Somad Siap Telikung Buaya Mukut

Kompas.com - 14/03/2008, 07:08 WIB

Laporan Wartawan Sriwijaya Post Syamsul Hidayah

INDERALAYA,KAMIS- Rasa cemas dan mencekam warga Mukut karena kemunculan buaya mendorong Ahmad Somad, pawang buaya dari Pemulutan, Ogan Ilir untuk terjun langsung "mengamankan" kawasan itu dari gangguan buaya.

"Sebenarnya saya siap terjun, kalau diminta, tapi kalau tiba-tiba datang ke sana, nanti dikira pahlawan, saya tidak mau seperti itu," kata Somad merendah saat ditemui Sriwijaya post di kediamannya Desa Pemulutan Ilir, Kamis (13/3).

Ahmad Somad, kelahiran Desa Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OKI), 24 Maret 1957, sudah tak asing lagi mengatasi buaya-buaya yang mengamuk terutama di Sumsel dan Jambi. Tak hanya itu, Somad juga memiliki keahlian menyelam, mencari orang hilang atau tenggelam di dasar sungai.

Beberapa sungai di Sumsel sudah diselaminya. "Saya sudah mendengar adanya buaya yang mengamuk itu dan memakan warga, tapi sekali lagi, saya belum diminta, jadi tidak enak, kalau diminta saya bersedia, siap, tapi apakah warga sana mau menerima saya," ujarnya.

Informasi adanya pawang buaya Pemulutan sudah berada di Mukut, membuat dirinya bingung. Pasalnya, di Pemulutan, hanya dia dan pamannya Abdul Hamid, yang memiliki ilmu mengatasi buaya.

"Saya tidak tahu, pawang yang mana, yang disebut-sebut di koran itu," ujar dia. Menurut mata batin Somad, mengamuknya buaya di Mukut, disebabkan kawasan itu sudah "kotor". Ia tidak menjelaskan secara rinci pengertian "kotor" itu. Agar kawasan itu bersih, Somad berpendapat, perlu sedekah kampung. Dia sendiri -jika diminta- juga akan melakukan ritual dan akan berkomunikasi dengan buaya-buaya di Mukut.

Dia akan mendengar permintaan warga setempat, kawasan yang harus diamankan dari gangguan buaya. Kawasan itu akan disusurinya dengan perahu."Baru kemudian, saya akan menancapkan tonggak- tonggak, dengan mantera, bacaan-bacaan, buaya-buaya itu tak akan menggangu, jika buaya itu lewat tonggak itu, masih ingin menggangu, dia akan mati," kata pria yang juga pernah ikut membantu operasi pencarian dan pertolongan pesawat udara Silk Air Singapura yang jatuh di Perairan Sungsang, Muba, Desember 1997 lalu. Ia kala itu, termasuk yang membantu menemukan kotak hitam pesawat itu.

Pola demikian seringkali diterapkan Somad jika ada warga suatu kawasan yang ingin meminta bantuan dirinya seperti di Desa Tanjungkerang dan Desa Anyar Kecamatan Rambutan Banyuasin. "Kini desa itu aman dari gangguan hingga kini, nanti tahun depan saya kesana lagi, menancapkan tonggak lagi, karena perjanjiannya satu tahun, jadi tiap tahun saya kesana, sekalian sedekah kampung," katanya seraya menambahkan hingga kini dirinya masih melaksanakan sedekah kampung.

"Biasanya bulan maulid, saya sedekah," kata pria yang hanya lulusan SD. Menurut Somad, ia ikhlas menolong orang dan tidak mengharapkan imbalan atau memasang tarif. "Berapa pun orang mengasih imbalan harus kita terima dengan ikhlas," kata Somad, bapak enam anaki ni.

Ilmu pawang buaya itu, kisah Somad dari cerita nenek moyangnya secara turun temurun, beberapa puluh tahun yang lalu --sudah tujuh turunan, di Sungai Pemulutan yang lebarnya sekitar lima meter dan panjangnya puluhan kilometer-- bermuara ke Sungai Komering dihuni oleh seekor buaya yang sangat besar sekali.

Kala itu nenek moyangnya takut kalau buaya besar itu akan memangsa anak cucunya. Kebetulan di pinggir sungai tempat buaya itu ada sebatang pohon Jelutung, kemudian pohon itu ditebang dan ditatanya sehingga keluar getah. Pohon itu dilintangkan di tengah sungai dan saat buaya itu lewat di bawah pohon Jelutung itu buayanya lengket terkena getah pohon tersebut.

Nenek moyang orang Pemulutan itu, sewaktu hendak membunuh buaya itu, tiba-tiba datang buaya betina yang merupakan "isteri" buaya jantan terkena geta (pulut) itu, minta supaya buaya jantan itu jangan dibunuh. Buaya betina itu berjanji tidak akan mengganggu anak cucu --warga desa Pemulutan. Buaya itu juga berjanji jika dibutuhkan bantuannya, buaya itu siap dipanggil.

"Saat itu, nenek moyang orang kami ini mengetes buaya itu setiap minta antar ke seberang sungai buaya itu selalu muncul dan menyeberangkannya, " demikian Somad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau