BBM Naik, Beban Masyarakat Terpencil Semakin Berat

Kompas.com - 07/05/2008, 15:41 WIB

CILACAP, RABU-Jika harga bahan bakar minyak akan benar-benar naik pada Juni mendatang, beban warga Kecamatan Kampung Laut, Laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, dipastikan akan semakin berat. Dengan infrastruktur yang masih sangat terbatas saat ini pun, warga Kampung Laut harus menanggung beban hidup dua kali lipat dibandingkan warga yang tinggal di daratan maupun perkotaan di Cilacap.

Wartati (44), guru SD Lempongpucung, Desa Ujungalang, Rabu (7/5), mengatakan, untuk sekarang saja hampir seluruh warga Kampung Laut yang bermukim di sekitar pulau-pulau kecil di sekitar Laguna Segara Anakan sudah menanggung beban hidup sampai dua kali lipat dibandingkan masyarakat yang tinggal di daratan.

Untuk penerangan rumah misalnya, Wartati mencontohkan, dibutuhkan dua liter bensin untuk menghidupkan genset yang bisa digunakan dari pukul 18.00 sampai 23.00. Namun, harga per liter bensin di Kampung Laut lebih mahal Rp 1.000 dibandingkan harga normal yang hanya Rp 4.500 per liter. "Kalau sampai harga BBM naik lagi pastinya kami akan semakin kesulitan," tuturnya.

Begitu juga minyak tanah yang biasa digunakan para ibu rumah tangga. Menurut Tukijah (56), warga Dusun Lempong Pucung, harga minyak tanah di Kampung Laut sangat tergantung pada letak desa itu. Karenanya, harga minyak tanah yang seharusnya hanya Rp 2.500 per liter, di Kampung Laut harganya bisa mencapai Rp 3.000 sampai Rp 4.000. "Kalau desanya semakin jauh, harga minyak tanah bisa sampai Rp 4.000 per liter," ujarnya.

Menurut anggota Pengurus Anak Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kampung Laut, Salikun, sebaiknya kebijakan kenaikan harga BBM ini tak dipukul rata untuk seluruh wilayah di Indonesia. Kenyataannya, infrastruktur Kampung Laut masih sangat terbatas. "Setiap warga masih sangat mengandalkan perahu untuk bepergian. Biaya hidup kami menjadi dua kali lipat dibandingkan yang di kota," katanya.

Apalagi kondisi saat ini, lanjutnya, seluruh nelayan Kampung Laut sedang mengalami paceklik tangkapan ikan. Begitu juga dengan pertanian. Hasil penjualan padi tak akan bisa menutupi biaya BBM. "Sebaiknya untuk masyarakat di wilayah terpencil seperti kami dibant, bukannya dibebani dengan kenaikan harga BBM," ujarnya. (MDN)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau