Dipecat Muhaimin, Yenny Cuek

Kompas.com - 22/04/2008, 00:23 WIB

JAKARTA, SENIN - Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Rasanya, ungkapan ini sangat pas untuk menggambarkan sosok mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan putrinya, Yenny Wahid.

Yenny, yang merupakan Sekjen DPP PKB versi Gus Dur, hanya menanggapi ringan mengenai pemecatan dirinya sebagai Sekjen oleh PKB Muhaimin. Jawaban ringan, setipe dengan tipikal sang Bapak dalam memberikan jawaban. Yenny mengatakan, pemecatan hanya bisa dilakukan melalui rapat gabungan, bukan rapat "gadungan".

"Pemecatan Sekjen hanya bisa dilakukan melalui rapat pleno yang merupakan rapat gabungan. Rapat yang tidak dihadiri Dewan Syuro yang sah, itu bukan rapat gabungan, tapi rapat gadungan," ujar Yenny santai, usai rapat gabungan di Kantor DPP PKB, Jakarta, Senin (21/4).

Mengenai adanya unsur Dewan Syuro yang berada di kubu Muhaimin, Yenny dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang mengaku sebagai anggota Dewan Syuro tidak pernah terdaftar secara hukum. "Perlu dicatat, mereka yang mengaku Dewan Syuro disana (kubu Muhaimin) tidak pernah terdaftar sebagai Dewan Syuro DPP PKB, mereka memang pernah tercatat sebagai Dewan Syuro tapi di DPW, bukan di DPP. Bisa dicek satu persatu di Dephukham susunannya. Dan susunan yang terdaftar ini sudah ada sebelum geger-geger ini," tegas dia.

Yenny juga mengklaim, posisinya sebagai Sekjen masih mendapatkan dukungan dari banyak DPW. "Buktinya, DPW-DPW mintanya dilantik sama saya, bukan yang lain," pungkasnya.

Pekan lalu, PKB versi Muhaimin mengumumkan pemecatan terhadap sejumlah pejabat teras PKB, salah satunya Yenny Wahid yang menjabat sebagai Sekjen DPP PKB. Posisinya digantikan Lukman Eddy, yang sebelumnya juga menjabat Sekjen sebelum Yenny. (ING)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau