JAKARTA, JUMAT - Di perebutan Piala Thomas-Uber di Jakarta, pekan lalu, persaingan Indonesia dan Malaysia sangat terasa. Baik lewat makian mau pun lewat senyuman.
Konflik politik yang beberapa tahun ini terjadi antara Malaysia dan Indonesia memang menajdi penyebabnya. Sejak kasus-kasus penyiksaan TKI, kasus Sipadan-Ligitan, kasus Ambalat hingga kasus hak cipta menyangkut wayang, reog Ponorogo mau pun lagu Rasa Sayange. Semuanya ini menimbulkan rasa anti pati terhadap hal-hal yang berbau Malaysia.
Di istora suasana antipati itu jelas terlihat. Setiapkali tim Malaysia -baik Thomas mau pun Uber- bermain penonton mendukung lawan-lawan mereka. Dukungan bukan hanya dengan tepuk tangan dan sorakan setiapkali bola pasukan Malaysia mati, namun juga dengan cercaan. Para penonton kadang berteriak, "Maling pulang...Maling pulang ..." setiapkali putera-puteri Malaysia tengah berjuang. Sebagian lagi mengejek dengan menyanyikan lagu "Rasa Sayange" dengan lirik yang diubah-ubah dan disesuaikan dengan masih berbau "maling-maling" tadi.
Kubu Malaysia bukannya tidak mendapat dukungan. Puluhan warga dan mahasiswa Malaysia di Indonesia memberi dukungan setiapkali para pemainnya bertanding. Mereka mengenakan seragam kuning yang merupakan warna tim-tim olahraga Malaysia. Sementara di belakang mereka terpampang spanduk besar bertuliskan, "Selamat berjuang, wira-wira negara."
Untung saja tidak pernah terajdi bentrokan antara pendukung kedua negara ini. Para penonton yang datang menyaksikan pertandingan putaran final Piala Thomas dan Uber di Istora Senayan memang lebih tertib. Mereka datang semata untuk mendukung tim Indonesia bertanding.
Kondisi istora Gelora Bung Karno, Senayan, juga menunjang sehingga kepala tetap dingin. Berbeda dengan waktu-waktu lalu, istora sekarang tampil bersih, lengkap dengan penyejuk ruangan. Sementara penonton yang tidak terlalu padat (sebelum semifinal) membuat para penonton lebih leluasa dan tidak berdesakan.
Padahal istora Senayan pada masa lalu adalah semacam "neraka" buat para pemain Malaysia. Yang paling terkenal tentunya pada Piala Thomas 1967, saat Indonesia bertemu Malaysia di final. Penonton yang masih terbawa eforia "Ganjang Malaysia" mencemooh para pemain Malaysia yang antara lain diperkuat Tan Aik Huang. Dukungan ini kemudian menjadi bumerang sehingga pertandingan dihentikan oleh wasit kehormatan Herbert Scheele dan Indonesia kemudian dinyatakan kalah.
Sementara yang masih segar tentunya saat final Piala Thomas antara Indonesia dan Malaysia di istora pada 1994. Para penonton meneror para pemain Malaysia, sehingga pemain tunggal Ong Ewe Hock bermain asal-asalan dan Indonesia menang telak 3-0.
Namun para pemain Indonesia juga menghadapi situasi serupa apabila bertanding di stadion negara Kuala Lumpur, Malaysia. Di final Piala Thomas 1970, para pemain Indonesia mendapat teror. Hanya karena tim kita terlampau perkasa, dengan natara lain juara All England Rudy Hartono, Indonesia menang telak 7-2. Pada final di Kuala Lumpur 1992, giliran Alan Budi Kusuma cs mendapat tekanan penonton. Para penonton menggunakan poster-poster bernada mengejek seperti,"Garuda Falls" untuk melemahkan mental bertanding pemain Indonesia. Nyatanya, Malasyia menang 3-2 dan merebut Piala Thomas kembali setelah 25 tahun.
Untung di Jakarta, pekan lalu, tim Uber dan Thomas Indonesia tidak bertemu dengan tim Malaysia. Tim Uber dan Thomas Indonesia lolos ke semifinal, namun bertemu Jerman dan Korea Selatan. Sementara Malaysia hanya meloloskan tim Thomas yang bertemu juara bertahan China di semifinal. Namun usai semifinal, masih ada cerita lanjutan.
Ketika tim Thomas Malaysia kalah kalah 2-3 dari tim China penonton bersorak. Para wartawan Malaysia tampak murung dan uring-uringan sementara wartawan Indonesia tertawa-tawa, apalagi merasa yakin Indonesia bisa melewati Korea Selatan di pertandingan berikutnya.
Namun optimisme itu kemudian mengempis dan berubah menjadi keluhan ketika ganda andalan Markis Kido/Hendra Setiawan kalah dan Indonesia tertinggal 0-2. Para wartawan Indonesia mondar mandir ke dalam istora dan press room sambil bergurau bahwa situasi di lapangan berbeda dengan monitor televisi yang ada di press room. "Di lapangan Indonesia unggul 2-0!"
Ketika Taufik Hidayat tidak mampu menang dan Indonesia kalah telak 0-3, makian keluar dari mulut para wartawan lokal. Sementara wartawan Malaysia, entah takut entah memberi simpati, hanya menahan senyum. Sebagian lagi berbisik-bisk di antara mereka,"At least kita masih dapat dua point. Dari China (baca Cay-Na) pula."
Dua tahun lagi, Malaysia akan menjadi tuan rumah penyelanggaraan Piala Thomas dan Uber. Persaingan kedua negara ini masih mungkin saja terjadi. Semoga saja tim kita masih mampu bersaing di tingkat elite dunia! (Tjahjo Sasongko)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang