Buaya 7 Meter Itu Sudah Diringkus

Kompas.com - 16/05/2008, 11:54 WIB

BANYUASIN — Masih ingat cerita buaya sepanjang 7 meter yang menggemparkan itu? Warga Desa Mukut, Kecamatan Pulau Rimau, Banyuasin, yang selama ini ketakutan disergap buaya ketika mandi dan melakukan aktivitas mencari ikan di Sungai Batanghari sedikit bernapas lega.

Pasalnya, upaya penangkapan buaya yang beberapa bulan lalu menewaskan tiga korban dan melukai satu orang membuahkan hasil.

Tim penangkap buaya yang bekerja sejak 7 April 2008 berhasil menangkap seekor buaya dan 70 anak buaya yang berada di perairan Sungai Calik, anak Sungai Batanghari. Buaya yang berkeliaran di wilayah Desa Mukut sering disebut buaya mukut.

Tim yang diketuai M Zuber (54) beranggotakan Mat Asan, Sofian, Gani, Rudi, Madan, Dahlan, Hasan, dan Harun berhasil menangkap buaya mukut dengan panjang 3 meter, diameter badan sekitar 30 cm, dan memiliki bobot 150 kilogram, Kamis (15/5) dini hari. Buaya jantan yang diperkirakan berumur 16 tahun, sisiknya tebal coklat kehitaman. Juga tersirat warna kuning di bagian ekor dengan mata merah mencolok. Diperkirakan, buaya yang ditangkap ini bukan buaya yang memangsa warga Mukut hingga tewas. Sebab ada saksi yang melihat panjang buaya itu 7 meter.

Namun diyakini, buaya tersebut merupakan satu dari ratusan buaya ganas yang hidup di perairan Sungai Batanghari, Mukut, yang selalu mengincar warga Desa Mukut dan desa-desa sekitarnya.

M Zuber kepada Sriwijaya Post  menyatakan, proses penangkapan buaya itu dilakukan timnya sejak menjelang magrib dengan jalan mengintai di sejumlah titik yang dicurigai terdapat buaya. Dari hasil pengintai itu, tanpa sengaja senter yang mereka gunakan melihat seekor benda yang diyakini buaya tengah menempel di batang kayu pedado yang di atasnya terdapat tiga ekor monyet.

Setelah di lihat dari jarak 10 meter, ternyata benar seekor buaya yang tengah mengintai tiga ekor moyet yang sedang makan daun kayu persis berada di atas bibir sungai.

Melihat posisi buaya sudah mendekati pinggiran sungai, dua perahu getek yang digunakan tim perlahan mendekat seraya membentangkan tiga jaring ke arah buaya tersebut. Ketika buaya berada persis di pinggir sungai, tim yang di bagi dua itu melemparkan tombak, namun tidak tepat sasaran, sehingga buaya berusaha lari kembali ke sungai, namun usaha buaya menyelamatkan diri gagal, setelah tubuhnya terperangkap jaring yang telah di pasang. Setelah itu, tim yang terdiri 8 orang itu langsung mengikat kaki dan tangan buaya sehingga tidak dapat bergerak.

Menurut Zuber, petualangan yang mereka lakukan cukup melelahkan dan berliku-liku, paling tidak selama satu bulan ini dirinya dan anggota tim lainnya hampir setiap malam mulai pukul 18.00-07.00 melakukan pencarian terhadap buaya-buaya tersebut.

Sedikitnya, sudah 7 titik penetak (pertemuan sungai, red) sudah mereka intai untuk memburu Buaya Mukut. Tujuh titik penetak antara lain penetak Sungai Serikat, Sungai Langmalam, Sungai Sekanak, Sungai Bao, Sungai calik dan Sungai Batanghari Mukut.

Kendati buaya 7 meter yang mereka cari belum berhasil ditangkap, namun M Zuber merasa puas dengan hasil kerja tim mereka. “Kendati buaya ini bukanlah buaya 7 meter yang kami cari, namun hasil ini cukup membuat perasaan kami lega, puas, dan bangga,” kata Suami Rusmiati ini.

Menurut bapak 6 putra ini, setelah ditugaskan Pemkab Banyuasin untuk menangkap buaya mukut sejak 7 April lalu, selain buaya dengan panjang 3 meter ini, juga 70 anak buaya dengan panjang sekitar 30-50 cm berhasil mereka tangkap. Ketua Rt 5 Desa Mukut Suwanda ketika dihubungi mengatakan bahwa Warga Mukut Khususnya yang tinggal di Rt 5 cukup senang dengan tertangkapnya buaya mukut tersebut.

Bahkan menurut pria yang berasal dari Jawa timur itu, sejumlah warga yang mendengar kabar buaya mukut berhasil ditangkap semalam langsung menuju lokasi penangkapan. Semalam, warga ramai-ramai datang dan melihat langsung buaya yang berhasil ditangkap itu.

Kendati demikian, warga berharap proses penangkapan buaya terus dilakukan, mengingat buaya mukut sepanjang 7 meter yang biasa mengganggu warga Mukut belum berhasil ditangkap. Aktivitas warga sudah mulai normal kembali, namun belum tertangkapnya buaya 7 meter itu masih menakutkan warga. "Harapan kami, tim yang ditugasi menangkap buaya itu terus dilanjutkan, mengingat buaya ganas sepajang 7 meter yang sudah memakan korban ini belum ditangkap,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Banyuasin  Ali Imron Bamin didampingi Kepala Bidang Sanpras dan Perlindungan Mursyid M mengatakan, pihaknya cukup puas dengan hasil kerja tim tersebut. “Kendati buaya yang memakan korban belum berhasil ditangkap, paling tidak buaya 3 meter ini cukup membuktikan hasil kerja tim,” katanya.

Buaya itu, terang Ali, hari ini akan diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Palembang untuk dipelihara. “Karena buaya termasuk hewan yang dilindungi,” jelasnya. Sedangkan untuk kelanjutan tim, lanjut Ali, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Bupati Banyuasin Amiruddin Inoed, apakah proses penanggapan akan dilanjutkan atau tidak. (udn)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau