Diduga Korban Trafficking, Pelayan Warung Kabur

Kompas.com - 16/04/2008, 15:43 WIB


PANGKALPINANG, RABU -- Diduga tidak tahan mendapat perlakukan kasar, enam perempuan melarikan diri dari sebuah rumah majikannya, Selasa (15/4) malam. Enam perempuan yang di antaranya masih ABG tersebut selama setengah bulan ini bekerja di warung Amui yang berlokasi di Jalan Melintas Pangkalpinang.
 
Enam perempuan asal Serang, Banten itu dikirim oleh Yayasan Kasih Abadi Jakarta, yang bergerak dalam penyaluran tenaga kerja untuk bekerja di warung tersebut. Salah seorang dari mereka berhasil kabur dan dibantu warga melaporkan kejadian itu ke Polsek Bukitintan. Polisi langsung bergerak ke lokasi dan membawa lima orang lainnya ke Polsek Bukitintan untuk dimintai keterangan.

Irma (16), Suwana (19), Iis (15) dan Ifa (19) warga Kampung Karet Jalan Asrama Polisi Labuhan, Padeglang, Banten serta Azizah (16) dan Kuro (17) warga Desa Kelumpang, Serang, Banten mengaku tertarik ke Bangka karena diimingimingi gaji besar.

"Saya awalnya diajak oleh Ibu Mely yang datang ke rumah. Katanya diajak kerja di Jakarta jadi pembantu dengan gaji Rp 350 ribu pe rbulan. Tetapi oleh Ibu Mely, dikirim ke Bangka. Katanya gaji bisa Rp 550 ribu per bulan," ungkap Irma di Mapolsek Bukitintan, Rabu (16/4).

Irma sempat menginap di rumah penyalur tenaga kerja di Jakarta Pusat, Sabtu (12/4) lalu. Menumpang pesawat, Irma dan lima teman wanitanya yang lain tanpa ditemani seorangpun karyawan yayasan tersebut berangkat ke Pangkalpinang, Senin (14/4).

Tiba di bandara, mereka dijemput oleh dua orang yang belakangan diketahui sebagai majikan mereka. Irma dibawa ke Pangkalpinang sedangkan lima orang lainnya disebar ke Belinyu dan Jebus.

Ternyata Irma bekerja sebagai pelayan warung pempek dan otakotak di Warung Amui bergabung dengan enam perempuan lainnya. Satu pelayan yakni Ari (19) warga Purwodadi, Jawa Tengah sudah terlebih dulu melarikan diri, pekan lalu.

"Saya baru dua hari kerja disana. Saya dan teman-teman tidak tahan karena majikannya kasar dan kami bekerja dari subuh hingga tengah malam dengan makanan seadanya," kata Irma.

Nasib Iis, Kuro, Azizah, Ifa dan Suwana sama dengan Irma. Bedanya mereka sudah setengah bulan bekerja di warung tersebut. Mereka juga tidak mendapat gaji seperti yang dijanjikan penyalur tenaga kerja sebelumnya.

"Kami dijanjikan gaji Rp 550 ribu per bulan. Tapi gaji baru dapat setelah setahun bekerja. Mau mandi saja diperketat satu kali sehari. Apalagi makan kadang hanya sekali sehari," ujar Iis.

Sama dikatakan Kuro, mereka juga diancam bila berniat pulang ke Serang harus membayar ganti rugi Rp 5 juta. Mirisnya lagi, mereka dilarang ke luar warung dan harus tetap berada di dalamnya.

Azizah menyebutkan, tak jarang bila salah sedikit saja, majikan memukul dan mencaci maki mereka. Waktu tidur diatur sekitar pukul 24.00 WIB. Para pelayan itu tidur bersama di dalam satu ruangan besar denganh)perlengkapa n seadanya. Setiap hari, sekitar pukul 04.00 WIB, mereka diharuskan bangun untuk mempersiapkan dagangan hari itu.

Enam perempuan yang diduga korban perdagangan manusia (trafficking) itu semuanya hanya lulus sekolah dasar (SD). Bahkan ada diantara mereka tidak diketahui oleh orangtua kalau berada di Bangka.

"Saya kangen orangtua di Serang. Saya mau pulang karena tidak betah disini," ungkap Azizah. Saat hendak dikonfirmasi wartawan, Rabu siang pemilik Warung Amui tidak berada di tempat. Toko miliknya tampak tertutup rapat dengan kondisi dua lampu depan masih menyala.

Kapolresta Pangkalpinang AKBP Ahmid Manputra melalui Kapolsek Bukitintan AKP Herni Siswati mengatakan, pihaknya sudah bertemu dengan pemilik warung tersebut dan memintai keterangan.

"Namun hari ini, pemilik warung itu meminta izin mau ke Jebus. Setelah memeriksa para pelayan warung, kita akan memeriksa pemilik warung," kata Herni.

Herni menyebutkan, belum ada tersangka dalam kasus tersebut. Mereka masih melakukan pengembangan dan penyelidikan mengenai dugaan memperkerjakan anak di bawah umur.

Mengenai tindakan pemukulan, kata Herni, belum dapat dipastikan karena kejadiannya sudah sepekan yang lalu. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengurus para ABG tersebut. (bangka pos/h2)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau