Jelang Naiknya Harga BBM, Harga Komoditas Pokok Terus Melambung

Kompas.com - 13/05/2008, 21:27 WIB

BANDUNG, SENIN - Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM subsidi secara terbatas Senin (5/5) lalu disusul dengan naikknya harga sejumlah bahan pokok. Meskipun harga baru BBM belum ditetapkan, harga bahan pokok terus naik secara kontinyu setiap hari sejak pekan lalu.

Harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional di Bandung, seperti Pasar Kosambi, Pasar Cicadas, dan Pasar Andir menunjukkan peningkatan. Harga minyak goreng curah naik dari Rp 9.700 per liter hingga Rp 11.000 per liter, harga beras kualitas biasa naik dari Rp 4.500 per kilogram manjadi Rp 4.900 per kilogram, sedangkan harga beras kualitas super naik dari Rp 5.300 per kilogram hingga Rp 6.500 tiap kilogram.

Peningkatan harga juga terjadi pada komoditas mi yang semula Rp 29.000 per dus melonjak hingga Rp 41.000 per dus dan telur dari Rp 9.000 per kilogram menjadi Rp 12.500 per kilogram. Kenaikan harga juga terjadi pada minyak tanah yang pekan lalu hanya Rp 2.500 per liter menjadi Rp 4.000-Rp 4.500 per liter.

Nasihin, penjual bahan pokok di Pasar Cicadas, Selasa (13/5) di Bandung mengungkapkan, karena kenaikan harga komoditas yang serempak, omzet penjualannya turun hingga 80 persen. Sebelum rencana kenaikan harga BBM muncul, pendapatan sehari bisa mencapai Rp 2 juta, tapi sekarang paling-paling Rp 400.000 sehari, keluhnya.

Nasihin berharap, pemerintah segera menetapkan harga BBM yang baru sehingga harga bahan pokok menjadi stabil. Menurutnya, jeda penantian waktu penetapan harga BBM justru menciptakan ketidakstabilan harga dan tidak tentunya omzet.

Nasib yang sama dialami juga Nuryanto, penjual mi bakso di Jalan Laswi. Akibat penetapan kenaikan harga BBM, harga seluruh bahan baku dagangannya na ik. Harga bawang merah yang sepekan lalu masih Rp 7.000 per kilogram naik hingga Rp 15.000 per kilogram, daging ayam naik dari Rp 12.000 per kilogram menjadi Rp 18.000 per kilogram, dan mi telur naik dari Rp 11.000 per kilogram sampai Rp 1 5.000 per kilogram.

Semua harga naik, baik dari bahan baku, bumbu-bumbu, minyak goreng, hingga minyak tanah. Karena itu, saya terpaksa menaikkan harga Rp 1.000 per porsi, jelasnya.

Pemasukan tambahan

Untuk menyiasati berkurangnya pemasukan hasil dagangan karena melambungnya sejumlah harga, Nuryanto mencob a mencari pendapatan tambahan dengan berjualan minuman susu kemasan, mainan anak-anak, hingga tanaman hias.

Dalam situasi seperti ini, saya harus berusaha mencari pemasukan lain agar pemasukan tidak berkurang terus akibat naikknya harga. "Selain menambah pemasukan, jika usaha utama terpaksa berhenti, saya masih punya penghasilan lain, " ujarnya.

Usaha tambahan Nuryanto dilakukan dengan mengambil barang dagangan di daerah asalnya di Jawa Tengah dan kemudian membawanya ke Bandung untuk dijual. Untuk setiap dus susu kemasan yang dijualnya, ia mendapatkan keuntungan sekitar Rp 55.000.

Dari hasil penjualan tanaman hias , Nuryanto dapat mengumpulkan keuntungan sekitar Rp 50.000 dan dari mainan sekitar Rp 10.000 per buah. Semua saya lakukan karena situasi menuntut demikian. Kalau hanya mengandalkan satu sumber penghasilan, kebutuhan keluarga pasti kurang, tambahnya.

Sementara itu, Manager Komunikasi Perusahaan PT Pos Indonesia R Joesman Kartaprawira mengatakan, menyusul kenaikan harga BBM, pemerintah akan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) plus kepada enam kota, salah satunya Bandung.

Ekonom Universitas Pasundan Acuviarta mengungkapkan, kebijakan pemerintah memberikan BLT plus terkesan mendadak dan tidak terencana. Menurutnya, sejak tahun 2005, jumlah orang miskin di Indonesia terus bertambah sekitar 4,5 juta orang, karena itu jika pemerintah tidak melakukan pendataan ulang, dikhawatirkan pembagian BLT tidak akan mencakup seluruh rumah tangga miskin di Indonesia.

Bagi Acuviarta, kebijakan pemerintah seharusnya diarahkan pada usaha produktif yang lebih memberdayakan masyarakat, misalnya dengan penciptaan program padat karya melalui pembangunan sarana infrastruktur atau irigasi yang melibatkan masyarakat miski. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat meningkat dan masyarakat tidak terpuruk pada ketergantungan subsidi pemerintah.

(A01)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau