SAMARINDA, SELASA - Kalangan pendidikan di Samarinda, Kalimantan Timur, menyesalkan listrik padam saat ujian nasional berlangsung, Selasa (22/4). Sejumlah sekolah terpaksa menghidupkan mesin pembangkit listrik meski suaranya mengganggu siswa saat mengerjakan soal-soal.
"Kami sudah minta Perusahaan Listrik Negara agar jangan ada pemadaman saat ujian sebab mengganggu siswa, " kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda, Mugni Badaruddin, usai memantau UN di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Samarinda.
"Listrik cuma padam tiga puluh menit tetapi memaksa kami menghidupkan mesin yang suaranya mengganggu siswa berkonsentrasi, " kata Kepala SMK Negeri 1 Samarinda, Suwar.
Menurut Suwar, UN Bahasa Indonesia dimulai tepat pukul 08.00 Wita. Saat itulah listrik padam hingga pukul 08.30 Wita. Akibatnya, kalangan siswa sempat bingung. Agar kelas tak gelap, mesin pembangkit pun dihidupkan.
I Gusti Bagus Eri, siswa Kelas 3 Teknologi Informasi SMK Negeri 1, mengatakan, listrik padam mengganggu dirinya berkonsentrasi. Apalagi, soal-soal UN ternyata lebih sulit daripada yang pernah dibuat lalu diuji coba sekolah beberapa bulan lalu.
Ancaman Mutasi
Tahun ini, Dinas Pendidikan Samarinda menargetkan 98,5 persen siswa lulus UN. Hanya 159 dari 7.977 siswa yang tak lulus. Mugni mengancam memutasi kepala sekolah yang tak berhasil melebihi target kelulusan siswa 75 persen.
"Jika yang lulus cuma 75 persen artinya kepala sekolah tak bekerja, " kata Mugni menegaskan. Mutasi akan berlaku di kalangan kepala sekolah negeri. Kepala sekolah swasta yang dianggap tak berhasil akan diberi surat peringatan lewat yayasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang