KELAPA, SELASA - Penderitaan Bihar (55) warga Desa Mancung Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Belitung seolah tak berkesudahan. Setelah saluran pembuangannya (anus) tidak berfungsi lagi sejak tahun 2000 lalu dan dipindahkan ke perut, Bihar juga menderita sejenis penyakit kulit yang belum jelas namanya.
Selang beberapa hari setelah menjalani operasi pemotongan saluran pembuangan akibat terkena ambeyen, seluruh tubuh Bihar mulai dihinggapi rasa gatal dengan bercak-bercak merah, hingga akhirnya tumbuh penyakit kulit menyerupai kutil dan kembang kol, yang merata nyaris menutup sekujur tubuhnya, terutama kedua kaki hingga bawah perut.
Akibat penyakit itu, jari tangan dan kaki terasa kaku dan sulit digerakkan dengan sempurna. Kutil itu juga menyebar hingga perut, punggung dan wajah.
Bihar menuturkan, penyakit kulit ini tumbuh sejak delapan tahun lalu. Saat itu sedang menjala ikan menggunakan pukat. Mendadak seluruh badannya terasa gatal bukan kepalang, bercak-bercak merah mulai timbul dan beberapa hari kemudian muncul sejenis kutil.
"Kalau kami orang kampung nyebut penyakit ini bubuk makan kulit, ya macam kutilan gini akhirnya. Ketika kambuh, waduh sangat gatal sekali, kaku disertai dengan panas dingin," tutur Bihar ditemui dikediamannya di Desa Mancung Kecamatan Kelapa Selasa (22/4).
Anehnya, penyakit kulit menyerupai kutil dan permukaan kembang kol ini, beberapa minggu setelah tumbuh sempurna kemudian mengelupas satu persatu meski tidak dalam waktu bersamaan, tapi menyisakan bercak kemerahan di kulit.
Namun, beberapa minggu kemudian di bekas kutil-kutil tersebut tumbuhi lagi kutil-kutil baru, begitu seterusnya hingga menyebabkan permukaan kulit menjadi keras dan kaku.
Jari-jari tangan Bihar juga tidak bisa digerakkan lagi secara normal, bahkan jari kelingking dan jari tengah sudah membengkok beberapa tahun setelah terserang penyakit itu.
"Kalau ada duit kami berobat, tapi kalau tidak ada duit ya tidak berobat, ini sekarang banyak yang ngelupas, nanti (kutilkutil) bisa tumbuh lagi, begitu seterusnya. Jadi sudah delapan tahun ini saya tidak bisa memberi nafkah apapun kepada keluarga saya, tangan ini sudah kaku tidak bisa ditekuk lagi," kata bapak lima anak ini.
Begitu kakunya tangan Bihar, bahkan, untuk menyuapkan makanan dan minuman ke mulutnya pun tidak mampu. Jemarinya sudah tidak bisa lagi digunakan untuk memegang.
Sebelum menjalani operasi pemotongan dan pemindahan saluran pembuangan air besar, untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, Bihar seharihari nglangkung (buruh serabutan), kadang sebagai nelayan sungai. Namun, setelah pemindahan itu, ditambah tumbuhnya kutil, Bihar hanya bisa tinggal di rumah, tanpa satu pun kegiatan.
Sang istri, Marunah (45), lah yang kini menggantikannya menjadi tulang punggung penyambung hidup keluarga itu dengan menyadap getah karet.
Segala macam obat, baik obat dari dokter maupun tradisional sudah ditelannya demi mengusir penyakit kulit yang membuatnya lumpuh itu. Keluar masuk rumah sakit pun sudah tidak terhitung lagi.
"Sampai di rumah sakit Pangkalpinang, di sana tidak ada yang bisa mengobati, alasannya waktu itu rumah sakit tidak ada dokter ahli kulit. Kami disarankan berobat ke Jakarta, tapi maklumlah, lihat sendiri keadaan ekonomi kami ini. Kami tidak punya biaya kalau sampai ke Jakarta sana, ya akhirnya kami pasrah seperti inilah," ujar Bihar.
Di keluarga itu, bukan hanya Bihar yang sakit. Kaki Suryana (26), anaknya, tidak bisa lagi digerakkan dengan sempurna akibat kecelakaan lalu lintas beberapa waktu lalu.
Keluarha Bigar tergolong keluarga tidak mampu alias keluarga miskin (gakin), yang saat ini sangat mengharapkan dan membutuhkan uluran tangan dari dermawan dan pemerintah daerah, untuk membantu pengobatan penyakit kulit yang ia deritanya. "Hanya itu saja yang kami harapkan, kami tidak punya apaapa," ucapnya.
Sekdes Mancung Mansah mengatakan, untuk memperlancar upaya pengobatan Bihar ke rumah sakit, pemerintah desa terus membekali dengan surat keterangan tidak mampu (SKTM.
"Dia memang keluarga miskin, sekarang kalau berobat bekalnya SKTM, sudah delapan tahun Pak Bihar menderita penyakit seperti kulit itu," ujar Mansah.(riyadi)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang