Balada Si Ali bin Atmo dari Sidoarjo

Kompas.com - 02/05/2008, 09:08 WIB

SURABAYA - Hari pertama pembukaan pengambilan formulir, Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur didatangi orang yang mengaku calon perseorangan atau independen. Orang tersebut bernama Ali Rifa'i bin Atmo, warga Buduran Sidoarjo. Ali yang datang jauh-jauh dari Sidoarjo tiba di KPU Jatim sejak pukul 07.45 WIB ini pupus harapanya setelah panitia menolak dirinya mengambil formulir.

Penolakan tersebut dikarenakan panitia tidak menyediakan formulir bagi calon independen. Setelah diberi pengertian oleh panitia, Ali akhirnya menerima alasan panitia. “Kalau tidak bisa ikut, saya akan urus diri saya sendiri. Tapi ingat, kalau ada apa-apa, saya tidak akan ikut-ikut,” ujarnya sambil memberi ancaman kepada panitia, Kamis (1/5).

Ke KPUD, Ali datang membawa tas hitam, menggunakan sarung motif kotak-kotak warna gelap dan memakai peci. Setelah tidak diperbolehkan mengambil formulir, dia langsung nyelonong ke luar ruang pendaftaran.

Wakil Pokja Pencalonan Didik Prasetyono bercerita kepada wartawan, Ali orangnya tidak ngeh (kurang sehat jiwanya). Saat Didik bertanya dengan gurau kepada Ali bahwa cagub harus memakai celana, Ali langsung menjawab, “Ya saya sudah mengukur celana,” sahutnya spontan.

Menurut anggota panitia pencalonan Dwiwan Sungkarno, dalam aturan belum ada ketentuan yang membolehkan calon perseorangan ikut dalam pemilihan gubernur (pilgub) Jatim. Sehingga, KPUD menolak Ali yang mendaftar dengan jalur perseorangan.

“Dalam aturan, hanya parpol yang boleh mengambil formulir pencalonan. Dia (Ali) pada saat pemilihan presiden 2004 lalu juga ingin daftar di sini,” ujarnya sambil memperlihatkan aturan yang dipasang di atas meja.

Ali mengaku berniat mencalonkan diri melalui jalur perseorangan setelah mengetahui informasi dari media massa. Ia juga mengaku sudah didukung sejuta orang. Salah satu pendukungnya berasal dari pondok pesantren (ponpes) yang berada di Jl Ciliwung, Malang. Ia mengaku sudah keliling dari ponpes ke ponpes. Karena itu, Ali yakin dirinya sudah dikenal masyarakat luas. Selain itu, untuk maju dalam pilgub kali ini, Ali mengaku sudah menyiapkan mental.

“Saya kasihan melihat kondisi masyarakat saat ini. Banyak masyarakat miskin, bahkan konflik terjadi antar RT,” katanya.

Calon independen yang datang tidak hanya Ali. Abdul Ghofur yang datang ke KPUD bersama dua temanya, hanya mendapat penjelasan dari panitia. Ghofur mengaku, kedatangannya ke KPUD Jatim untuk mewakili pengasuh ponpes 'Ainul Yakin, Menganti (Gresik), yakni KH Mujibtabah, yang akan maju melalui jalur perseorangan.

“Saya ke sini mau mengambil formulir untuk KH Mujibtabah. Saat ini, beliau sudah didukung warga yang ada di 27 kabupaten di Jatim,” ujarnya.  

Sementara itu, bakal calon wakil gubernur (cawagub) Mudjiono datang ke KPUD pukul 10.30 WIB. Ia datang bersama Ketua DPD PNBK Jatim Rudy Sapolete, Sekretaris Wilayah DPW PBR Tonny Suryadi Wijaya, Wakil Sekretaris PPP M. Darojan dan Wakil Ketua DPP (Dewan Pimpinan Provinsi) PKPI Setiyono.

Mudjiono dan wakil empat partai tersebut sempat ditolak panitia pencalonan karena tidak membawa surat keputusan (SK) atau surat mandat dari Ketua dan Sekretaris DPW/DPD masing-masing partai. Namun, Tonny Suryadi Wijaya yang membawa SK diperbolehkan mengambil formulir meski surat mandat dari Ketua DPW PBR diserahkan besok.

“Saya pikir, cuma ambil formulir saja. Tidak tahu kalau parpol yang mengambil harus bawa surat mandat partai,” ujarnya, Kamis (1/5).

Wakil Ketua Pokja Pencalonan Didik Prasetyono akhirnya memberi kelonggaran bagi Tonny untuk mengambil formulir. Hal ini dilakukan setelah panitia pencalonan mencocokkan nama Tonny yang ada di KTP dengan SK DPW. Kepada Didik, Tonny berjanji hari ini akan menyerahkan surat mandat tersebut ke panitia pencalonan.

Menurut Didik, bagi partai yang sama-sama mengusung satu calon, cukup diwakili satu partai saja. Namun, saat mengembalikan formulir, yakni tanggal 6-12 Mei mendatang, harus ada SK (tentang pengajuan calon) dari masing-masing partai pengusung.  “Kami memberi kemudahan bagi mereka. Karena setelah kami cocokkan namanya di KTP dan SK ternyata sama, ya kami beri,” ujarnya.(surya/k6)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau