TULUNGAGUNG, MINGGU - Setelah beberapa pekan terlihat tenang, kini aksi memborong minyak tanah kembali terjadi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sejumlah pangkalan minyak tanah yang ada di daerah itu dihiasi antrean panjang masyarakat yang ingin mendapatkan minyak tanah, Minggu.
Tak jarang kericuhan dan keributan kecil mewarnai antrean, apalagi warga mengabaikan kewajiban membawa kartu kendali setiap membeli minyak tanah. "Kalau nggak sekarang, kapan lagi bisa mendapatkan minyak tanah. Masak harus menunggu BBM naik," kata Muyasaroh, di sela-sela mengantri minyak tanah di sebuah pangkalan di Bandung, Tulungagung.
Mereka ini mengantre di pangkalan sejak subuh. Awalnya mereka hanya menaruh jerigen berkapasitas lima sampai 20 liter. Namun begitu melihat truk tangki pengangkut minyak tanah datang mereka langsung pasang badan membentuk antrean.
"Ketinggalan Pak, sudah dari tadi mengantre, masak nggak kasihan," kata seorang perempuan tua yang tak bisa menunjukkan kartu kendalinya saat ditanya pemilik pangkalan.
Sementara itu pemilik pangkalan, Khoirudin mengaku selama ini pasokan dari Pertamina tetap normal, yakni sebanyak 5.000 liter per hari.
"Dalam situasi normal kadang sampai dua hari baru habis, sekarang dalam waktu dua jam sudah ludes karena diborong warga," katanya menuturkan.
Menurut dia, pembatasan yang dilakukan Pertamina tidak efektif lantaran warga mengantre tidak seorang diri, tapi juga membawa anggota keluarganya sendiri untuk ikut mengantre di pangkalan.
Meski terjadi antrean panjang, Khoirudin mengaku, tetap menjual minyak tanah dengan harga Rp2.800 per liter.