CILACAP, RABU-Jika harga bahan bakar minyak akan benar-benar naik pada Juni mendatang, beban warga Kecamatan Kampung Laut, Laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, dipastikan akan semakin berat. Dengan infrastruktur yang masih sangat terbatas saat ini pun, warga Kampung Laut harus menanggung beban hidup dua kali lipat dibandingkan warga yang tinggal di daratan maupun perkotaan di Cilacap.
Wartati (44), guru SD Lempongpucung, Desa Ujungalang, Rabu (7/5), mengatakan, untuk sekarang saja hampir seluruh warga Kampung Laut yang bermukim di sekitar pulau-pulau kecil di sekitar Laguna Segara Anakan sudah menanggung beban hidup sampai dua kali lipat dibandingkan masyarakat yang tinggal di daratan.
Untuk penerangan rumah misalnya, Wartati mencontohkan, dibutuhkan dua liter bensin untuk menghidupkan genset yang bisa digunakan dari pukul 18.00 sampai 23.00. Namun, harga per liter bensin di Kampung Laut lebih mahal Rp 1.000 dibandingkan harga normal yang hanya Rp 4.500 per liter. "Kalau sampai harga BBM naik lagi pastinya kami akan semakin kesulitan," tuturnya.
Begitu juga minyak tanah yang biasa digunakan para ibu rumah tangga. Menurut Tukijah (56), warga Dusun Lempong Pucung, harga minyak tanah di Kampung Laut sangat tergantung pada letak desa itu. Karenanya, harga minyak tanah yang seharusnya hanya Rp 2.500 per liter, di Kampung Laut harganya bisa mencapai Rp 3.000 sampai Rp 4.000. "Kalau desanya semakin jauh, harga minyak tanah bisa sampai Rp 4.000 per liter," ujarnya.
Menurut anggota Pengurus Anak Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kampung Laut, Salikun, sebaiknya kebijakan kenaikan harga BBM ini tak dipukul rata untuk seluruh wilayah di Indonesia. Kenyataannya, infrastruktur Kampung Laut masih sangat terbatas. "Setiap warga masih sangat mengandalkan perahu untuk bepergian. Biaya hidup kami menjadi dua kali lipat dibandingkan yang di kota," katanya.
Apalagi kondisi saat ini, lanjutnya, seluruh nelayan Kampung Laut sedang mengalami paceklik tangkapan ikan. Begitu juga dengan pertanian. Hasil penjualan padi tak akan bisa menutupi biaya BBM. "Sebaiknya untuk masyarakat di wilayah terpencil seperti kami dibant, bukannya dibebani dengan kenaikan harga BBM," ujarnya. (MDN)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang