Jakarta Bakal Macet Senin Ini

Kompas.com - 12/05/2008, 06:00 WIB

Laporan wartawan Kompas Windoro Adi T

JAKARTA, SENIN- Hari Senin (12/5) ini Jakarta bakal macet. Istana Merdeka dan Gedung MPR-DPR-DPD bakal dikepung ribuan pengunjuk rasa dari berbagai elemen. Mereka menolak kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM. Sebagian menuntut penuntasan kasus Trisakti, Semanggi I dan II, serta Kerusuhan Mei 1998.

Sejumlah aktivis yang dihubungi terpisah, Minggu (11/5), malam mengatakan, unjuk rasa kali ini adalah langkah pemanasan untuk aksi lebih besar pada hari Selasa (20/5) mendatang. Pada unjuk rasa pekan depan itu, mereka akan mengerahkan puluhan ribu pengunjuk rasa, termasuk pemogokan ribuan angkutan kota (Angkot), terutama Angkot Tangerang-Jakarta Barat.

Tuntutan demonstran pada hari Kebangkitan Nasional itu tunggal, yakni batalkan kenaikan harga BBM. ”Ini cuma pemanasan. Puncak unjuk rasa akan terjadi tanggal 20 Mei,” ungkap Sekjen Front Pemuda '98, Wahab.

Informasi yang diterima Kompas, lewat faksimili, SMS, maupun telepon, menunjukkan, para demonstran yang turun ke jalan hari Senin ini terdiri dari tiga kelompok besar, mahasiswa, kaum miskin kota, dan organisasi massa lainnya.

Mereka yang akan berunjuk rasa di Istana Merdeka adalah, Front Rakyat Menggugat yang terdiri dari unsur kelompok Prodemokrasi, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, SMRI, Papernas, Repdem, Serikat Tani, dan Forum Pemuda ’98. Jumlah mereka 2000-3000 orang.  Forum Betawi Rempug pun akan mengerahkan demonstran sebanyak itu.

Komite Bangkit Indonesia, terdiri dari SBTPN, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bogor, Pena ’98, Gapermindo, Universitas Bung Karno. Jumlah mereka sekitar 1000 orang. BEM Seluruh Indonesia yang terdiri dari BEM UI, Universitas Islam Jakarta, PNJ, Sekolah Tinggi Administrasi Negara, BSI, Institut Pertanian Bogor, Universitas Pajajaran, Universitas Pasundan, Universitas Gajah Mada, Universitas Islam Empat Lima, Institut Teknologi Surabaya. Jumlah mereka sekitar 1000 orang.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia akan mengerahkan 500 anggotanya. Jumlah demonstran yang sama akan dikerahkan Jaringan Aktivis Indonesia yang terdiri dari FPMPR, FKMJ, SBMI, dan KOMTI. Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi mengerahkan 100 anggotanya. Demikian pula dengan ABM. Sedang Kepresidenan Mahasiswa Trisakti akan mengerahkan 2000 mahasiswa.

Unjuk rasa yang digelar di Istana Merdeka terpusat pada penolakan kenaikan BBM, sedang demonstrasi di MPR-DPR-DPD juga akan mengusung tuntutan penuntasan kasus '98. Kasus yang disebut sebut sebagai pintu gerbang reformasi itu diduga diwarnai pelanggaran berat hak azasi manusia.

Kelompok demonstran yang mengusung tuntutan penuntasan kasus 1998, bergerak lebih mobil. Mereka bukan hanya akan ke Istana Merdeka, tetapi juga ke kompleks gedung MPR-DPR-DPD,  Kejaksaan Agung, ke makam sejumlah mahasiswa di Pondok Rangon, melakukan tabur bunga, orasi, dan mimbar bebas di Universitas Katolik Atma Jaya di Jalan Jenderal Sudirman, serta Universitas Kristen Indonesia di Salemba.

Sementara itu, sekitar 8000 perawat juga akan berdemonstrasi di kawasan Gedung MPR-DPR-DPD. Mereka menuntut segera disahkannya Rancangan Undang-Undang tentang Keperawatan.

Buka tutup

Koordinator Traffic Management Centre Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Komisaris Sambodo, mengimbau para pengguna jalan menghindari jalan di sekitar Monumen Nasional, Istana Merdeka, serta kawasan gedung MPR-DPR-DPD. ”Hindari kawasan tersebut karena dikhawatirkan kemacetan bakal 'menular' ke kawasan terdekat lainnya,” tuturnya.

Sambodo menjelaskan, polisi hanya akan melakukan pengalihan arus di sekitar kegiatan unjuk rasa di kedua titik utama--Istana dan DPR. ”Kami akan melakukan sistem buka-tutup arus, terutama dari arah harmoni menuju istana, serta bunderan Bank Indonesia ke Istana,” paparnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau