Empat Penyelundupan ke Malaysia Digagalkan

Kompas.com - 01/04/2008, 00:32 WIB

KARIMUN, SENIN-Wilayah Kepulauan Riau (Kepri) kembali terbukti sebagai pintu masuk berbagai aksi penyelundupan. Hal itu terbukti setelah aparat Kantor Wilayah Khusus Bea Cukai (BC) Kepri, Tanjungbalai Karimun kembali menggagalkan penyelundupan 94 ton kayu balak tanpa dokumen yang akan diselundupkan ke Malaysia.

Selain kayu, petugas BC juga mengamankan 2.524 koli balpress dan 93 ton barang campuran yang dibawa tanpa disertai dokumen. Menurut Kepala Kanwil Khusus BC Kepri Nasar Salim, barang tangkapan tersebut hasil tangkapan selama bulan Maret. Penangkapan yang dilakukan petugas patroli BC itu terakhir kali 30 Maret lalu, sebanyak 93 ton barang campuran seperti sembako dan minuman beralkohol tujuan Pekanbaru.

"Barang-barang bernilai sekitar Rp 1 miliar itu kita tangkap karena tak disertai dokumen resmi. Diduga akan diselundupkan ke Malaysia. Di samping itu ada beberapa barang campuran seperti sembako dan minuman yang akan dibawa ke Pekanbaru," kata Nasar Salim saat jumpa pers di Kantor Kanwil Khusus Bea Cukai Kepri di Tanjungbalai, Senin (31/3).

Hadir dalam jumpa pers tersebut, Kabid Penindakan dan Sarana Operasi Kanwil Khusus Kepri Saipullah Nasution dan Kasi Penindakan Kanwil Khusus Bea Cukai Kepri Syafrizal. Nasar menambahkan, sebanyak 94 ton kayu balak tersebut diangkut empat kapal pompong, masing masing KM Supi Jaya GT 07 membawa 20 ton kayu balak tim jenis mentangor yang akan diangkut ke Batu Pahat, Malaysia. Petugas menahan nahkoda Firdaus dan tiga anak buah kapal. Kapal itu ditangkap pada 14 Maret 2008 di perairan Tanjung Parit. "Barang bukti serta kapal saat ini diamankan di Pos Ketapang Bea Cukai,"ujar Nasar.

BC kembali menggagalkan penyelundupan 40 ton dan 600 batang kayu balak tim jenis kempas oleh KM Julisa Putri GT 33 dengan nahkoda Dedy Syahputra bersama tiga ABK. Kayu tersebut diangkut dari Sungai Mertas, Riau, menuju Melaka, Malaysia. Penangkapan dilakukan pada 24 Maret di perairan Tanjung Sempayan.

Tiga hari setelah itu, 27 Maret 2008, petugas BC kembali menangkap KM Suprati GT 07 dengan nahkoda Rusli dan tiga ABK. Kapal tersebut membawa 15 ton dan 170 batang kayu balak asal Tanjungpadang tujuan Sungai Rambai, Malaysia.

Hanya dua hari berselang setelah penangkapan tersebut, atau pada 30 Maret 2008, petugas kembali mengamankan 19 ton kayu balak yang diangkut menggunakan KM Ira Jaya GT 07. Nahkoda Senen dan dua ABK diamankan. Menurut Senen, ia ditangkap di perairan Karang Banteng. "Kayu itu diambil di Bangka Belitung dan akan dibawa ke Malaysia,"ungkap Senen.

Ia mengaku dibayar Rp 300 ribu per trip. Kayu tersebut ia peroleh dari Zainal, warga Bangka Belitung. Dalam operasi tersebut, petugas BC mengamankan 93 ton dan 2.543 koli barang campuran sembako dan minuman beralkohol dan alat-alat elektronik dari dua kapal KM Perdana dengan nakhoda Makmur dan KM Tri Fha Fha nakhoda M Nazar.

"Tangkapan-tangkapan tersebut sedang dilakukan proses penyidikan lebih lanjut di Kanwil Khusus Bea Cukai Kepri. Kerugian negara apabila kayu tersebut diselundupkan bisa
mencapai Rp 1 miliar,"ujar Nasar.(Tribun Batam/Zur)

Tangkapan BC selama Maret 2008

14 Maret
KM Supi Jaya GT 07 mengangkut 20 ton kayu ke Batu Pahat,
Malaysia. Ditangkap di perairan Tanjung Parit, Kepri.

24 Maret
KM Julisa Putri GT 33 mengangkut 40 ton dan 600 batang kayu
balak tim jenis kempas dari Sungai Mertas, Riau, menuju
Melaka, Malaysia. Ditangkap di perairan Tanjung Sempayan,
Kepri.

27 Maret
KM Suprati GT 07 mengangkut 15 ton dan 170 batang.kayu
balak asal Tanjungpadang tujuan Sungai Rambai, Malaysia.

30 Maret
KM Ira Jaya GT 07 mengangkut 19 ton kayu balak dari Bangka
Belitung tujuan Malaysia. Ditangkap di perairan Karang
Banteng.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau