Sedang Kerjakan UN, Listrik Mati

Kompas.com - 22/04/2008, 18:35 WIB

SAMARINDA, SELASA - Kalangan pendidikan di Samarinda, Kalimantan Timur, menyesalkan listrik padam saat ujian nasional berlangsung, Selasa (22/4). Sejumlah sekolah terpaksa menghidupkan mesin pembangkit listrik meski suaranya mengganggu siswa saat mengerjakan soal-soal.

"Kami sudah minta Perusahaan Listrik Negara agar jangan ada pemadaman saat ujian sebab mengganggu siswa, " kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda, Mugni Badaruddin, usai memantau UN di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Samarinda.

"Listrik cuma padam tiga puluh menit tetapi memaksa kami menghidupkan mesin yang suaranya mengganggu siswa berkonsentrasi, " kata Kepala SMK Negeri 1 Samarinda, Suwar.

Menurut Suwar, UN Bahasa Indonesia dimulai tepat pukul 08.00 Wita. Saat itulah listrik padam hingga pukul 08.30 Wita. Akibatnya, kalangan siswa sempat bingung. Agar kelas tak gelap, mesin pembangkit pun dihidupkan.

I Gusti Bagus Eri, siswa Kelas 3 Teknologi Informasi SMK Negeri 1, mengatakan, listrik padam mengganggu dirinya berkonsentrasi. Apalagi, soal-soal UN ternyata lebih sulit daripada yang pernah dibuat lalu diuji coba sekolah beberapa bulan lalu.

Ancaman Mutasi

Tahun ini, Dinas Pendidikan Samarinda menargetkan 98,5 persen siswa lulus UN. Hanya 159 dari 7.977 siswa yang tak lulus. Mugni mengancam memutasi kepala sekolah yang tak berhasil melebihi target kelulusan siswa 75 persen.  

"Jika yang lulus cuma 75 persen artinya kepala sekolah tak bekerja, " kata Mugni menegaskan. Mutasi akan berlaku di kalangan kepala sekolah negeri. Kepala sekolah swasta yang dianggap tak berhasil akan diberi surat peringatan lewat yayasan.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau