Harga Sembako Tidak Stabil, Pedagang Mengeluh Kesulitan

Kompas.com - 23/04/2008, 20:43 WIB

BREBES, RABU - Sejumlah pedagang sembako maupun pedagang makanan di Kabupaten Brebes mengeluh kesulitan menjalankan usaha, akibat tidak stabilnya harga berbagai bahan kebutuhan pokok. Mereka terpaksa mengeluarkan modal tambahan, agar usahanya tetap berjalan. Selain tidak stabil, sejumlah pedagang juga mengeluh mulai kesulitan mendapatkan pasokan beras.

Heni (30), pedagang sembako di Pasar Induk Brebes, Rabu (23/4) mengatakan, hingga saat ini harga berbagai kebutuhan pokok masih tinggi. Harga minyak goreng curah kualitas pertama Rp 13.000 per kilogram, minyak goreng curah kualitas kedua Rp 10.700 per kilogram, dan telur Rp 13.000 per kilogram.

Harga terigu dan tepung tapioka juga beranjak naik, sekitar Rp 500 per kilogram. Sementara harga beras masih stabil, sekitar Rp 4.500 per kilogram untuk jenis C4 kualitas standar.

Meskipun demikian, saat ini pasokan beras mulai sulit diperoleh di pasaran. Sejak pemerintah menetapkan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah dan beras, sejumlah tempat penggilingan padi yang menjadi langganannya mengaku tidak memiliki persediaan beras.

Menurut Heni, mahalnya harga berbagai bahan kebutuhan pokok sangat menyulitkan pedagang. Ia mengaku harus menambah modal usaha, agar mampu bertahan. Padahal keuntungan yang diperolehnya tetap, bahkan cenderung turun akibat menurunnya penjualan.

Hal senada disampaikan Parno (39), pedagang sembako lainnya di Pasar Induk Brebes. Menurut dia, kenaikan harga berbagai bahan kebutuhan pokok menyebabkan penjualannya menurun.

Bahkan sejak dua pekan lalu, ia tidak lagi menjual minyak goreng curah kualitas pertama. Pasalnya, minyak goreng jenis tersebut tidak laku di pasaran. Seju mlah konsumennya beralih menggunakan minyak goreng curah kualitas kedua, yang harganya lebih murah.

Volume penjualan minyak gorengnya juga turun. Sebelumnya ia mampu menjual 50 kilogram minyak goreng per hari, namun saat ini hanya sekitar 20 kilogram minyak goreng yang terjual setiap harinya.

Akibat tidak stabilnya harga berbagai bahan kebutuhan pokok, saat ini ia tidak berani membeli barang dalam jumlah banyak. Parno hanya membeli barang secukupnya, yang dapat terjual dalam satu hari.

Sunarti (49), pedagang warteg di Jalan Ahmad Yani Brebes juga mengaku semakin kesulitan menjalankan usaha, akibat mahalnya harga bahan kebutuhan pokok. Kenaikan harga tersebut tidak dapat diimbangi dengan kenaikan harga makanan yang dijualnya.

Selama ini, ia sudah memiliki pelanggan yang cukup banyak. Apabila harga makanan dinaikkan, ia khawatir akan kehilangan pelanggan. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Sunarti terpaksa mengurangi takaran maupun porsi makanan. Ia berharap harga sembako dapat kembali stabil dan murah.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau