Puas Memerkosa, Bapak Lacurkan Anak Gadisnya

Kompas.com - 05/04/2008, 13:11 WIB

LUMAJANG - Perilaku Rahman, 50, sungguh keterlaluan. Ia tak hanya gagal menjadi ayah yang baik, perbuatannya juga benar-benar tercela. Ia tega memerkosa anak kandungnya sendiri, YN, 15, lalu menjualnya ke tempat pelacuran di Surabaya.

Malapetaka itu berlangsung sejak Desember 2007. Rahman, warga Dusun Krajan, Desa Padang, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang, memaksa anaknya untuk melayani nafsu bejatnya. Perbuatan itu berlangsung hingga Januari 2008.

Peristiwa itu tak hanya sampai di situ. Rahman yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani, kemudian memboyong YN ke Surabaya. Dengan alasan tekanan ekonomi, ia menjual anak kandungnya itu ke lokalisasi Moroseneng, Kecamatan Benowo. Di tempat prostitusi ini Rahman juga kembali meniduri YN.

Terungkapnya kejahatan ini dilakukan secara tidak sengaja oleh anggota Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polwiltabes Surabaya, Kamis (3/4) malam. Informasi yang diterima polisi, ada anak di bawah umur dipekerjakan sebagai pelacur di lokalisasi Moroseneng.

Setelah melakukan pelacakan, polisi akhirnya menemukan YN di Wisma Ayu I Jaya milik Suliwati, 50. Dari keterangan YN, ayahnya sendiri yang mengantarnya ke lokalisasi pelacuran itu.

”Rahman kami tangkap di rumahnya Lumajang, Jumat (4/4) dini hari,” ujar Wakasat Reskrim Polwiltabes Surabaya Kompol Arnapi SIK didampingi Kanit PPA Sat Reskrim AKP Eusebia Torimtubun.

YN yang masih kelihatan anak-anak saat diajak ngobrol Surya tidak menyembunyikan apa yang pernah diperbuatnya, termasuk di lokalisasi pelacuran. Bicaranya nyrocos disertai gelak tawa.

Selama tiga bulan hidup di lokalisasi Moroseneng, cewek berambut sebahu itu mengakui hampir tiap hari teler, karena diajak tamu yang membookingnya menenggak minuman keras. Tapi cewek protolan kelas VIII SMP di Lumajang itu mengaku tidak suka merokok.

Sementara itu, Rahman mengakui nekat melakukan perbuatan bejat terhadap anaknya sendiri karena hubungan dengan istri keduanya, Mistri, belakangan ini tidak harmonis. Hampir tiap hari mereka bertengkar. Istri pertamanya, Nuriyat (ibu kandung YN), sudah meninggal dunia sejak YN masih berusia 10 tahun.

Setelah menikah dengan Mistri empat tahun lalu, hidup Rahman tidak tenang. ”Aku ditundung teko omah (Aku diusir dari rumah),” ucap Rahman.

Kenapa berantem terus? ”Aku kurang penghasilan. Di desa aku hanya sebagai buruh tani. Setengah hari kerja di sawah cuma dapat Rp 5.000-an,” tuturnya.

Dari ketidakharmonisan itu, korban mencari sasaran lain karena penyaluran kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi. Anaknya sendiri menjadi sasaran. ”Mbuh pak, aku khilaf waktu itu,” katanya.

Sekitar sebulan YN bekerja di wisma milik Supinah, ia memilih keluar. Ia kemudian bekerja di kawasan Tanjung Perak sebagai pembantu di sebuah rumah makan. Karena tidak kuat karena bekerjanya mulai pagi hingga malam, YN memilih keluar dan kembali ke kompleks pelacuran di Moroseneng. Ia masuk ke Wisma Ayu I Jaya milik Suliwati.

Ketika bekerja di wisma itu, tamu yang datang cukup banyak. Setiap hari ada 2-6 tamu yang mengajaknya berkencan. Usia yang masih belia dan wajah yang lumayan cantik menjadi daya tarik tersendiri dibanding teman-temannya. Dari penghasilan itu ia sempat mengirim uang untuk ayahnya di desa.

Kedua pemilik Wisma Ayu I, Supinah dan pemilik Wisma Ayu I Jaya, Ny Suliwati turut dibawa ke Mapolwiltabes Surabaya untuk dimintai keterangan.

Wakasat Reskrim Polwiltabes Surabaya Kompol Arnapi SIK didampingi Kanit PPA AKP Eusebia Torimtubun menjelaskan, penyidik telah menetapkan tiga tersangka masing-masing Rahman, Ny Suliwati dan Ny Supinah.

Rahman dianggap menodai anaknya sendiri dan menjualnya ke lokalisasi pelacuran. Sedang Ny Suliwati dan Ny Supinah karena menyediakan tempat untuk berbuat mesum dan memperdagangkan anak di bawah umur. (SURYA/mif)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau