Pre-Sepang: Berkaca dari Melbourne

Kompas.com - 21/03/2008, 01:06 WIB

Ferrari yg dulu terkenal dgn reliability-nya sekarang menjadi sebaliknya. Walau mobil mereka masih tergolong yg tercepat di grid, tapi soal daya tahan nanti dulu. Kapan terakhir kali mobil mereka rontok, dua mobil bahkan, sekaligus? Belum lama, GP Aussie 2006. Memang tak mudah meneruskan tradisi bagus. Satu masa transisi yang sukses dijalankan Ferrari hanya baru pada konsolidasi tim, belum pada kekuatan paket mobil.
 
Hasil GP Aussie 2008 sungguh mencengangkan melihat hanya 7 pembalap yang tergolong finis, sementara 15 lainnya tak menyentuh garis finis plus diskualifikasi. Kalaupun Kimi akhirnya disebut finis pada urutan ke-8, walau ia sebenarnya tak menyentuh garis finis. Namun Regulasi Lomba F-1 menyebutkan pembalap yg sudah menyelesaikan 90% dari total jarak lomba, dalam kasus GP Aussie adalah 53 dari 58 lap lomba. Kimi sendiri berhenti pada lap 55, jadi ketika Rubens Barrichello kena diskualifikasi ya dia berhak dinyatakan finis di urutan 8.
 
McLaren membuktikan mereka memang siap melupakan 2007. Penampilan cool Lewis Hamilton adalah highlight di Aussie. Walau safety car (SC) tiga kali menginterupsi, ia tetap tak kehilangan kontrol. Apalagi ia didukung oleh kesiapan McLaren untuk mengantisipasi masuknya SC ini. Dari sini sudah bisa dipastikan Lewis memang anak emas McLaren, karena strategi itu "tak dirancang" utk Heikki Kovalainen. Kalau bicara Heikki adalah anak baru di McLaren, ya terlihat wajar. Tapi bila berkaca dari kasus tahun lalu, ya jadi tidak wajar kalau Fernando Alonso dianaktirikan.

Tapi, sudahlah, McLaren berhak seperti itu karena mereka yang mendidik Hamilton sejak masih muda. Mereka ingin melahirkan juara dunia murni lahir dari tanah Inggris. Boleh percaya boleh tidak, walau McLaren adalah tim Inggris, tapi sejak James Hunt tahun 1976, belum pernah ada lagi juara dunia asal Inggris yang membawa mobil McLaren. Kalaupun ada Nigel Mansell dan Damon Hill, keduanya menggeber Williams saat jadi kampiun masing-masing tahun 1992 dan 1996. Makanya, start bagus memasuki 2008 ini akan dijadikan momentum kebangkitan serba-Inggris di F-1. Mereka tak peduli bahwa mesin yang dipakai adalah buatan Jerman, Mercy. Toh yang muncul ke permukaan adalah juara dunia pembalap dan konstruktor. Tak ada juara dunia mesin, ban, dll.
 
Lalu, adakah kaitan kegagalan Ferrari di Melbourne dengan ECU yang kini mesti standard dan FIA sudah setuju itu semua buatan McLaren? Ferrari sudah mengklaim tidak ada. Kegagalan ganda Ferrari di Albert Park adalah karena fuel-feed yang tak maksimal karena suhu panas yang di luar perkiraan mereka sebelumnya. Tak ada kaitannya dengan ECU, yang dengan sendirinya menggugurkan asumsi sabotase. Bagaimana dengan Malaysia, yang jelas-jelas bakal lebih panas sekaligus lembab dibanding Aussie? Ferrari tak khawatir karena masalah itu sudah terdeteksi. Mereka yakin tak akan terjadi hal serupa, walau suhu jauh lebih panas di Sepang.
 
SEPANG
Selebrasi 10 kali balapan di Sepang mendominasi promo mereka. Jangan bicara ramalan cuaca dulu, karena memang hujan diprediksi bakal turun. Tapi hangatnya persaingan walau baru memasuki seri kedua adalah menu utama di sana, terutama tanda tanya bisakah Ferrari comeback dari keterpurukan di Melbourne. Kalau melihat speed yang ada, di mana Kimi start dari posisi 15 dan bisa langsung menyodok 8 besar hanya dalam 1 lap dengan bahan bakar yang lebih banyak dibanding pembalap-pembalap di depannya, tampaknya Ferrari tak perlu khawatir soal speed ini. Kubu McLaren sendiri sudah mewanti-wanti bahwa Ferrari akan tetap jadi batu sandungan mereka di Malaysia. Jangan pernah anggap enteng Ferrari, mereka seperti menasihati diri mereka sendiri. Apalagi kedua pembalap Ferrari diizinkan menggunakan mesin dan girboks baru, karena mereka tidak menyentuh garis finis di Aussie. Sementara itu McLaren dipastikan akan menggunakan mesin yg sama seperti di Melbourne.
 
56 lap balapan di Sepang amat menguras tenaga, walau hujan katakanlah ikut datang "membantu". Kelembaban menambah parah kondisi buat sebagian besar pembalap. Kalau sekadar panas, di Aussie mereka sudah merasakannya. Trek ini tergolong medium, tapi ban yang akan digunakan berbeda dengan yang dipakai di Australia. Bila di Aussie ban soft dan medium yang dipakai, maka di Sepang ban medium dan hard yang digunakan. Ban akan bekerja lebih keras bukan hanya karena suhu panas, tapi juga layout sirkuit yang memang menuntut hal itu. Selain ada beberapa tikungan cepat, ada pula dua trek lurus yang panjang yang mesti diikuti dengan pengereman yang hebat. Di situlah kenapa ban akan bekerja amat keras. Makanya, tingkat keausan ban harus lebih tinggi ketimbang di Aussie. Jadilah Bridgestone membawa medium sebagai ban paling lunak, bukan soft seperti di Melbourne.
 
Satu hal yang mungkin akan berbeda antara Sepang dan Melbourne adalah masa edar SC. Karena trek ini tergolong lebar dan punya run-off area yang lebih luas ketimbang Melbourne, maka mobil-mobil yang tabrakan atau melintir paling-paling akan hanya diberi tanda lewat bendera kuning. Tak perlu SC masuk berkali-kali.
 
THE RACE
Kalau lomba identik dengan siapa yang menang dan siapa kalah, maka jawabannya tak jauh dari McLaren dan Ferrari. Pilih secara acak dari keempat pembalap mereka, dialah yang akan jadi pemenang. Tapi kalau mau dikerucutka lagi, rasanya Hamilton atau Kimi yang bakal menang. Massa dan Kovalainen bukannya tak ada kans, tapi melihat cara Hamilton dan Kimi berlaga di Aussie rasanya butuh off-day bagi mereka untuk kalah dari team-mate masing-masing.

Sisanya, akan menjadi bonus bagi Malaysia bila salah satu dari Nick Heidfeld atau Robert Kubica naik podium lagi. Mobil mereka jelas belum secepat McLaren atau Ferrari, tapi sampai kini mereka jelas merupakan mobil ketiga terbaik. Williams baru mendekati, Toyota masih jauh, dan yang mengejutkan adalah Renault. Mobil ini benar-benar pelan di Aussie. Kalau bukan kepiawaian Alonso mengatur strategi lomba, mustahil mereka bisa finis di urutan empat. Kenapa Malaysia senang kalau BMW-Sauber naik podium? Ya karena sponsor tim ini, Petronas, adalah aikon negeri jiran tersebut.

Satu-satunya hal yang bisa membalikkan prediksi ini adalah kalau hujan benar-benar turun amat lebat. Tak ada jagoan utama untuk kondisi ini, walau Hamilton, Kimi, Alonso, dan David coulthard pernah menang dalam lintasan basah.
 
TC-less
Tanpa traction control (TC), balapan memang jadi mengasyikkan. Banyak pembalap melintir di tikungan, yang sebagian besar pasti disebabkan karena tak ada lagi yang bisa mengontrol putaran roda kalau mobil melintir seperti dulu TC masih "beredar". Di antara sejumlah pembalap itu tentu ada sang juara dunia, Kimi Raikkonen, Felipe Massa, dan juga para pembalap baru. Tapi dari sejumlah kecelakaan yang terjadi, ada fenomena menarik di mana pembalap yang tak bisa mengendalikan mobil tanpa TC bisa "terbang". Biasanya, kalaupun mereka masih juga harus melintir di tikungan ketika masih pakai TC, jarang ada pembalap yang terbang mengangkasa. Tampaknya sisa tenaga mobil sebelum terjadi spin membuat pembalap benar-benar tak bisa menguasai tunggangannya. Dan bisa dipastikan dalam beberapa seri ke depan drama-drama seperti ini akan lebih sering terlihat.
 
RUBENS' CASE
Salah satu pembalap senior, Rubens Barrichello, tak disangka bisa membuat dua kesalahan beruntun dan satu drama di pit. Pertama ketika dia masuk pit walau belum ada tanda diperbolehkannya. Regulasi F1 menyebutkan pembalap tak boleh masuk pit saat SC di trek sebelum semua mobil sudah mengular di belakang SC. Nah saat Rubens masuk pit itu kondisi mobil mengular di belakang SC belum terjadi. Saking bernafsunya ingin menyelamatkan poin Honda yang amat susah didapat, ia bisa-bisanya tidak melihat lampu di pit exit. Itulah yang membuat dia terkena diskualifikasi. Satu lagi yang membuat veteran ini jadi sorotan adalah ketika kesalahan lollipop man sudah mengangkat gagangnya, pertanda Rubens boleh jalan. Eh ternyata masih ada selang bahan bakar tersangkut, yang ikut terbawa oleh Rubens bersama dengan orang-orangnya. Bagi pembalap muda, kasus Rubens ini wajib dipelajari. Karena sepanjang 2008 secara acak kasus-kasus yang meninmpa Rubens bisa terjadi pada diri mereka.
 
TORO ROSSO
Ada yang menarik dari duet Toro Rosso. Vettel ternyata amat hebat di sesi kualifikasi. Untuk pembalap baru dan mengendarai mobil lama, jelas grid 9 adalah prestasi luar biasa. Oke saat lomba dia mengalami tabrakan, tapi pure speed pembalap salah satunya bisa dilihat pada hari Sabtu itu. Keesokan harinya, giliran Sebastien Bourdais yang membuat heboh. Kalau mesinnya gak rusak (lagi-lagi mesin Ferrari), bisa jadi dia finis di urutan empat. Status dia sebagai juara umum Champ Cars empat musim berurutan sejak 2004 tidak tercoreng oleh pencapaian itu. Beruntung ada kasus diskualifikasi Rubens sehingga dia masih bisa dianggap finis dan terklasifikasi di urutan 7. Kita lihat seberapa hebat pasangan ini ketika mobil baru mereka, STR03, dipakai sejak GP Turki, kalau tak berubah dari rencana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau