MENCUATNYA sejumlah kasus ibu bunuh anak di sejumlah daerah menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memberi pelayanan kesehatan jiwa. Keterbatasan akses pelayanan kesehatan mental itu mengakibatkan banyak penderita gangguan kejiwaan terutama skizofrenia atau kegilaan yang tidak terdeteksi sejak awal, sehingga akhirnya berperilaku yang membahayakan dirinya dan orang lain.
Menurut psikater dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Suryo Dharmono, saat dihubungi Selasa (1/4), di Jakarta, sejumlah kasus pembunuhan anak oleh ibu seharusnya tidak boleh disederhanakan masalahnya sebagai tindakan yang dipicu oleh tekanan ekonomi.
Ada kemungkinan tindakan ekstrem tersebut dilakukan lantaran penderita mengalami gangguan kejiwaan yang berlanjut menjadi skizofrenia. Gangguan kejiwaan ini menimbulkan gejala seperti halusinasi. Karena tidak terdeteksi, pada akhirnya kondisinya kian parah hingga akhirnya penderita melakukan tindakan agresif yang membahayakan dirinya maupun orang-orang di sekitarnya, kata Suryo.
Hal ini berbeda dengan kasus depresi yang mana penderitanya sangat jarang bertindak agresif. Pasien kebanyakan menunjukkan gejala awal antara lain murung, letih, lemah, lesu, kehilangan minat, menarik diri dari pergaulan, hingga akhirnya tercetus keinginan untuk bunuh diri. Akan tetapi, penderita bisa juga menunjukkan gejala sebaliknya seperti sangat hiperaktif, banyak bicara, gangguan tidur.
Maka dari itu, gejala awal gangguan kejiwaan terutama skizofrenia seharusnya bisa dideteksi sejak dini baik oleh komunitas terdekatnya maupun penyedia pelayanan kesehatan. Sulitnya mendapat akses pelayanan kesehatan jiwa mengakibatkan banyak penderita yang mengalami gangguan kejiwaan, terutama skizofrenia, tidak terdeteksi, hingga terjadi perilaku yang berbahaya, ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang