Wapres Keliling Jawa Pastikan Kejayaan Pangan

Kompas.com - 05/04/2008, 20:04 WIB

 

SEMARANG, KOMPAS - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menegaskan  optimismenya bahwa Indonesia akan bisa melewati krisis pangan akibat krisis energi yang melanda dunia.

Keyakinannya itu dilandasi dengan potensi pertanian yang besar, optimismes dan kerja keras pemerintah pusat dan daerah serta petani dan pihak lainnya. Penegasan itu disampaikan Wapres Kalla kepada pers, di tengah-tengah penerbangan dari Semarang, Jawa Tengah menuju Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (5/4) malam.

Saat itu Kalla sudah menempuh separuh safari ke sejumlah kabupaten di Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan menggunakan Helikopter Kepresidenan jenis Super Puma TNI-AU. Menurut Wapres, dirinya diminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk berkeliling ke sejumlah kabupaten di Pulau Jawa untuk melihat kondisi pertanian dan pangan di tengah-tengah situasi krisis pangan dan energi yang kini tengah melanda dunia, serta kemajuan program infrastruktur pemerintah.

"Presiden meminta saya dan para menteri melihat sejauh mana masalahnya dan apa yang harus kita lakukan. Kita akan melihat, apakah bangsa kita ini masuk dalam kesulitan pangan ataukah justru kita dapat keluar dari krisis dan menghadapi kejayaan? Karena, sekarang ini sangat menentukan apakah upaya kita itu akan menemui kegagalan atau justru keberhasilan? " ujar Wapres Kalla.

Sebelumnya Kalla saat memberikan pengarahan di hadapan perwakilan kelompok petani, penyuluh lapangan dan para kepala dinas pertanian dan lainnnya di Pendopo Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu sore. Menurut Wapres, jika di saat seperti ini bangsa Indonesia tidak sungguh-sungguh belajar dan bekerja keras, Indonesia akan menghadapi masalah dan kesulitan terus menerus.

"Walaupun kita bisa membelinya dengn mahal, tetapi kita tidak memenuhinya sendiri, apalagi mempunyai cadangan yang berlebih. Sebaliknya, jika kita bisa mengelola lebih baik lagi, bangsa ini akan jaya, karena mempunyai surplus dan kemampuan yang jauh lebih baik. Di sinilah kita menentukan, saatnya apakah kita akan terus hadapi kesulitan ataukah kejayaan," tambah Wapres.

Wapres Kalla yang melakukan kunjungan dengan menggunakan Helikopter Kepresidenan Super Puma TNI-AU, mengatakan, sejak kemarin ia melakukan penerbangan ke Pandeglang dan Cilegon, Provinsi Banten, hingga Jawa Tengah, dirinya bersyukur karena hamparan hijau padi terbentang luas.

"Ini memberikan harapan. Kemudian saya berdialog dengan petani, saya tanya apakah petani optimistis di tengah-tengah masalah pangan sekarang ini, mereka menjawab optimistis. Kalau mereka saja optimistis, masa kita tidak optimistis. Oleh karena itu, kita akan menjawabnya bahwa saya dan kita semua optimis krisis akan kita lewati. Jadi, pesisme yang menyatakan kita akan menghadapi krisis, ternyata tidak. Saya yakin itu, "tandas Wapres.

Dengan adanya penambahan dana di program bantuan bibit unggul secara gratis, tambah Wapres, perbaikan dan pembangunan sistem pengairan dan pemberian pupuk serta pembelian gabah hasil panen oleh Perum Bulog, kejayaan bangsa Indonesia akan bertambah dengan meningkatnya penghasilan petani.

"Ini yang saya tunggu buktinya, bahwa kejayaan kita dalam pangan itu bukan hanya sebatas di buku dan di harapan, tetapi menjadi kenyataan," lanjut Wapres.

Tinjau infrastruktur

Sebelumnya di Cirebon, Jawa Barat, Wapres melakukan temu wicara dengan petani beras dan bawang merah serta penyuluh lapangan di Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) Gerakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (GP2BN) Cirebon.

Acara yang dipandu Bupati Cirebon Dedi Supardi berdialog seputar persoalan peningkatan produksi dan subsidi serta infrastruktur pertanian. Pengarahan dan temu wicara itu merupakan salah satu acara yang dilakukan Wapres Kalla di tengah-tengah kunjungan safarinya di sejumlah kabupaten di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Keliling Pulau Jawa itu sebelumnya diawali di Pandeglang dan Cilegon, Provinsi Banten, Jumat (4/4) lalu, yaitu dengan melihat langsung kemajuan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1 Banteng Unit 8 Suralaya dan PLTU Labuhan.

Wapres juga melihat langsung pembangunan jalan tol Cikopo-Palimanan-Kanci serta mendengarkan paparan kemajuan pembangunannya. Ia juga dijadwalkan akan melihat pembangunan jalan tol Surabaya-Mojokerto dan Jembatan Suamadu.

Dalam perjalanannya, Wapres didampingi Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menneg BUMN Sofyan Djalil, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali serta Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Mustafa Abubakar dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyowinoto.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau