LONDON, RABU - Amerika Serikat berisiko memulai Perang Dingin baru dengan upayanya meningkatkan pembangunan sistem perisai rudal di Eropa tengah dan timur.
Tudingan itu dilontarkan mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev dalam wawacara dengan harian Daily Telegraph, Rabu (7/5). Washington mengklaim sistem antirudal di Polandia dan Republik Czhechnya secara eksklusif untuk menangkal ancaman ’negara-negara bajingan’ seperti Iran. Namun, Gorbachev mengatakan pernyataan itu tidak bisa dipercaya.
Sebaliknya, dia mengatakan, pembangunan militer - ditambah ekspansi ke timur NATO kepada lingkungan pengaruh tradisional Rusia - dimaksudkan untuk menahan kebangkitan kembali Rusia, di mana Dmitry Medvedev dilantik sebagai presiden Rabu. "AS tak bisa menoleransi siapa pun yang bertindak independen. Setiap presiden AS selalu melakukan perang," katanya dalam wawancara yang dilakukan di Paris. "Mantan Presiden Vladimir Putin, yang akan menjadi perdana menteri bagi Medvedev, mungkin akan berperan langsung dalam kebijakan luar negeri Rusia, tidak akan memulai perang dengan AS atau negara lain berkaitan masalah itu," katanya.
"Kami melihat AS telah menyetujui suatu anggaran militer, dan menteri pertahanannya berjanji untuk memperkuat pasukan konvensional karena kemungkinan akan terjadi perang dengan China atau Rusia," katanya."Saya kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa AS akan melakukan perang terhadap seluruh dunia," tambahnya.
Sikap Gorbachev itu bertentangan dengan komentar-komentar Kremlin belakangan ini. Semula pandangan mereka sama, namun sebenarnya terdapat pertentangan terselubung yang kini mengemuka.
Mantan presiden itu mengatakan, menegakkan unsur-unsur pertahanan rudal akan berdampak pada perlombaan senjata baru dan itu sangat berbahaya. "Amerika berjanji NATO tidak akan bertindak di luar batas Jerman setelah Perang Dingin, namun sekarang separuh dari Eropa tengah dan timur menjadi anggota (NATO), lalu apa yang terjadi dengan janji mereka?" kata Presiden yang terkenal dengan gagasan keterbukaannya, Perestroika dan Glasnost. "Itu menunjukkan bahwa mereka tak bisa dipercaya," katanya. Ia menambahkan, kebijakan Pemerintah AS saat ini dikendalikan oleh orang-orang industri militer," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang