Pupuk Langka Petani Gunakan Kotoran Ternak

Kompas.com - 28/04/2008, 17:20 WIB

LAMONGAN, SENIN  - Pupuk produksi pabrikan semakin mahal dan langka. Akibatnya, sejumlah petani di Desa Sidogembul, Kecamatan Sukodadi, Kabupaten Lamongan, menggunakan pupuk dari kotoran kambing untuk tanaman padi mereka.

Petani menggunakan alternatif kotoran hewan agar tanaman mereka tidak mati. Hal yang sama juga dilakukan petani di Balongpanggang dan Benjeng Gresik. Stok urea habis digunakan untuk pemupukan ulang saat tanaman padi dilanda banjir Kali Lamong, Februari dan Maret lalu.

Harga pupuk urea bahkan mencapai Rp 70.000 hingga Rp 85.000 per zak isi 50 kilogram. Itu pun barangnya susah didapat. Pupuk SP-36 di pasaran mencapai Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per zak isi 50 kg. Salah seorang petani di Dusun Pagak Desa Sidogembul, Samaji (40), Senin (28/4), mengatakan, sejak mulai tanam dia menggunakan pupuk kandang dari kotoran kambing karena pupuk pabrikan mahal dan langka.

Menurut dia, untuk ukuran areal 100 meter persegi sedikitnya dibutuhkan pupuk kandang satu zak. Dia menggunakan pupuk kandang sejak pemupukan pertama sebab sampai kini belum mendapakan urea. Mahal dan langkanya pupuk pabrikan, terutama jenis urea, bisa jadi karena ada yang membeli dengan sistem borong lalu dijual lagi agar dapat untung. Samaji mengatakan, harga urea hampir Rp 90.000, itu pun barangnya tidak ada.

Bencana banjir luapan Kali Lamong di Gresik juga menyebabkan kebutuhan pupuk untuk sektor pertanian, khususnya padi, di Gresik meningkat dua kali lipat dari kondisi normal. Bahkan, sebagian besar harus ditanam ulang dan dipupuk dari awal.

Pengurus Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Cabang Gresik Asikin Hariyanto mengatakan, di wilayah Benjeng dan Balongpanggang memasuki tahap pemupukan kedua. Tanaman memasuki masa generatif atau peranakan, namun stok urea berkurang. Stok urea yang dimiliki petani sudah terpakai Februari hingga Maret lalu. Untuk tiga fase pemupukan terakhir menggunakan pupuk kandang.

Asikin menjelaskan, idealnya dalam setiap hektar areal pertanian dalam satu kali musim tanam membutuhkan pupuk 2-3 kuintal. Dalam kondisi seperti sekarang ini yang terpenting memberdayakan mental petani dan mengintensifkan pola pemupukan berimbang.

Penggunaan pupuk urea bisa dikurangi dengan sosialisasi penggunaan pupuk organik. Kalau petani hanya menggunakan urea tidak disertai penggunakan NPK/Phonska hasilnya juga kurang bagus. Menurut Asikin, sosialisasi harus digencarkan untuk meminimalkan masalah.

Dia menambahkan, pola pemupukan berimbang itu sangat berpengaruh pada kualitas tanaman. Persoalannya sekarang stok pupuk yang dimiliki petani berkurang karena digunakan untuk memupuk ulang setelah tanaman diterjang banjir.

Banjir luapan Bengawan Solo yang terjadi sejak Desember dan baru benar-benar surut ini menjadi salah satu penyebab kekurangan pupuk. Petani di wilayah Kecamatan Laren, Lamongan, dan Widang, Kabupaten Tuban, harus memupuk ulang sehingga kebutuhan pupuk naik dua kali lipat.

Syarif Usman mengatakan, kebutuhan pupuk naik di daerah-daerah yang areal pertaniannya dilanda banjir, seperti Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, serta Ngawi. Menurut dia, yang penting penyaluran pupuk harus diawasi agar banjir tidak dijadikan alasan untuk menaikkan harga seenaknya.

Syarif juga berharap Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 356 Tahun 2004 yang pola pendistribusan pupuk bersubsidi dihapuskan. Menurut dia, SK itu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi pada petani.

Syarif memandang perlu penambahan distributor dalam satu atau dua kecamatan satu distributor agar tidak terjadi monopoli. Penambahan distributor tidak merugikan, tapi justru membantu kelancaran. Segera buat aturan baru tentang pasar bebas untuk pupuk dengan ti dak ada pembatasan wilayah.

Selain masalah pupuk, petani juga akan menghadapi musim kemarau. Biasanya lahan pertanian kesulitan mendapatkan air dan tanaman lebih mudah mati. Mengantisipasi musim kemarau para petani di Kecamatan Sukodadi mulai membuat sumur bor air bawah tanah untuk mengairi areal persawahan mereka.

Salah seorang petani di Dusun Sumberaji, Desa Bulak, Kecamatan Sukodadi, Lamongan, Sunari (45), menyatakan, sumur bor dibuat untuk persiapan menjelang musim kemarau. Dengan sumur bor bisa menghindari agar padi yang ditanam tidak kekurangan air dan bisa dipanen tepat waktu. Dia mengatakan, seharusnya pemerintah bisa membuat saluran irigasi teknis yang baik atau memberikan bantuan pompa kepada petani.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau