Jangan Percaya Bocoran UN

Kompas.com - 22/04/2008, 06:47 WIB

JAKARTA, SELASA-Para siswa kelas 3 SMA dan sederajat diimbau tidak percaya atas adanya bocoran kunci jawaban ujian nasional (UN) yang digelar, Selasa (22/4) hingga Kamis (24/4). Jika ada pihak-pihak yang menawarkan kunci jawaban, dipastikan itu palsu.

"Siswa harus percaya diri dan jangan terprovokasi. Jangan percaya kalau ada yang mengatakan soal UN bocor, seolah-olah ada kunci jawaban, tapi ternyata malah salah semua," ujar Kepala Dinas Pendidikan. Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI Jakarta, Margani di Jakarta, Senin (21/4).

Kata Margani, siswa tidak boleh curang, termasuk mencontek. Kalau siswa mencontek, tentu akan merugikan dia sendiri.  Isu kebocoran soal UN, Senin kemarin memang sempat mengemuka. Namun, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) meyakinkan, hingga kemarin petang soal UN tidak bocor sama sekali.

"Laporan yang diterima auditor kami, ada bundelan soal beredar di masyarakat yang diduga soal UN 2008. Kami langsung menindaklanjuti ke BSNP dan Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas, ternyata bukan soal UN 2008," kata Marhusa Panjaitan, Inspektur III Inspektorat Jenderal Depdiknas.

Sementara Burhanuddin Tola, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Depdiknas, mengatakan pihaknya sudah memeriksa bundelan soal UN yang ditemukan di masyarakat. Ternyata soal tersebut bukan soal UN asli yang dicetak pemerintah untuk UN SMA tahun ini. "Saya pastikan bundelan soal yang dilaporkan itu soal UN tahun-tahun sebelumnya. Saya imbau, orangtua dan siswa jangan tergiur dengan iming-iming bocoran soal dan kunci jawaban.
Percaya saja kepada diri sendiri supaya berhasil dalam UN nanti," kata Burhanuddin.

Peserta

Sebanyak 123.000 siswa SMA/SMK dan sederajat di DKI Jakarta mengikuti UN. Mereka harus mendapat nilai rata-rata minimal 5,25 agar bisa lulus atau salah satu nilai ujian mendapat angka 4,00 dan mata ujian lainnya minimal 6,00. Jika siswa tidak lulus, mereka harus mengulang pelajaran di sekolah atau mengikuti UN Pendidikan Kesetaraan Paket C. "UN ini ujian utama, sehingga siswa harus lulus. Kalau nilai siswa tidak memenuhi syarat, harus mengulang selama setahun," kata Wakil Kepala SMKN 38, Tanahabang, Mimin, Senin.

Mimin mengingatkan para siswa agar tidak terjebak dengan isu yang tidak bertanggung jawab. "Jangan percaya dengan bocoran jawaban yang dikirim melalui pesan singkat (short message service; SMS). Itu bohong, jangan mencelakakan diri dan mencelakakan sekolah. Sudah belajar tiga tahun harus percaya diri," katanya.

Hal serupa dikatakan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2, Jakarta Pusat, Hariyono. Dia mengatakan, siswa sudah disiapkan mengikuti UN dan dilatih mental untuk percaya diri. "Jangan percaya isu-isu menyesatkan, " katanya.

Di SMAN 2 juga ada siswa dari sekolah lain menumpang UN, yaitu SMA Bala Keselamatan. "Numpang UN, karena sekolahnya belum diakreditasi pemerintah," kata Kepala SMAN 2, Sukardo.

Dijaga 24 jam

Pendistribusian soal UN untuk SMA/SMK dan sederajat di DKI, Senin kemarin, berlangsung aman dan lancar. Setiap pengiriman soal dikawal petugas kepolisian, tim pemantau independen (TPI) dari perguruan tinggi, dan panitia rayon. Pada rayon 09 di SMAN 70, Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, soal UN diterima pukul 07.00. Pengiriman soal dari percetakan di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur dilakukan PT Pos Indonesia.

Kepala SMAN 70, Pono Fadlullah, mengatakan, pada rayon 09, soal UN akan diambil oleh 28 sekolah dengan jumlah siswa 4.325 orang. "Kita pilah-pilah untuk sekolah-sekolah di Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Cilandak," ujarnya. Setiap sekolah akan dijaga selama 24 jam oleh dua polisi, dibantu tiga petugas satpam sekolah.

Pada hari pertama UN, Selasa ini, Gubernur DKI Fauzi Bowo akan memantau ke tiga sekolah di Jakarta Timur, yaitu SMKN 58 di Bambuapus, Madrasah Aliyah Negeri 2, dan SMAN 39 di Cijantung. Penyelenggaraan UN dibiayai pemerintah pusat sebesar Rp 16.000/siswa. (Warta Kota/Tan, Sab)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau