KAMMI Unjuk Rasa BBM di Tengah Perhelatan Keraton

Kompas.com - 09/05/2008, 12:25 WIB

YOGYAKARTA, JUMAT - Sekitar seratusan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Yogyakarta berunjuk rasa menolak rencana kenaikkan harga bahan bakar minyak. Aksi yang bersamaan dengan datangnya sejumlah pejabat, termasuk Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla, ke prosesi pernikahan anak ketiga Sultan Hamengku Buwono X itu mendapatkan pengawalan ketat aparat.

Bahkan, pengunjuk rasa sempat bersitegang dengan polisi di depan Gedung Agung lantaran ingin berusaha menyampaikkan aspirasi lebih dekat ke perhelatan di keraton.

Sebelumnya, demonstran yang memulai aksi dari perempatan Tugu sempat diingatkan untuk tidak mendekat ke Keraton oleh sekelompok orang yang mengenakan atribut Front Anti Komunis Indonesia, ketika masih berada di jalan Mangkubumi. Saat itu, pengunjuk rasa baru saja berorasi dan melempar beberapa buah tomat ke pagar kantor Pertamina Unit Pemasaran IV Yogyakarta.

Pengunjuk rasa yang melajutkan aksi mereka kemudian tertahan oleh barikade polisi di dekat pintu kereta api antara Jalan Mangkubumi dan Malioboro. Namun, setelah lama bernegosiasi mereka kembali berjalan menuju Gedung Agung dengan pengawalan ketat.

Menurut mereka, kenaikkan harga BBM menunjukkan bahwa pemerintah tidak sungguh-sungguh memerhatikan rakyat. Saat ini, baru sebatas rencana saja sudah memicu naiknya harga barang dan biaya transportasi.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau