JAKARTA, SELASA - Pemanfaatan teknologi kloning anjing mulai menampakkan hasil di Korea Selatan. Tujuh anak anjing jenis labrador berhasil dilahirkan dengan kloning dan mulai dilatih menjadi anjing pelacak.
Anak-anak anjing tersebut lahir akhir tahun atas pesanan kantor bea dan cukai setempat. Proyek yang didanai penuh anggaran negara ini menghabiskan dana sekitar 300 juta won atau sekitar Rp2,75 miliar. Proses kloning dilakukan sebuah perusahaan bioteknologi di Korea yang mendapat dukungan penuh dari para peneliti kloning di Universitas Nasional Seoul.
Ketujuh anjing kloning tersebut merupakan hasil reproduksi dari seekor anjing Canadian Labrador Retriever bernama Chase. Namun, calon tim anjing pelacak yang diberi nama Toppy (Tomorrow's puppy) ini dilahirkan dari tiga induk pembawa (surrogate mother) yang berbeda. Untuk mengkloning, peneliti mengambil inti sel somatik dari bagian tubuh induk dan menyuntikkannya ke dalam sel telur yang telah dikosongkan. Sel rekayasa ini kemudian ditanam dalam rahim induk pembawa.
Masing-masing telah dipastikan memiliki sifat genetika yang sama dengan anjing induknya yang diketahui sebagai pelacak terbaik. Dengan sifat genetika yang seragam, anjing-anjing tersebut diharapkan memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan pelacakan seperti induknya.
Selama ini dari sekian banyak anjing pelacak yang dilatih tingkat keberhasilannya hanya 30 persen. Para ilmuwan Korea Selatan yakin kloning akan meningkatkan tingkat keberhasilan pelatihan hingga 90 persen.
Jurubicara kantor bea cukai Korea Selatan menyatakan seluruh anjing kloning telah lulus ujian pertama untuk perilaku dan kulaitas genetika. Setelah menjalani pelatihan tahap kedua, anjing-anjing tersebut siap memulai debutnya pada Juni 2008.(BBC/WAH)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang