Sekjen PBB Pimpin Gugus Tugas Krisis Pangan

Kompas.com - 30/04/2008, 09:26 WIB

NEW YORK, RABU  - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon mengumumkan bahwa ia akan memimpin gugus tugas yang akan mengoordinasikan upaya PBB dalam menangani berbagai krisis global akibat meningkatnya harga pangan dunia. Demikian diungkapkan juru bicara Ban Ki-Moon, Marie Okabe, di Markas Besar PBB, New York, Selasa (29/4) atau Rabu (30/4) waktu Indonesia.
    
Gugus tugas yang dinamai "Task Force on Global Food Crisis" tersebut terdiri atas para kepala badan, dana dan program PBB, Bretton Woods, lembaga-lembaga moneter, para ahli PBB, serta lembaga internasional terkemuka.

Menurut Okabe, Ban Ki-moon mengumumkan posisinya di gugus tugas tersebut dalam pernyataan resmi yang dihasilkan di Bern, Selasa, setelah 27 kepala badan, dana dan program PBB yang tercakup dalam Chief Executive Board (CEB) melakukan pertemuan dua hari di ibu kota Swiss itu untuk membahas krisis pangan dunia.

"Sekjen juga meminta semua pemimpin dunia berupaya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi tentang Keamanan Pangan di Roma, 3 hingga 5 Juni mendatang," kata Okabe.

Gugus Tugas soal Krisis Pangan Global memiliki dua koordinator, yaitu Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan John Holmes di New York dan Koordinator Senior Sistem PBB Urusan Influensa David Nabarro di Jenewa.

Menurut Ban, para kepala sistem PBB, yaitu CEB, melihat bahwa harga pangan saat ini telah menjadi tantangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu CEB sepakat tentang langkah-langkah konkret yang harus diambil dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

"Sekjen mengatakan, masalah daruratnya adalah bahwa kita semua sepakat harus ada penyediaan makanan untuk mereka yang kelaparan," kata Okabe.

Pada saat yang sama, CEB meminta masyarakat internasional, terutama negara-negara maju, untuk segera membantu pendanaan penanganan darurat senilai 755 juta dollar AS melalui Program PBB untuk Pangan Dunia (WFP).

"Prioritas lain, menurut sekjen, adalah bahwa dunia harus memastikan ketersediaan makanan untuk hari esok, antara lain dengan membantu para petani agar pada tahun-tahun mendatang kita tidak perlu mengalami kekurangan pangan," kata Okabe.

"Kita menyaksikan masalah kelaparan yang meningkat, demikian pula dengan kekurangan gizi yang telah demikian memberatkan lembaga-lembaga kemanusiaan dalam memenuhi kebutuhan kemanusiaan, terutama karena pendanaan yang dijanjikan belum terwujud," kata Ban Ki-moon dalam jumpa pers di Bern.

Sekjen PBB asal Korea Selatan itu mengingatkan bahwa tanpa pendanaan penuh untuk kebutuhan darurat, dunia bisa diartikan tengah membiarkan munculnya risiko kasus kelaparan yang semakin bertambah serta kekurangan gizi dan kerusuhan sosial dengan skala yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Protes dan kerusuhan belakangan ini telah terjadi di berbagai negara di dunia karena meningkatnya berbagai kebutuhan bahan makanan, seperti beras, gandum, dan jagung.

Ban mencatat bahwa gelombang meningkatnya harga pangan antara lain disebabkan oleh menanjaknya harga minyak, kurangnya investasi di bidang pertanian, meningkatnya permintaan, serta cuaca buruk yang kerap terjadi di berbagai belahan dunia.

"Saya yakin bahwa kita bisa menghadapi krisis pangan global ini. Kita punya sumber dayanya. Kita punya pengetahuan. Kita tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu kita perlu memikirkan hal ini tidak hanya sebagai masalah, tetapi juga sebagai peluang," kata Ban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau