Nelayan Ancang-ancang Ganti Profesi

Kompas.com - 14/05/2008, 16:28 WIB

INDRAMAYU, RABU - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak membuat nelayan resah. Nelayan bahkan ada yang sudah berencana untuk beralih ke pekerjaan lain jika kenaikan harga bahan bakar minyak tak sebanding dengan pendapatan mereka sebagai nelayan.

Uas (40), pemilik Kapal Sarimulya yang berasal dari Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, mengakui penghasilan nelayan pas-pasan, bahkan jika apes mereka malah rugi. Sebab, sekali melaut selama 50 hari bisa menghabiskan 4.000 liter solar. Sedangkan hasil tangkapan tak selalu ada. Selasa (143/5) kemarin, misalnya, mereka hanya mendapatkan satu ton ikan tongkol. Hasil itu harus dibagi dengan 12 awak kapal setelah dikurangi biaya perbekalan selama 50 hari."Harga tongkol kualitas bagus pun tak naik, masih Rp 75.000 per kg. Kalau seperti ini paling kami hanya dapat Rp 75.000-Rp 100.000 dari bekerja sehari semalam di kapal," kata Uas.

Jika harga bahan bakar naik 30 persen, kemungkinan nelayan seperti Uas memilih menepikan kapalnya dan mencari usaha lain.

Yuli (35), nelayan dari Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, mengeluhkan hal yang sama. Perahu tradisionalnya malah sudah tak menggunakan solar lagi, tetapi diganti minyak tanah sejak kenaikan harga BBM tahun 2005 lalu. "Kalau sekarang naik lagi, kami tak akan sanggup melaut. Mungkin jadi buruh tani sajalah," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau