Dalai Lama: Demonstrasi Adalah Bentuk Kejenuhan atas China

Kompas.com - 07/04/2008, 05:53 WIB

DHARMSALA, SENIN - Pemimpin sprituil Tibet di pengasingan Dalai Lama menjelaskan aksi demonstrasi antipemerintah China belakangan merupakan gambaran dari luapan kejenuhan mental dan fisik yang terkekang dan membuktikan sebagian besar warga Tibet menginginkan kemerdekaan dari China. Dalam pernyataan kerasnya yang dikeluarkan di Dharmsala, India, Dalai Lama menerangkan masyarakat Tibet menyimpan kegetiran di dalam hati mereka terhadap bentuk penindasan HAM maupun kebebasan beragama yang dilakukan oleh pemerintah China.
       
Dalai Lama menuduh pemerintah China yang berulangkali menudingnya bersalah dalam kerusuhan di Lhasa telah "mencoba mendistorsi kebenaran dari kerusuhan tersebut dalam setiap kesempatan." Dalai Lama mempersoalkan aksi kekerasan yang digunakan China untuk meredam aksi kerusuhan di ibukota Tibet ini.
    
Pemerintah China menjelaskan 22 orang tewas akibat aksi kerusuhan anti-Beijing yang terjadi 14 Maret 2008 lalu di Lhasa. Sementara pemerintahan Tibet di pengasingan yang dipimpin Dalai Lama menyebutkan 140 orang tewas akibat aksi kekerasan yang dilancarkan China dalam aksi kerusuhan itu.

Beberapa kelompok aktivis anti-Beijing melaporkan pekan lalu bahwa 8 orang tewas saat polisi atau polisi paramiliter China mengeluarkan tembakan terhadap sebuah aksi unjuk rasa di perfektur otonomi Tibet, Garze, dekat provinsi Sichuan. "Berbagai aksi unjuk rasa  menunjukkan pesan ke dunia bahwa masalah di Tibet tidak bisa dihiraukan begitu saja," tegas Dalai Lama.

China menuduh peraih nobel perdamaian itu telah memprovokasi timbulnya aksi kekerasan di Lhasa untuk mensabotase pesta Olimpiade Beijing pada Agustus 2008 dan menciptakan sebuah negara Tibet yang merdeka.

Dalai Lama telah menetap di India sejak melarikan diri dari wilayah asalnya di Himalaya itu pada tahun 1959 setelah gagal melaksanakan pergerakan menentang pemerintah China. China mengklaim Tibet telah menjadi bagian wilayah teritorialnya selama berabad-abad, namun banyak warga Tibet merasa wilayahnya telah efektif merdeka pada sebagian besar periode tersebut. (AP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau