NEW YORK, RABU - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon mengumumkan bahwa ia akan memimpin gugus tugas yang akan mengoordinasikan upaya PBB dalam menangani berbagai krisis global akibat meningkatnya harga pangan dunia. Demikian diungkapkan juru bicara Ban Ki-Moon, Marie Okabe, di Markas Besar PBB, New York, Selasa (29/4) atau Rabu (30/4) waktu Indonesia.
Gugus tugas yang dinamai "Task Force on Global Food Crisis" tersebut terdiri atas para kepala badan, dana dan program PBB, Bretton Woods, lembaga-lembaga moneter, para ahli PBB, serta lembaga internasional terkemuka.
Menurut Okabe, Ban Ki-moon mengumumkan posisinya di gugus tugas tersebut dalam pernyataan resmi yang dihasilkan di Bern, Selasa, setelah 27 kepala badan, dana dan program PBB yang tercakup dalam Chief Executive Board (CEB) melakukan pertemuan dua hari di ibu kota Swiss itu untuk membahas krisis pangan dunia.
"Sekjen juga meminta semua pemimpin dunia berupaya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi tentang Keamanan Pangan di Roma, 3 hingga 5 Juni mendatang," kata Okabe.
Gugus Tugas soal Krisis Pangan Global memiliki dua koordinator, yaitu Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan John Holmes di New York dan Koordinator Senior Sistem PBB Urusan Influensa David Nabarro di Jenewa.
Menurut Ban, para kepala sistem PBB, yaitu CEB, melihat bahwa harga pangan saat ini telah menjadi tantangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Karena itu CEB sepakat tentang langkah-langkah konkret yang harus diambil dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
"Sekjen mengatakan, masalah daruratnya adalah bahwa kita semua sepakat harus ada penyediaan makanan untuk mereka yang kelaparan," kata Okabe.
Pada saat yang sama, CEB meminta masyarakat internasional, terutama negara-negara maju, untuk segera membantu pendanaan penanganan darurat senilai 755 juta dollar AS melalui Program PBB untuk Pangan Dunia (WFP).
"Prioritas lain, menurut sekjen, adalah bahwa dunia harus memastikan ketersediaan makanan untuk hari esok, antara lain dengan membantu para petani agar pada tahun-tahun mendatang kita tidak perlu mengalami kekurangan pangan," kata Okabe.
"Kita menyaksikan masalah kelaparan yang meningkat, demikian pula dengan kekurangan gizi yang telah demikian memberatkan lembaga-lembaga kemanusiaan dalam memenuhi kebutuhan kemanusiaan, terutama karena pendanaan yang dijanjikan belum terwujud," kata Ban Ki-moon dalam jumpa pers di Bern.
Sekjen PBB asal Korea Selatan itu mengingatkan bahwa tanpa pendanaan penuh untuk kebutuhan darurat, dunia bisa diartikan tengah membiarkan munculnya risiko kasus kelaparan yang semakin bertambah serta kekurangan gizi dan kerusuhan sosial dengan skala yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Protes dan kerusuhan belakangan ini telah terjadi di berbagai negara di dunia karena meningkatnya berbagai kebutuhan bahan makanan, seperti beras, gandum, dan jagung.
Ban mencatat bahwa gelombang meningkatnya harga pangan antara lain disebabkan oleh menanjaknya harga minyak, kurangnya investasi di bidang pertanian, meningkatnya permintaan, serta cuaca buruk yang kerap terjadi di berbagai belahan dunia.
"Saya yakin bahwa kita bisa menghadapi krisis pangan global ini. Kita punya sumber dayanya. Kita punya pengetahuan. Kita tahu apa yang harus dilakukan. Karena itu kita perlu memikirkan hal ini tidak hanya sebagai masalah, tetapi juga sebagai peluang," kata Ban.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang