Ibu Bunuh Anaknya, Bisa Jadi Skizofrenia

Kompas.com - 01/04/2008, 21:25 WIB

MENCUATNYA sejumlah kasus ibu bunuh anak di sejumlah daerah menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memberi pelayanan kesehatan jiwa. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan mental itu mengakibatkan banyak penderita gangguan kejiwaan terutama skizofrenia atau kegilaan yang tidak terdeteksi sejak awal, sehingga akhirnya berperilaku yang membahayakan dirinya dan orang lain.

Menurut psikater dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Suryo Dharmono, saat dihubungi Selasa (1/4), di Jakarta, sejumlah kasus pembunuhan anak oleh ibu seharusnya tidak boleh disederhanakan masalahnya sebagai tindakan yang dipicu oleh tekanan ekonomi.

Ada kemungkinan tindakan ekstrem tersebut dilakukan lantaran penderita mengalami gangguan kejiwaan yang berlanjut menjadi skizofrenia. Gangguan kejiwaan ini menimbulkan gejala seperti halusinasi. Karena tidak terdeteksi, pada akhirnya kondisinya kian parah hingga akhirnya penderita melakukan tindakan agresif yang membahayakan dirinya maupun orang-orang di sekitarnya, kata Suryo.

Hal ini berbeda dengan kasus depresi yang mana penderitanya sangat jarang bertindak agresif. Pasien kebanyakan menunjukkan gejala awal antara lain murung, letih, lemah, lesu, kehilangan minat, menarik diri dari pergaulan, hingga akhirnya tercetus keinginan untuk bunuh diri. Akan tetapi, penderita bisa juga menunjukkan gejala sebaliknya seperti sangat hiperaktif, banyak bicara, gangguan tidur.

Maka dari itu, gejala awal gangguan kejiwaan terutama skizofrenia seharusnya bisa dideteksi sejak dini baik oleh komunitas terdekatnya maupun penyedia pelayanan kesehatan. Sulitnya mendapat akses pelayanan kesehatan jiwa mengakibatkan banyak penderita yang mengalami gangguan kejiwaan, terutama skizofrenia, tidak terdeteksi, hingga terjadi perilaku yang berbahaya, ujarnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau