SURABAYA - Hidup Ronald L Djou (34), warga Desa Gura, Kecamatan Tobello, Maluku Utara, berujung tragis di sarang waria. Laki-laki yang tinggal di Gundih Rel Blok C/25 RT 02 RW 01 Surabaya ini meregang nyawa di RSU Dr Soetomo setelah lehernya disayat pisau saat menghabiskan malam Minggu di Taman Ketabang Kali, Minggu (10/5).
Pelakunya diduga waria yang menjadi teman kencan korban. Sebab para warian berkumpul di lokasi itu setiap malam. Apalagi pada sabtu malam, area yang berjuluk Taman Putra Putri Lingkungan Hidup itu 'dikuasai' waria.
Peristiwa itu berlangsung saat kawasan Taman Ketabang Kali masih ramai oleh warga. Jarum jam baru menunjukkan pukul 22.00. Ronald malam itu datang menggunakan sepeda motor KTM L 4941 MU.
“Dia memarkir sepeda motornya di pintu masuk, tidak membawa ke area taman,” ujar Kepala Polsek Genteng AKP Edy Widodo, Minggu (11/5).
Entah perkara apa yang memicu perselisihan itu, Setyo, satpam yang berjaga di areal proyek di seberang lokasi, mendengar teriakan minta tolong. “Dia sudah tergeletak di jok sepeda motornya,” ujar Setyo saat diperiksa sebagai saksi. Bersama dua rekannya, Setyo langsung membawa Ronald ke RSU Dr Soetomo. Nyawa sopir mobil sales keliling itu tak bisa diselamatkan. Dia meninggal dunia sekitar pukul 24.00.
Polisi yang mengetahui kejadian itu langsung menyisir TKP. Ceceran darah yang masih segar di lokasi berujung di sebuah pohon yang jaraknya beberapa meter dari tempat parkir sepeda motor korban. “Mungkin dia cekcoknya di tempat itu (bawah pohon), sebelum akhirnya lari dan berusaha menyelamatkan diri dengan naik sepeda motor,” ujar seorang penyidik Polsek Genteng.
Barang bukti yang diamankan polisi, selain sepeda motor, celana jins abu-abu, jaket hitam, dan uang tunai Rp 12.000. Saat diperiksa, pada tubuh korban terdapat luka sayatan di leher, punggung, dan bahu kanan. Namun, polisi belum bisa memastikan motif pembunuhan ini.
Dari alamat yang tertera pada kartu identitas korban, tidak terdapat nama Ronald L Djou. Rumah di Gundih Rel Blok C/25 RT 02 RW 01 ditempati pasangan Miskan dan Satimah. Keluarga ini mengaku tidak ada yang bernama Ronald di rumahnya. “Saya punya anak namanya Jumari, kalau Ronald tidak ada,” ujar Satimah. Ketua RT 02 Emi Rubiyanti juga mengaku tidak memiliki warga yang bernama Ronald. “Saya kenal semua warga di RT sini. Tapi tidak ada yang namanya Ronald,” kata Emi.
Hingga pukul 16.00 jenazah Ronald masih di Kamar Mayat RSU Dr Soetomo. Belum ada yang datang mengaku sebagai keluarganya. Baru pada pukul 18.00 datang seorang pria yang mengaku tetangga Ronald, dengan alamat Tengger, Kandangan, Benowo, Surabaya. Pria tersebut juga memberi nomor telepon. Setelah nomor itu dikontak, diterima seorang wanita bernama Ida yang mengaku kenal dengan Ronald. “Kami ketemu saat berada di luar pulau, yaitu Maluku, tempat asal kami,” ujarnya.
Ketika ditanya lebih jauh, Ida mengaku Ronald adalah kerabat jauh ayahnya. Ida tak mengetahui tempat tinggal Ronald selama di Surabaya. (surya/tja/k3/rie)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang