Lebih Baik Memikirkan Kesejahteraan Petani

Kompas.com - 29/03/2008, 13:41 WIB

JAKARTA, SABTU-Pemerintah lebih baik memikirkan kenaikan penetapan harga kering panen petani yang dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani dibandingkan memikirkan kemungkinan ekspor beras. Penetapan harga beli kering petani diperlukan seiring kenaikan harga input produksi petani.

Demikian pendapat dari Ketua Dewan Tani Indonesia Ferry Juliantoro, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hilman Indra, dan Ditjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Alimoeso dalam acara talk show tentang harga beras di Menteng, Jakarta, Sabtu, (29/3).

Menurut Ferry, kebijakan ekspor tidak berdampak bagi kesejahteraan petani, kebijakan itu hanya akan menguntungkan segelintir pedagang beras. Yang paling mempengaruhi kesejahteraan petani adalah harga beli gabah kering panen yang ditetapkan pemerintah. "Keinginan ekspor itu sebenarnya hanya mengakomodir segelintir pedagang-pedagang beras saja. Petani justru tidak diperhatikan karena harusnya yang dilakukan pemerintah adalah melakukan evaluasi kemungkinan kenaikan harga pembelian pemerintah," ujarnya.

Ferry menilai kenaikan penetapan harga beli pemerintah harus dilakukan karena adanya kenaikan harga input produksi tani, kenaikan harga kebutuhan pokok dan kenaikan BBM. " Kita tahu kenaikan harga input produksi yang luar biasa ditambah lagi kenaikan harga kebutuhan pokok, dan BBM," katanya.

Bahkan bukannya mengalami kenaikan harga, karena kualitasnya dianggap kurang baik, gabah petani masih ada yang dibeli dengan harga dibawah harga yang ditetapkan pemerintah yakni dibawah harga Rp2.000. "Harga ditingkat petani turun karena hujan terus-menerus. Selain itu, keterlambatan ketersediaan pupuk dan pestisida tepat waktu juga menyebabkan turunnya kualitas gabah petani. Sebaiknya pemerintah memprioritaskan persoalan petani ini, baru memikirkan soal ekspor," tegasnya.

"Sekarang, masih terjadi harga gabah yang diterima petani masih dibawah HPH, ini yang harus diperhatikan. Ini tanggung jawab pemerintah tetapi bukan pemerintah pusat saja, tetapi juga pemerintah daerah. Pemerintah daerah juga harus ikut memonitor, sekaligus bekerja sama dengan Bulog sebagai stabilitatornya," tambah Ferry.

Dari perhitungan yang dilakukan Ferry, kenaikan harga pembelian gabah kering panen berkisar Rp2.400 sampai Rp2.500. "Jadi harga pembelian sekarang yang 2.000 rupiah ditambah inflasi tujuh persen serta keuntungan dan risiko sebesar 13 persen, kenaikan harga yang wajar sekitar 2.400 rupiah sampai 2.500 rupiah," demikian Ferry. (DIV)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau