Sembilan Kontainer Tetes Tebu Ditahan

Kompas.com - 16/04/2008, 21:55 WIB

BANDARLAMPUNG, RABU-  Petugas Balai Karantina Tumbuhan Kelas I Pelabuhan Panjang, Lampung, saat ini masih menahan sembilan kontainer molasses atau tetes tebu dalam bentuk ragi dari Brasil. Penahanan dilakukan karena Brasil belum bebas dari South American Leaf Blide yang merupakan penyebab penyakit yang menyerang daun dan tanaman karet yang disebut saleb.

"Balai Karantina Tumbuhan menahan sembilan kontainer berisi 155,6 ton molasses itu pada Jumat (11/4). Balai Karantina Tumbuhan khawatir sembilan kontainer berisi molasses itu terkontaminasi South American Leaf Blide. South American Leaf Blide sendiri dibawa bakteri Microcyclus ulei," kata Kepala Balai Karantina Tumbuhan Kelas I Pelabuhan Panjang Bandar Lampung Hermansyah, Rabu (16/4).

Masuknya molasses ke Lampung terjadi sebagai upaya industri peternakan sapi di Lampung mencapai swasembada daging. Salah satunya dengan pemberian suplemen makanan yang bagus untuk sapi seperti molasses. 

Merujuk catatan Balai Karantina Tumbuhan Panjang, impor molasses dari Brasil sebagai bahan baku pakan ternak ke Lampung merupakan hal baru. Padahal, Brasil hingga sekarang masih dikenal sebagai daerah endemis saleb atau penyakit yang menyerang daun dan tanaman karet.

Sebagai salah satu sentra karet di Sumatera, masuknya molasses yang terkontaminasi South American Leaf Blide dalam bentuk ragi asal Brasil itu dikhawatirkan akan menyerang dan menghabisi tanaman karet di Lampung. Oleh karena itu, begitu Bea Cukai Panjang memberitahu adanya kontainer berisi molasses dari kapal berbendera Brasil, Balai Karantina bertindak cepat menyegel dan menahan kontainer, serta tidak mengizinkan keluar pelabuhan. "Kami harus melakukan uji laboratorium dulu sebelum melepas molasses itu," kata Hermansyah.

Catatan Balai Karantina Tumbuhan Kelas I Panjang menyebutkan, sampel molasses tersebut sudah dikirim ke Balai Uji Standar Karantina Pertanian Departemen Pertanian pada Senin (14/4). Sesuai jadwal, pada Kamis (17/4) hasil uji laboratorium itu sudah bisa diketahui. 

Informasi terbaru yang diperoleh Balai Karantina Tumbuhan Kelas I Panjang, selain sembilan kontainer tersebut saat ini juga terdapat satu kapal lain yang berisi molasses asal Brasil. Kapal tersebut tidak bisa merapat dan tertahan di kolam pelabuhan di Banten.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau