Menhut Diminta Protes Malaysia

Kompas.com - 12/04/2008, 05:09 WIB

 

JAKARTA, SABTU- Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengakui telah meminta Menteri Kehutanan MS Kaban memprotes Pemerintah Malaysia terkait dengan isu pembalakan liar. Malaysia ditengarai mengklaim kayu-kayu yang diekspornya itu berasal dari hutan Malaysia, padahal itu merupakan kayu-kayu ilegal asal Indonesia.Wapres berharap masalah kayu hasil pembalakan liar di hutan-hutan di Indonesia itu akan dibicarakan dalam pertemuan bilateral kedua negara yang selama ini rutin dilakukan.

”Menhut telah protes dan kita memang minta supaya protes ke Malaysia. Itu akan dibahas dalam pertemuan bilateral kedua negara untuk mengusut masalah itu. Kita harapkan Pemerintah Malaysia juga mengambil tindakan. Kita ingin itu ada tindakan,” ujar Wapres seusai shalat Jumat (11/4) di masjid Istana Wapres. Wapres memberikan apresiasi kepada Kepolisian Negara RI dan Departemen Kehutanan yang telah mengambil langkah hukum atas pembalakan liar di hutan Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat.

”Polri sudah melakukan dengan baik. Kita ucapkan selamat saja. Polri dan TNI telah melakukan tindakan tegas. Seperti kita lihat kan pelaku-pelakunya dibawa ke Jakarta untuk diperiksa,” lanjut Wapres.  Sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara, MS Kaban telah mengirimkan surat protes kepada Pemerintah Malaysia melalui Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia. Surat keberatan tersebut berisi permintaan Indonesia agar Malaysia tidak lagi menampung kayu-kayu ilegal dari Indonesia. Kaban disebutkan juga mengharapkan agar dunia mau melihat asal-usul bahan baku produk kayu dari Malaysia. ”Jika memang kayu-kayu yang digunakan didapat dari Indonesia secara ilegal, dunia tidak boleh membelinya,” kata Kaban. (HAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau