YINGXIU, SABTU - Gempa susulan yang berkekuatan 5,5 skala Richter, Jumat (16/5), memperparah kondisi terputusnya jalur komunikasi dan jalan di beberapa wilayah China bagian tengah yang sebagian besar di antaranya hancur akibat guncangan gempa bumi berkekuatan 7,9 skala Richter, Senin (12/5) lalu. Kejadian tersebut berlangsung saat tim SAR berhasil menyelamatkan 163 korban yang bertahan hidup sekitar 100 jam di bawah reruntuhan gedung yang roboh.
Memasuki Sabtu (17/5) subuh waktu setempat, tim SAR berusaha menemukan lebih banyak korban yang dapat diselamatkan. Pada saat yang sama, Pemerintah China mempersiapkan diri menghadapi tugas besar, seperti menyiapkan perumahan dan bantuan makanan bagi jutaan penduduk yang kehilangan tempat tinggal.
Puluhan ribu orang diduga terkubur di reruntuhan gedung atau belum diketahui nasibnya di wilayah bencana. Terdapat 12 juta warga yang menetap dalam radius 60 mil dari episentrum gempa Wenchuan saat bencana besar tersebut bermula awal pekan ini.
Menteri Perumahan China Jiang Weixin menjelaskan, lebih dari 4 juta apartemen dan rumah rusak atau hancur di Sichuan. Menghadapi amarah publik yang semakin memuncak pascagempa, Pemerintah China yang terbiasa mengendalikan pemberitaan media massa justru mengambil tindakan tidak lazim dengan mengajukan pertanyaan online kepada penduduk, mengapa ribuan gedung sekolah yang roboh tidak dibangun berdasarkan standar keamanan antiguncangan gempa bumi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang