NEW YORK, KAMIS - Minyak mentah tiada henti membuat rekor harga baru. Pada sesi perdagangan Rabu di New York (Kamis pagi WIB), harga emas hitam itu melambung lagi menembus angka 133 dollar AS, dengan angka tertinggi 133,72 dollar AS per barrel untuk pengiriman bulan Juli.
Harga baru tersebut dipicu oleh berbagai sebab. Pelemahan nilai dollar terhadap euro yang masih berlanjut hingga Rabu menjadi salah satu penyebabnya. Para investor memilih komoditas laris seperti minyak untuk meng-hedge inflasi di AS dan lemahnya dollar.
Faktor lain adalah laporan Departemen Energi AS yang menyebut bahwa cadangan minyak mentah dan bensin di AS pada pekan lalu turun, yang melebihi 5 juta barrel. Penurunan ini di luar perkiraan para analis.
Selain itu, belum ada tanda-tanda penurunan permintaan dari sejumlah negara berkembang yang tengah haus minyak seperti China, dan India. Sedangkan di sisi lain, belum juga ada isyarat pasokan baru yang lebih banyak dari negara produsen.
Gempa dahsyat di China juga menjadi salah satu sebab kenaikan harga minyak karena sejumlah pembangkit listrik yang menggunakan batu bara mengalami kerusakan sehingga harus diganti mesin pembangkit berbahan bakar minyak diesel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang