Matematika Momok Ketidaklulusan Separuh Siswa

Kompas.com - 09/04/2008, 18:40 WIB

BANDUNG, RABU - Matematika tampaknya masih menjadi momok bagi siswa sekolah menengah atas di Kota Bandung . Berdasarkan hasil pra-Ujian Nasional tiga hari terakhir, di sejumlah sekolah di Kota Bandung, lebih separuh siswa ilmu pengetahuan sosial tidak lulus akibat mata pelajaran ini.

Di SMAN 9 Kota Bandung misalnya, dari 118 siswa kelas IPS yang ikut pra ujian nasional, 62 diantaranya tidak lulus. Kebanyakan karena nilai matematikanya kurang dari 4,00 seperti distandarkan pemerintah. Tahun ajaran 2007/2008 ini, nilai standar kelulusan dinaikkan, yaitu dari rata-rata 5,00 menjadi 5,25.

Menurut Wakil Kepala Bidang Humas SMAN 9 Kota Bandung Iwan Hermawan, Rabu (9/4), secara parsial, statitsik ini menunjukkan bahwa sebetulnya siswa kurang siap menghadapi ujian nasional. Yang berbahaya, kondisi ini bisa memukul psikologis siswa yang terus menerus gagal dalam serangkaian kegiatan pra-ujian nasional.

Ini jelas bisa memengaruhi mental mereka yang ikut try out terus menerus tapi nilainya masih kecil (belum memenuhi syarat). Dalam kondisi ini, yang penting adalah mengangkat kepercayaan diri mereka kembali. Mental harus diperbaiki, ucapnya. Dalam konteks ini, faktor mental dipandang lebih berperan ketimbang faktor teknis semata.

Guna mengangkat mental ini, SMAN 9 Kota Bandung akan mengadakan kegiatan pelatihan ESQ (Emotional and Spiritual Quotient) pekan depan. Jika diperlukan, di sela-sela kegiatan itu akan diadakan doa Istighosah bersama. Doa istighosah ini kan biasanya dilakukan ketika kita menghadapi cobaan. Nah, ujian nasional ini juga bencana. Hanya, bedanya, ini disebabkan pemerintah, bukan ujian Tuhan, ucapnya.

Di SMAN 5 Kota Bandung, angka ketidaklulusan siswa dalam pra ujian nasional mencapai 30 persen. Tidak jauh berbeda, kejatuhan terutama pada nilai Matematika dan Fisika (IPA). Pada siswa IPS, kebanyakan matematika, ucap guru matematika SMAN 5 Kota Bandung Agus Setia Muladi.

Tidak perlu risau

Namun, menurut aktivis Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI) ini, hasil itu tidak perlu terlalu dirisaukan. Sebab, tingkat kesukaran soal pra ujian nasional yang dibuat tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) i ni jauh di atas standar ujian yang sesungguhnya, berdasarkan soal tahun lalu. Tujuannya, biar siswa tidak over-confident (percaya diri berlebihan), sehingga semangatnya tetap terpacu, ucapnya. Ini terbukti dari hasil ujian nasional tahun lalu dimana tingkat kelulusan 100 persen.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 2 Kota Bandung Ricki M. Ramdhani, tingginya angka ketidaklulusan dalam kegiatan pra ujian nasional itu salah satunya dipicu ketidakseriusan siswa. Padahal, pihak sekolah justru serius menggarapnya sehingga sampai-sampai siswa kelas I dan II terpaksa diliburkan karena ruangan dipakai untuk kegiatan simulasi itu.

Di sejumlah sekolah, seperti diungkap Iwan, untuk memancing keseriusan siswa, hasil pra ujian nasional ini ikut dijadikan penentu nilai rapor. Sehingga, sampai-sampai ada siswa berupaya mencari kunci jawaban, tutur aktivis guru ini.

Berdasarkan catatan Kompas , tahun lalu, hasil pra-ujian nasional di Kota Bandung juga sempat mengejutkan, yaitu ketida klulusan berkisar 30-60 persen. Matematika pula yang menjadi momok. Namun, hasil sesungguhnya jauh berbeda. Tahun lalu, kelulusan di Jabar mencapai 92 persen. Lebih baik dari daerah lain.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau