INDRAMAYU, RABU - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak membuat nelayan resah. Nelayan bahkan ada yang sudah berencana untuk beralih ke pekerjaan lain jika kenaikan harga bahan bakar minyak tak sebanding dengan pendapatan mereka sebagai nelayan.
Uas (40), pemilik Kapal Sarimulya yang berasal dari Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, mengakui penghasilan nelayan pas-pasan, bahkan jika apes mereka malah rugi. Sebab, sekali melaut selama 50 hari bisa menghabiskan 4.000 liter solar. Sedangkan hasil tangkapan tak selalu ada. Selasa (143/5) kemarin, misalnya, mereka hanya mendapatkan satu ton ikan tongkol. Hasil itu harus dibagi dengan 12 awak kapal setelah dikurangi biaya perbekalan selama 50 hari."Harga tongkol kualitas bagus pun tak naik, masih Rp 75.000 per kg. Kalau seperti ini paling kami hanya dapat Rp 75.000-Rp 100.000 dari bekerja sehari semalam di kapal," kata Uas.
Jika harga bahan bakar naik 30 persen, kemungkinan nelayan seperti Uas memilih menepikan kapalnya dan mencari usaha lain.
Yuli (35), nelayan dari Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, mengeluhkan hal yang sama. Perahu tradisionalnya malah sudah tak menggunakan solar lagi, tetapi diganti minyak tanah sejak kenaikan harga BBM tahun 2005 lalu. "Kalau sekarang naik lagi, kami tak akan sanggup melaut. Mungkin jadi buruh tani sajalah," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang