Dulmatin, Teroris Bernyawa Rangkap

Kompas.com - 29/03/2008, 20:38 WIB

DULMATIN alias Amar Usmanan alias Joko Pitono alias Noval dikenal oleh para tetangganya di Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, sebagai pemuda biasa. Tidak ada hal yang terlalu menonjol dari dia, yang bisa membuatnya dikenal luas oleh masyarakat sekitarnya.

Ia baru dikenal oleh masyarakat luas setelah namanya disebut-sebut sebagai anggota Kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan terlibat dalam teror bom Bali 2002 lalu. Sebelum itu, ia dikenal hanya sebagai makelar mobil kecil-kecilan. Reputasinya sebagai makelar mobil pun juga tidak menonjol amat, sebab pelanggannya hanya teman-temannya sendiri.

Namanya semakin terkenal setelah ia sebagai salah satu tersangka dalam teror bom Bali disebut- sebut berhasil kabur ke Filipina. Sehingga saat teman-temannya ditangkap dan penjara, ia bisa leluasa meneruskan ambisinya.

Dulmatin kemudian dikenal masyarakat luas sebagai orang yang hebat dan tokoh JI yang menakutkan setelah Amerika Serikat menyebutnya sebagai ahli elektronik yang pernah berlatih di kamp-kamp Al-Qaidah di Afghanistan. Ia juga disebut-sebut Amerika sebagai tokoh senior dalam JI.

Pria kelahiran 6 Juni 1970 ini semakin dikenal sosoknya oleh dunia. Dalam berita-berita pemberantasan terorisme di Indonesia, Dulmatin disebut-sebut sebagai salah satu pelatih senior relawan JI di Filipina. Ia mendapat pasokan banyak pemuda dari Indonesia untuk menjalani latihan perang di Filipina. Kabar terakhir, ada sekitar 300 pemuda dari Indonesia yang sudah selesai dilatih Dulmatin di Filipina dan siap dikirim balik ke Indonesia untuk memperkuat gerakan jaringan JI di Indonesia.

Amerika Serikat lagi-lagi membesarkan nama Dulmatin. Amerika mengiming-iming hadiah 10 juta dollar AS atau setara Rp 95 miliar bagi yang bisa menangkap hidup atau mati Dulmatin. Tawaran hadiah ini sebagai pengukuhan bahwa Dulmatin sebagai orang hebat dan paling membahayakan. Sehingga uang setara Rp 95 miliar itu layak sebagai imbalan bagi yang menemukannya.

Filipina yang kelihatannya tidak tahu pasti seperti apa Dulmatin itu, ikut-ikutan membesarkan namanya. Klaim-klaim Filipina mengambarkan seolah Dulmatin adalah sebagai sosok teroris bernyawa rangkap. Beberapa kali klaim otoritas Filipina telah membunuh Dulmatin, menggambarkan seolah-olah Dulmatin adalah seorang sosok teroris bernyawa rangkap. Sudah empat kali otoritas Filipina mengklaim membunuh Dulmatin, selama 3 tahun ini.

Klaim pertama muncul pada Januari 2005. Kemudian klaim kedua muncul pada Agustus 2006. Harian Philipine Star menyebut Dulmatin alias Maruan dan Umar Pathek alias
Mauyha tewas dalam peristiwa penyerangan udara militer Philipina ke kelompok Abu Sayyaf di wilayah Mindanao, Pulau Sulu, Filipina Selatan.

Klaim ketiga muncul pada 16 Januari 2007. Harian Phillipines Star kembali memberitakan Dulmatin terluka parah dalam bentrokan senjata antara pihak militer Filipina dengan militan Abu Sayyaf. Setahun kemudian, pada 26 Februari lalu, Filipina kembali mengklaimtelah menewaskan Dulmatin di Kota Panglima Sugala, Tawi-Tawi, di Provinsi Philipina Selatan. (Persda Network/Sugiyarto)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau