Panen Raya, Harga Beras Tinggi

Kompas.com - 02/04/2008, 07:52 WIB

 JAKARTA,RABU  - Panen raya padi tidak membuat harga beras di pasar grosir menurun, tetapi justru sebaliknya, harga stabil tinggi dan bahkan ada kecenderungan naik. Harga beras kualitas medium setara IR-64 kelas 3 pada panen raya kali ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah perberasan nasional.

Hari Selasa (1/4), harga beras kualitas medium di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta—yang menjadi barometer pergerakan harga beras nasional—seharga Rp 4.300 per kilogram. Dibandingkan dengan pekan pertama Maret 2008, memang terjadi penurunan harga sebesar Rp 250. Namun, harga Rp 4.300 itu hampir setara dengan harga beras dengan kualitas sama pada puncak masa paceklik tahun 2006.

Catatan Kompas menunjukkan, dalam dua tahun berturut-turut, yakni 2006 dan 2007, disparitas harga beras saat musim panen raya dengan musim paceklik berkisar Rp 1.300 hingga Rp 1.600 per kilogram. Dengan asumsi disparitas yang sama, ini berarti pada musim paceklik 2008/2009 harga beras kualitas medium akan menembus harga Rp 5.900 per kilogram.

Tingginya harga beras di dalam negeri saat ini seakan terus mengikuti meroketnya harga pangan dunia sejak tahun 2007 yang dampaknya merata hampir di seluruh belahan bumi: mulai dari Amerika Utara, Benua Afrika, Asia Tengah dan Tenggara, hingga ke Benua Australia.

Harga beras bahkan sudah menembus 745 dollar per ton di wilayah Asia. Demikian pula harga-harga komoditas lain, seperti produk susu, minyak nabati, biji-bijian dan kacang-kacangan, gula, serta produk daging. Kondisi ini, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), telah memicu serangkaian kekacauan sosial dan politik, di negara-negara miskin, terutama di Benua Afrika.

Di Indonesia, bakal tingginya harga beras pada musim paceklik 2008 akan berdampak sangat serius terhadap stabilitas politik, mengingat mulai awal 2009 pesta demokrasi tengah dimulai dan pemilu tinggal menghitung bulan.

Permintaan meningkat

Para pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) menjelaskan, masih tingginya harga beras karena permintaan beras antarpulau meningkat sejak beberapa hari ini. ”Hari Selasa pukul 10.00 ini saja beras di PIBC sudah enggak ada karena banyak dijual antarpulau,” kata Billy Haryanto, pedagang sekaligus pemasok.

Permintaan terhadap beras yang meningkat tajam terjadi di wilayah Batam, Bangka, Pontianak, dan Pekanbaru yang bukan merupakan produsen beras. Data dari PT Food Station Tjipinang Jaya yang merupakan BUMD beras di DKI Jakarta menunjukkan bahwa pasokan beras ke PIBC pada Maret 2008 sebanyak 52.760 ton atau rata-rata 2.198 ton per hari. Namun, penjualan beras dari PIBC juga tinggi, mencapai 45.051 ton atau 1.877 ton per hari.

Begitu pula sejak awal Maret lalu permintaan beras untuk antarpulau terus meningkat. Pada 3 Maret 2008 beras yang dijual antarpulau hanya 176 ton, sepekan kemudian naik menjadi 253 ton, dan pada akhir Maret 356 ton. Dalam sebulan, beras yang dijual antarpulau dari PIBC mencapai 4.416 ton.

Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya (FSTJ) Sjamsul Hilataha mengatakan, para pedagang beras akan berusaha memenuhi permintaan dari pembeli mana pun. Kalau harga beras antarpulau bagus dan permintaan besar, beras pasti akan mengalir ke sana. Meski begitu, Sjamsul mengaku tidak khawatir dengan kondisi harga beras saat ini meskipun pada kenyataannya masih relatif tinggi. ”Kalau pemerintah tanggap, seharusnya Bulog digerakkan untuk membeli beras langsung dari petani, jangan dari pedagang atau tengkulak,” katanya.

Daya beli petani melorot

Di tengah meroketnya harga pangan dunia terutama beras, petani di sebagian provinsi di Indonesia tetap menjadi kelompok yang terpinggirkan. Paling tidak, itulah yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) tentang menurunnya daya beli petani yang tercermin pada nilai tukar petani (NTP) pada Januari 2008.

Deputi Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi Ali Rosidi menjelaskan, dari 23 provinsi yang dipantau, 11 provinsi mengalami penurunan NTP. Sejumlah 11 provinsi lainnya mengalami kenaikan NTP, sedangkan data dari satu provinsi tidak masuk. NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan kebutuhan konsumsi dan biaya produksi petani.

Secara umum, NTP pada Januari 2008 naik 0,04 persen dibandingkan dengan NTP Desember 2007. Sementara inflasi di daerah pedesaan Indonesia pada bulan Januari itu tercatat sebesar 2,21 persen, jauh lebih tinggi dari inflasi nasional yang Januari lalu sebesar 1,77 persen.

Sementara inflasi pedesaan relatif tinggi, upah riil buruh tani pada Januari 2008 dibandingkan dengan Januari 2007 secara nasional hanya naik 0,16 persen. Di Pulau Jawa, upah riil buruh tani bahkan turun 0,04 persen, sedangkan di luar Jawa terdapat kenaikan upah riil 0,43 persen. BPS juga menghitung penurunan harga gabah pada di tingkat petani pada Maret 2008 dibandingkan dengan Februari 2008. ”Hal ini dipengaruhi kondisi musim panen raya,” ujar Ali.

Penurunan harga terjadi pada semua kualitas gabah. Pada kualitas gabah kering giling (GKG) terhitung sebesar 6,28 persen, kualitas gabah kering panen (GKP) merosot 15,31 persen, sedangkan gabah kualitas rendah turun 10,97 persen.

Tidak akan ekspor beras

Menteri Pertanian Anton Apriyantono menegaskan, meskipun harga beras di luar negeri cukup tinggi, pemerintah tahun ini dipastikan tidak akan mengekspor beras. Pemerintah baru akan mengekspor beras pada tahun depan ketika cadangan beras nasional sudah melebihi 3 juta ton di gudang Perum Bulog.

Menurut Anton yang berbicara selepas rapat terbatas soal ketahanan pangan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa, sekarang ini stok beras nasional masih jauh dari angka 3 juta ton, yaitu sekitar 1,25 juta ton. Kalaupun target 3 juta ton tahun ini bisa saja tercapai, ekspor belum bisa dilakukan. Sebab, stok beras masih digunakan untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu, seperti bencana alam ataupun untuk beras rakyat miskin (raskin).

Rapat terbatas juga dihadiri sejumlah menteri, di antaranya Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar. ”Tahun ini kita memperkuat stok nasional dulu. Namun, kita tetap menyiapkan aturan-aturan untuk ekspor beras,” ujar Anton.

Sejumlah pengamat dan kalangan juga meminta pemerintah menunda hasrat mengekspor beras. ”Bangsa ini masih membutuhkan cadangan beras dalam jumlah besar, apalagi masih banyak rakyat yang membutuhkan bantuan makanan,” ujar Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Mahfudz Siddiq. (HAR/MAM/JOY/DAY/MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau