Pemakaman Itu Bukti Konsistensi Bang Ali

Kompas.com - 21/05/2008, 07:14 WIB

JAKARTA, RABU - Mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Selasa (20/5) pukul 18.30 waktu setempat atau pukul 17.30 WIB, meninggal dunia setelah dirawat selama sebulan di RS Gleneagles, Singapura. Ali Sadikin meninggal dalam usia 82 tahun. Jenazahnya akan dibawa pulang ke Jakarta, Rabu ini pukul 07.00 waktu Singapura.

Ali Sadikin, yang akrab dipanggil dengan Bang Ali, kembali ke Jakarta, kota yang pernah dipimpinnya dan akan melindungi jasadnya selamanya.

Boy Benardi Sadikin, putra Ali Sadikin, kepada wartawan di rumah duka, Jalan Borobudur Nomor 2, Jakarta Pusat, Selasa malam, menuturkan, jenazah akan disemayamkan di rumah duka, Rabu, dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

Menurut putra keempat almarhum, Benyamin Sadikin, Bang Ali menderita sakit sejak lama. ”Bapak dirawat selama sebulan di Singapura. Di sana didampingi kakak saya, Iwan, dan sekretaris Bapak,” katanya.

Benny menambahkan, pemakaman di Jakarta adalah sesuai pesan Bang Ali. ”Sesuai pesan Bapak, rencananya jenazah Bapak ditumpangkan di makam ibu saya, Nani Sadikin,” ujarnya.

Sanuji W, mantan pegawai di rumah Bang Ali, menambahkan, Bang Ali adalah orang yang tegas dan konsisten. Pemakamannya pun menjadi bukti konsistensi Bang Ali dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku.

”Pak Ali minta dimakamkan dengan cara ditumpangkan. Ia konsekuen dengan usulannya dahulu, yaitu mengingat lahan Jakarta semakin sempit, makam bisa ditumpangi,” kata Sanuji.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Wardana menjelaskan, jenazah Bang Ali akan diterbangkan ke Jakarta, Rabu sekitar pukul 07.00 atau penerbangan pertama dari Singapura. Selama ini Bang Ali dirawat di RS Gleneagles karena sakit lever dan komplikasi sakit paru.

Siap membantu

Hingga semalam, suasana di rumah duka masih sibuk mempersiapkan kedatangan jenazah dan tamu yang akan datang. Tenda dan kursi baru dipasang dan belum ada karangan bunga. Sejumlah tamu mulai berdatangan, seperti pengamat sosial Imam Prasodjo, Wali Kota Jakarta Pusat Sylviana Murni, dan aktor Sys NS.

Bang Ali meninggalkan lima putra dan 12 cucu. Istri pertamanya, Ny Nani, sudah meninggal dunia. Istri kedua Bang Ali adalah Ny Linda Syamsuddin M.

Imam Prasodjo mengatakan, selaku tetangga, Ali Sadikin di tengah kesehatannya yang menurun selalu siap membantu. Saat terjadi kebakaran di kawasan belakang rumahnya, Bang Ali langsung mengunjungi dan mengirimkan genteng agar warga bisa segera membangun rumah.

”Dia juga bilang kepada saya, setiap sekolah yang berupaya kamu bangun, saya akan sumbang Rp 10 juta. Bang Ali seperti itu, ia langsung action, tak banyak ngomong. Selaku pemimpin, ia mau turun ke bawah dan mau mendorong orang,” ujarnya.

Imam mengakui, Ali Sadikin juga sangat menghargai demokrasi. ”Meskipun ia pendiri LBH, ia tidak marah ketika LBH sering mengkritik kebijakan yang dikeluarkannya. Itulah Bang Ali,” kata Imam.

Bagi Chris Siner Keytimu, anggota Kelompok Kerja (Pokja) Petisi 50, kepergian Ali Sadikin adalah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Bang Ali merupakan sosok yang komitmennya kepada bangsa dan negara tak perlu diragukan. ”Ia prajurit yang negarawan,” ujar Chris, menggambarkan sosok Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 itu.

Di tengah kondisi tubuh yang terus merosot, ia masih terus mendiskusikan kondisi bangsa. Sebelum dirawat di Singapura, Chris mengatakan, dirinya seminggu sekali bertemu dengan Bang Ali untuk berbicara soal kondisi bangsa. ”Ia selalu menanyakan bagaimana nasib rakyat dan meminta laporan mengenai agenda yang dibahas Pokja Petisi 50,” ujar Chris.

Selama menjabat Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin dinilai banyak berjasa dalam pengembangan Jakarta sebagai metropolitan. Ia adalah penggagas pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, pendiri Taman Ismail Marzuki, Taman Impian Jaya Ancol, Gelanggang Mahasiswa, Pekan Raya Jakarta, Gelanggang Remaja, Pusat Perfilman Usmar Ismail, dan sejumlah bangunan bersejarah lain, seperti Gedung Joeang 1945 dan Gedung Sumpah Pemuda.

Berpulang dalam sepi

Selain Ali Sadikin, Selasa, Indonesia juga kehilangan seorang putra terbaiknya, SK Trimurti. Pejuang dan mantan Menteri Perburuhan itu wafat dalam sepi di RS Pusat Angkatan Darat, Jakarta. Masa akhir itu dilewati dengan Heru Baskoro, putranya.

Sebelum wafat, dalam usia 96 tahun, SK Trimurti sempat dirawat selama dua minggu. Menurut Heru Baskoro, SK Trimurti sempat dirawat di ruang perawatan intensif karena tekanan darahnya sangat rendah.

Namun, kondisi mantan istri mendiang penulis naskah proklamasi Sayuti Melik itu sempat membaik dan dipindahkan ke ruang perawatan umum. ”Selasa pagi saya ditelepon dari rumah sakit yang mengabarkan kondisi Ibu kembali kritis,” kata Heru.

Sesampai di RS, Heru melihat kondisi ibunya parah. SK Trimurti mengalami pendarahan karena kejang pada bagian perutnya. Wartawan senior itu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 18.20.

Jenazah SK Trimurti lalu disemayamkan di rumah duka RSPAD, Jakarta. Namun, hingga pukul 22.30, ketika jenazah saksi Proklamasi 17 Agustus 1945 itu dimandikan, belum banyak sahabat dan pejabat negara yang menjenguk. Semalam tampak Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, dan kerabat dekat almarhumah. Sebelum dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, jenazah SK Trimurti disemayamkan di Gedung Pola, Jakarta.

Rumah duka pun, rumah bernomor F/1001 di ujung Jalan Palem V, Jakasetia, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, terlihat sepi. Hanya lampu di depan garasi yang menyala.

”Semua ke Jakarta,” ujar Ny Sari (32), tetangga sebelah rumah itu, menyapa. ”Eyang meninggal tadi petang,” katanya. (vin/fer/oki/bdm/ ana/jos/cok)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau