JAKARTA, SENIN - Masyarakat miskin di perkotaan dinilai lebih rentan terkena dampak negatif dari kebijkan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan dilakukan pemerintah awal Juni mendatang daripada masyarakat miskin di pedesaan.
Menurut salah satu peneliti dari Unit Pengkajian dan Penelitian Potensi daerah Institut Teknologi 10 November (UP3D-ITS) Tuti Agnes, hal ini disebabkan biaya listrik, angkutan dan minyak tanah punya pengaruh cukup besar bagi masyarakat miskin di perkotaan dibanding pengaruh terhadap masyarakat miskin di pedesaan yang relatif kecil.
"Untuk daerah pedesaan pengaruhnya kurang dari dua persen. Contohnya kalau mereka nggak bisa beli minyak tanah lagi ya ganti dengan kayu bakar atau batu bara," ujar Tuti di Jakarta, Senin (12/5).
Pemerintah memang akan fokus menurunkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi dari kenaikan BBM kepada masyarakat miskin di sepuluh kota, di antaranya Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Surabaya, Palembang, Kupang, Banjarmasin, dan Yogya.
Menurut Tuti, jika BLT diturunkan untuk daerah pedesaan, hanya akan cukup mengatasi makanan dan tidak menolong mereka untuk keluar dari faktor-faktor penyebab kemiskinan yang lain. "Pengeluaran-pengeluaran lain seperti listrik dan air tidak tercover. Berdasarkan evaluasi dua kali, BLT peruntukannya untuk makan," ujar Tuti.
Tuti juga mengkhawatirkan yang akan terjadi justru adalah penurunan kualitas untuk makanan karena menurut pengamatannya, dari Maret hingga April 2008 saja sudah ada kenaikan harga barang-barang sebesar 30 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang