyak warga dari kampung lain menangkap ikan menggunakan setrum. Tradisi masyarakat pesisir, sungai dikuasai pengemin yang memenangkan lelang Pemerintahan Desa yang dilakukan setiap tahun.
Hasil tangkapan di wilayah Mukut, ini harus dijual ke pengemin termasuk tangkapan ikan yang ditangkap menggunakan setrum. Selama masih ada warga yang menyetrum, karena lebih efektif dan hasilnya banyak. Walaupun sebagian warga mengetahui cara seperti ini bukan hanya menangkap ikan besar, tetapi anak sampai telur ikan akan punah. Ketakutan warga turun ke sungai ini bukan hanya menimbulkan ketakutan warga.
"Pengemin bisa bangkrut ini, dak katek yang nyari iwak... rugi la dio (Tidak ada yang mencari ikan, pengemin bisa merugi)," kata Jumin (26), warga Desa --kecamatan-- Sumberharapan, sopir speedboat yang menyertai tim. (Sriwijaya Post/sutrisman/syaifuddin)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang