Tritamtomo Ingin Menciptakan Keseimbangan Timur dan Barat

Kompas.com - 02/04/2008, 11:01 WIB

MESKIPUN baru saja bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mengusungnya sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013, Mayor Jenderal TNI (Purn) Tritamtomo (57) merasa prinsip partai politik itu sama dengan prinsipnya sebagai seorang purnawirawan. Yakni menjadi nasionalis dan
pluralis sejati.

Ditemui dalam wawancara singkat di Lantai 8 Hotel Emerald Garden, Jalan Putri Hijau Medan, Sabtu (29/3) lalu bersama Metro TV, ia tampak  tegang. Namun, ia kemudian menyapa ramah dengan senyumnya yang khas. Panda Nababan, tokoh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) senior itu, sempat berseru, ”Rileks saja Bung.”

”Bagaimanapun rumah  besar ini harus dihuni oleh anak bangsa yang mempunyai banyak persamaan, serta  meninggalkan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan,” kata bapak lima anak yang dipanggil banyak kalangan dengan sebutan  Babe itu. Rumah besar yang dimaksud adalah Sumatera Utara (Sumut), representasi keindonesiaan yang multikultur.

Setelah selesai dari jabatannya sebagai Panglima Komando Daerah Militer I Bukit Barisan tahun 2005 dan menjadi pengajar ahli politik dan kewarganegaraan Lemhanas, Tritamtomo muncul kembali di Sumut. Kali ini untuk maju menjadi calon gubernur.

Memahami Sumut

”Saya sudah bertugas di Sumut selama tiga tahun, dua bulan, 11 hari, saya cukup paham Sumatera Utara,” tuturnya.Tugas itu ia rasa memberi pemahaman cukup pada dirinya untuk mengenal sudut-sudut dan pelosok provinsi ini. Ditambah tugas dalam operasi militer Dharma Nusa di Nanggroe Aceh Darussalam (2003-2005), serta berbagai pengalaman penugasan di dalam  dan luar negeri membuat Tri yakin dirinya mampu memimpin Sumut.

Tritamtomo melihat banyak kesenjangan di Sumut, sementara dirinya punya potensi untuk bisa mengabdikan diri. PDI-P menerimanya, dan memasangkannya dengan calon wakil gubernur Benny Pasaribu untuk memimpin Sumut periode 2008-2013. 

Tritamtomo lahir 15 Februari 1951 di Bogor, Jawa Barat, dari keluarga almarhum Haji R Danuri, seorang pensiunan tentara yang bertugas di Jawa Tengah. Ia anak ke-3 dari 10 bersaudara. Salah satu saudara kandungnya adalah mantan Kepala Polda Sumut Bambang Hendarso Danuri,  yang merupakan anak ke-4.
Setelah lulus SMA Negeri 2 Jakarta, pada tahun 1969 ia masuk Akabri dan lulus  tahun 1974. Tritamtomo lalu meneruskan studi di bidang hukum dan memperoleh gelar sarjana hukum dari Perguruan Tinggi Hukum Militer di Jakarta. Kegemaran suami Lia Setyaningsih itu adalah  olahraga dan membaca buku.

”Kalau orang  bertanya, Bapak mantan militer, apakah akan melakukan pendekatan militeristik dalam  membangun persatuan dan kesatuan, saya jawab tidak dengan cara seperti itu,” katanya. Tri menyatakan akan melakukan pendekatan preventif kemudian represif total.

”Tentunya tahapan ini harus dilakukan melalui sentuhan penataan kerja, meningkatkan kebersamaan melalui kemitraan, kemudian  meningkatkan program kerja yang terintegratif antara kota, kabupaten, dan provinsi,” ujarnya.

Langkah yang akan dilakukan dalam pendekatan keamanan adalah memperdayakan inspektorat dan pengawasan.  ”Saya melalui pendekatan pembinaan teritorial dengan teman lain untuk menciptakan kesinergian antaranak bangsa di wilayah ini sehingga kesatuan, kebersamaan, ditepati dan terbentuk,” ujarnya.

Benahi infrastruktur

Hal pertama yang akan dilakukan jika dirinya menjadi gubernur adalah membenahi infrastruktur, terutama jalan. Kesenjangan antara pantai barat dan pantai timur ia rasa sangat tinggi. Ia ingin menciptakan keseimbangan di dua daerah itu.

Ia akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk membenahi infrastruktur. ”Pemerintah daerah tidak bisa berdiri sendiri. Kami akan berinteraksi dengan dukungan pemerintah pusat, lalu diaplikasikan di lokal. Juga bekerja sama dengan Sumatera Barat dan Riau,” kata Tritamtomo. (Aufrida Wismi/Josie Susilo Hardianto)

 

Sumber: Halaman Pilkada Sumut Kompas Sumbagut (2/4) Halaman 2

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau