CIREBON, SELASA- Kebijakan pembatasan pembelian solar untuk bus-bus umum oleh Pertamina yang sudah diterapkan di semua SPBU akan dijawab Organda (Organisasi Pengusaha Angkutan di Jalan) Cirebon dengan rencana mogok massal. Sebab, bus akan lebih sering berhenti untuk membeli solar, sehingga waktunya menjadi banyak terbuang.
"Kami protes keras. Pertamina seharusnya tidak gegabah mengeluarkan kebijakan yang membuat seluruh bus umum harus kehilangan waktu, padahal setiap bus mempunyai jadwal pemberangkatan dan kedatangan yang sudah ditentukan," kata Ketua Organda Cirebon Iskandar Agus Banaji, di Cirebon, Selasa (20/5).
Menurut Iskandar, keluarnya surat edaran Pertamina soal kuota pembelian solar tanggal 15 Mei 2008 itu membuat resah pengusaha bus, karena dipastikan bus harus lebih sering masuk ke SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) dan pasti juga mengurangi kenyamanan penumpang.
Dalam surat edaran itu, bus-bus angkutan umum dibatasi hanya boleh membeli solar Rp 250.000 atau 50-60 liter untuk jurusan Cirebon-Bandung atau Cirebon-Jakarta.
Menurut Iskandar, kuota pembelian seharusnya hanya diberlakukan untuk kendaraan pribadi atau truk angkutan barang yang tidak dibatasi oleh jadwal operasi. "Kami telah melayangkan surat agar Pertamina mencabut kuota itu untuk bus-bus umum. Bila tidak, terpaksa kami ambil sikap tegas. Kita akan minta seluruh pengelola bus untuk mogok," katanya.
Iskandar mengungkapkan, pihaknya juga mengajukan protes secara lisan ke Pertamina, namun mendapat jawaban bahwa aturan itu hanya berlaku untuk kondisi "rush" atau pembelian melonjak. "Kalau memang sifatnya hanya antisipasi untuk rush, mestinya dituangkan langsung dalam surat itu, ini supaya tidak menimbulkan salah penafsiran bahwa aturan itu berlaku juga dalam keadaan normal," tegasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang